12 Agustus 2018

Belajar Arif Mencermati Gempa


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

HIDUP di Indonesia adalah hidup bersama gempa. Para ahli mengatakan, dilihat secara geologi, baik dari lempengan dan patahan yang ada, gempa bumi memang tak bisa dihindari terjadi di Indonesia. Itu disebabkan posisi Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik.
 
Tapi gempa tak bisa diprediksi kapan terjadinya. Para ahli hanya bisa menduga-duga gempa akan datang karena melihat pergerakan lempeng bumi. Gempa besar di tahun 2018 dengan kekuatan sekitar 7 SR sudah diprediksi dalam pertemuan tahunan Masyarakat Geologi Amerika oleh Roger Bilham dari University of Colorado  dan Rebecca Bendick dari University of Montana. Di mana gempanya? Itu yang tidak diketahui. Ternyata di Lombok Utara baru-baru ini. Jadi ramalan Bilham tak sepenuhnya salah.

Yang salah adalah kita terlalu mengkaitkan setiap bencana termasuk gempa dengan hal-hal yang berbau tahyul. Bahkan digabungkan tahyul itu dengan muatan politik. Ini yang bikin kita semakin bodoh dan tidak arif mencermati bencana gempa. Misalnya, mengkaitkan gempa Lombok dengan gerakan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang yang tiba-tiba hengkang dari Partai Demokrat untuk mendukung Presiden Jokowi. Ini dilontarkan oleh pendukung lawan Jokowi. Sementara pendukung Jokowi ada pula yang mengkaitkan gempa Lombok dengan prilaku Fahri Hamzah, wakil ketua DPR dapil NTB, yang selalu menyerang Jokowi. Keduanya kaitan yang kebablasan.


Dalam komunitas masyarakat Hindu gempa pun selalu dikait-kaitkan dengan berbagai keadaan, seolah-olah gempa bumi itu adalah pertanda peringatan dari Tuhan bagaimana kita seharusnya melangkah. Jika itu dimaksudkan untuk langkah antisipasi ke masa mendatang, tentu tidak jadi masalah. Malahan bagus karena kita diharuskan belajar dari pengalaman. Misalnya, kalau tahu ada gempa yang bisa merobohkan bangunan maka perlu membuat bangunan yang tahan gempa. Jika tahu ada gempa yang membuat banyak tanah longsor maka jangan bikin rumah di tebing-tebing. Pemda Bali sebenarnya sudah membuat pedoman bagaimana membangun rumah tahan gempa setelah gempa besar terjadi pada tahun 1976 yang memporak-porandakan Bali Utara. Tapi karena lama tak ada gempa besar pedoman itu sudah diabaikan.

Masyarakat Bali memiliki banyak lontar yang mempersoalkan gempa bumi, bahkan sampai pada ramal-meramalkan. Kita harus arif memperlakukannya dan tidak menelan mentah-mentah apa yang ditulis di lontar itu. Maklum lontar adalah sarana tulis-menulis di masa lalu di mana tetua kita menyalurkan opininya. Tentu ada opini yang bagus ada opini yang asal-asalan. Hal seperti ini tak cuma ada di Bali, di komunitas lain seperti di Jawa, juga banyak ada primbon yang mengulas “apa arti gempa” dan tentu saja dikait-kaitkan dengan kepercayaan setempat.

Salah satu lontar yang berisi uraian tentang gempa bumi adalah lontar Roga Sangara Bumi. Lontar ini isinya tak cuma masalah gempa, juga bencana yang lainnya. Uraiannya pun bukan cuma sekadar ramalan, ada juga kaitan dengan ritual apa yang dilakukan setelah bencana.

Ada pun tentang gempa dirinci berdasarkan sasih. Setiap sasih ada dewa yang melakukan yoga semadhi dan jika pada saat itu terjadi gempa maka pertandanya bisa beda-beda antar sasih. Misalnya, gempa yang terjadi minggu lalu dengan episentrum di Lombok Utara adalah gempa di Sasih Karo. Yang melakukan yoga semadhi adalah Bhatari Gangga. Apa rinciannya? Akan terjadi hujan lebat disertai angin dan orang-orang banyak melakukan fitnah.

Selintas “ramalan” ini tepat, bukankah saat gempa dan beberapa hari kemudian terjadi hujan, meski tidak lebat? Bukankah saat ini banyak sekali fitnah bertebaran di media sosial menjelang pemilu serentak? Itu kalau dikait-kaitkan. Tetapi jika kita arif menyikapi isi “ramalan” marilah kita tidak melakukan fitnah terhadap siapa pun.

Harap dicatat pula “ramalan” gempa tidak sama di setiap lontar. Gempa di Sasih Kapat menurut lontar Roga Sangara Bumi adalah Bhatara Brahma meyoga dan banyak orang desa bertengkar dan penuh kecurigaan. Tanaman banyak yang rusak. Namun lontar lain menyebutkan, gempa di Sasih Kapat dan Sasih Kelima membuat bumi ini rahayu dan apa pun yang ditanam hidup subur.

Apa perlu kita “perang lontar” dan mengambil yang baik-baik saja, sementara gempa bumi adalah peristiwa alam biasa yang terjadi karena energi bumi membutuhkan kestabilan. Tak semua lontar harus dipercaya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar