Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
DALAM ritual Hindu banyak burung yang dijadikan sarana
sakral. Baik burung yang dikorbankan mau pun burung yang menjadi alat
kelengkapan ritual seolah-olah burung itu masih hidup. Untuk yang dikorbankan,
misalnya, ayam dan bebek. Binatang unggas ini dikorbankan untuk ritual Bhuta
Yadnya seperti mecaru, misalnya.
Ada burung yang seolah-olah masih perkasa padahal burung
itu sudah mati. Dalam upacara Pitra Yadnya, ada orang yang ikut naik ke atas wadah sambil mengibas-ibaskan burung
(mati) yang disebut Manuk Dewata. Manuk Dewata dipercaya sebagai burungnya para dewa
dan dianggap sebagai wahana untuk mengantarkan Sang Atman dari berbagai
rintangan untuk menuju Swah Loka.
Yang unik, burung ini tidak hidup di Pulau
Bali di mana ritual Hindu itu marak berlangsung. Burung ini hidup di tanah
Papua dan di sana disebut burung cendrawasih. Tidak ada dokumen yang bisa
ditelusuri kenapa para tetua kita di masa lalu menjadikan burung cenderawasih sebagai
Manuk Dewata. Banyak yang menduga karena burung cenderawasih dijuluki Burung
Sorga karena keindahan mata dan bulunya. Karena sorga berkaitan erat dengan
ritual Pitra Yadnya maka jadilah burung itu dipakai.
Ini yang membuat Manuk Dewata tidak banyak
yang memilikinya. Karena burung cenderawasih adalah burung yang dilindungi
populasinya. Jangankan dibawa keluar Papua dalam keadaan hidup, burung
cendrawasih yang sudah mati pun tak boleh diselundupkan ke luar Papua.
Meski Manuk Dewata berarti burungnya para
dewa, tidak sama dengan burung yang
menjadi kendaraan para dewa. Para dewa dalam mitologi Hindu punya kendaraan
masing-masing yang berbeda satu sama lain. Ada pun yang kendaraannya burung
adalah Dewa Wisnu karena itu garuda yang menjadi tunggangan Dewa Wisnu disebut
Garuda Wisnu Kencana. Tetua kita di Bali juga membuat pakem yang jelas tentang
gambaran phisik dari Garuda Wisnu Kencana ini. Karena sesuatu yang sakral, patung
Garuda Wisnu Kencana pun banyak dibuat para seniman dan orang tahu cara menempatkannya,
tak mungkin patung ini ditaruh di dapur, misalnya.
Dalam kitab-kitab Purana, garuda itu ada banyak. Ada yang moncongnya tajam, disebut Garuda
Wilmana, kendaraan para raksasa. Ada garuda kakak beradik, Sempati dan
Jatayu. Keduanya adalah burung yang menebarkan sifat cinta kasih, rela mengorbankan
nyawanya untuk sesuatu yang mulia. Ini adalah simbol bagaimana makhluk ciptaan Tuhan itu berusaha meningkatkan status
kehidupannya. Dari burung (garuda), lalu berkorban untuk suatu yadnya yang mulia dan pada kelahiran kelak akan menjadi makhluk Tuhan yang lebih
tinggi statusnya.
Dalam cerita Ramayana di Bali, yang ditonjolkan adalah peran Jatayu.
Jatayu berusaha menyelamatkan Dewi Sita dari tangan Rahwana, tetapi kalah
bertarung. Dan Jayatu yang sekarat kemudian ditemukan oleh Rama. Sebelum ajal,
Jatayu memberitahu siapa yang melarikan Sita. Jatayu mencapai moksa berkat doa
restu Rama, titisan Dewa Wisnu.
Sempati, kakak Jatayu, kalah bertarung melawan Rahwana sebelum Rahwana
menculik Dewi Sita. Sempati ditemukan oleh pasukan kera yang dipimpin Hanoman
ketika menuju Alengka. Keadaan Sempati sudah mengenaskan, seluruh bulunya habis
karena ditebas Rahwana. Sebaliknya, pasukan kera itu mengalami kebutaan karena
racun Sayempraba. Pertemuan ini akhirnya saling memberikan pertolongan.
Sempati yang sudah dalam keadaan gundul masih bertahan hidup karena punya kekuatan dalam urat
nadinya, yakni mantram dari Resi Rawatmaja yang begitu
sakti, bisa untuk berbagai penyembuhan. Untuk menolong pasukan kera, Sempati mengeluarkan mantram Resi Rawatmaja. Ia berhitung, kera lebih berguna
sementara dirinya toh tak bisa terbang. Seluruh kera termasuk Hanoman menjadi sehat walafiat dan berangkat menuju Alengka. Setelah pasukan kera itu
hilang dari pandangannya, Sempati menemui ajalnya karena kekuatan urat nadinya
telah habis. Ia moksa karena di akhir hidupnya mengabdi kepada Rama, titisan
Wisnu.
Bagaimana dengan simbol negara Garuda Pancasila? Sultan Hamid
II yang merancang lambang ini, mengambil
dari burung elang Jawa (spizaetus bartelsi) yang juga langka. Garuda ini pun
sesungguhnya “disakralkan” dengan undang-undang. Tak ada yang berani mengubah
wujudnya, misalnya, kepalanya menoleh ke kiri.
Jadi sesuatu yang sakral
baik sakral secara ritual mau pun sakral secara kenegaraan, janganlah diusik.
Maka kita sudah kecolongan karena ada taman wisata yang diberi nama Garuda
Wisnu Kencana, padahal tempat itu dijadikan pertunjukan musik aneka macam yang
tak berkaitan dengan ritual Hindu. (*)


Bolavita Adalah Agen Sabung Ayam Online Pertama Di Indonesia Yang Menyeidkan permainan Judi Sabung Ayam Secara Online Yang Tayang Live Langsung dari Arena Sabung Ayam Di Beberapa Negara Asia.
BalasHapusTersedia Judi Sabung Ayam Filipina, Sabung Ayam Laos, Sabung Ayam Peru, Sabung Ayam Dominika, Sabung Ayam Thailand.
*Nikmati Bonus 100% Khusus Sabung Ayam Online
Tersedia Pendaftaran Via :
» GOPAY | OVO | LINKAJA | DANA | SAKUKU | PULSA | SEMUA JENIS REKENING BANK DI INDONESIA.
PENDAFTARAN TERSEDIA 24 JAM :
DAFTAR DARI SITUS : http://bit.ly/daftarlinkaja
DAFTAR DARI LIVECHAT : https://bit.ly/2VD8fER
DAFTAR DARI WHATSAPP : https://bit.ly/31SZvwy