Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
HIDUP di Indonesia adalah hidup bersama gempa. Para
ahli mengatakan, dilihat secara geologi, baik dari lempengan dan patahan yang
ada, gempa bumi memang tak bisa dihindari terjadi di Indonesia. Itu disebabkan
posisi Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia,
Indoaustralia dan Pasifik.
Tapi gempa tak bisa
diprediksi kapan terjadinya. Para ahli hanya bisa menduga-duga gempa akan
datang karena melihat pergerakan lempeng bumi. Gempa besar di tahun 2018 dengan
kekuatan sekitar 7 SR sudah diprediksi dalam pertemuan tahunan Masyarakat Geologi Amerika oleh Roger Bilham
dari University of Colorado dan
Rebecca Bendick dari University of Montana. Di mana gempanya? Itu yang tidak
diketahui. Ternyata di Lombok Utara baru-baru ini. Jadi ramalan Bilham tak
sepenuhnya salah.
Yang
salah adalah kita terlalu mengkaitkan setiap bencana termasuk gempa dengan
hal-hal yang berbau tahyul. Bahkan digabungkan tahyul itu dengan muatan
politik. Ini yang bikin kita semakin bodoh dan tidak arif mencermati bencana
gempa. Misalnya, mengkaitkan gempa Lombok dengan gerakan Gubernur NTB Tuan Guru
Bajang yang tiba-tiba hengkang dari Partai Demokrat untuk mendukung Presiden
Jokowi. Ini dilontarkan oleh pendukung lawan Jokowi. Sementara pendukung Jokowi
ada pula yang mengkaitkan gempa Lombok dengan prilaku Fahri Hamzah, wakil ketua
DPR dapil NTB, yang selalu menyerang Jokowi. Keduanya kaitan yang kebablasan.
Dalam
komunitas masyarakat Hindu gempa pun selalu dikait-kaitkan dengan berbagai
keadaan, seolah-olah gempa bumi itu adalah pertanda peringatan dari Tuhan
bagaimana kita seharusnya melangkah. Jika itu dimaksudkan untuk langkah
antisipasi ke masa mendatang, tentu tidak jadi masalah. Malahan bagus karena
kita diharuskan belajar dari pengalaman. Misalnya, kalau tahu ada gempa yang
bisa merobohkan bangunan maka perlu membuat bangunan yang tahan gempa. Jika
tahu ada gempa yang membuat banyak tanah longsor maka jangan bikin rumah di
tebing-tebing. Pemda Bali sebenarnya sudah membuat pedoman bagaimana membangun
rumah tahan gempa setelah gempa besar terjadi pada tahun 1976 yang
memporak-porandakan Bali Utara. Tapi karena lama tak ada gempa besar pedoman
itu sudah diabaikan.
Masyarakat
Bali memiliki banyak lontar yang mempersoalkan gempa bumi, bahkan sampai pada
ramal-meramalkan. Kita harus arif memperlakukannya dan tidak menelan
mentah-mentah apa yang ditulis di lontar itu. Maklum lontar adalah sarana
tulis-menulis di masa lalu di mana tetua kita menyalurkan opininya. Tentu ada
opini yang bagus ada opini yang asal-asalan. Hal seperti ini tak cuma ada di
Bali, di komunitas lain seperti di Jawa, juga banyak ada primbon yang mengulas
“apa arti gempa” dan tentu saja dikait-kaitkan dengan kepercayaan setempat.
Salah
satu lontar yang berisi uraian tentang gempa bumi adalah lontar Roga Sangara
Bumi. Lontar ini isinya tak cuma masalah gempa, juga bencana yang lainnya.
Uraiannya pun bukan cuma sekadar ramalan, ada juga kaitan dengan ritual apa
yang dilakukan setelah bencana.
Ada pun
tentang gempa dirinci berdasarkan sasih. Setiap sasih ada dewa yang melakukan
yoga semadhi dan jika pada saat itu terjadi gempa maka pertandanya bisa
beda-beda antar sasih. Misalnya, gempa yang terjadi minggu lalu dengan episentrum
di Lombok Utara adalah gempa di Sasih Karo. Yang melakukan yoga semadhi adalah
Bhatari Gangga. Apa rinciannya? Akan terjadi hujan lebat disertai angin dan
orang-orang banyak melakukan fitnah.
Selintas
“ramalan” ini tepat, bukankah saat gempa dan beberapa hari kemudian terjadi
hujan, meski tidak lebat? Bukankah saat ini banyak sekali fitnah bertebaran di
media sosial menjelang pemilu serentak? Itu kalau dikait-kaitkan. Tetapi jika
kita arif menyikapi isi “ramalan” marilah kita tidak melakukan fitnah terhadap
siapa pun.
Harap
dicatat pula “ramalan” gempa tidak sama di setiap lontar. Gempa di Sasih Kapat
menurut lontar Roga Sangara Bumi adalah Bhatara Brahma meyoga dan banyak orang
desa bertengkar dan penuh kecurigaan. Tanaman banyak yang rusak. Namun lontar
lain menyebutkan, gempa di Sasih Kapat dan Sasih Kelima membuat bumi ini rahayu
dan apa pun yang ditanam hidup subur.
Apa perlu
kita “perang lontar” dan mengambil yang baik-baik saja, sementara gempa bumi
adalah peristiwa alam biasa yang terjadi karena energi bumi membutuhkan
kestabilan. Tak semua lontar harus dipercaya. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar