Mpu Jaya Prema
PILKADA di Bali berlangsung dengan damai. Wayan
Koster dengan pasangannya Tjok Raka Ardhana Sukawati memenangi pilkada ini.
Kita wajib mengucapkan selamat kepala gubernur dan wakil gubernur Bali yang
baru. Agustus nanti akan dilantik bersamaan dengan habisnya masa jabatan
Gubernur Made Mangku Pastika.
Rai Mantra dengan pasangannya Ketut Sudikertha secara
kesatria mengakui kekalahannya. Tak ada gugatan apa pun. Bahwa ada riak-riak
kecil tentu hal yang sangat biasa, namanya saja “sebuah pertandingan”. Namun
setelah “pertandingan” selesai para pemain haruslah saling merangkul.
Demikianlah di dunia yang beradab bahwa semua perbedaan gagasan, ide dan
program tak harus menyebabkan perseteruan yang panjang.
Lalu apa yang harus dilakukan setelah pilkada ini?
Mari bergandengan tangan untuk membangun Bali yang damai. Bukan sekadar damai
tetapi Bali yang nyaman untuk dijadikan tempat tinggal bersama. Damai saja tak
cukup tanpa ada kenyamanan yang membuat kita bebas bergerak.
Wayan Koster sudah mengatakan setelah kemenangan itu
diraih, dalam waktu secepatnya dia akan bekerja. Prioritas yang akan
dilakukannya adalah membangun infrastruktur. Konon dia sudah mengatakan itu
kepada Presiden Joko Widodo dan ditanggapi dengan baik. Ini memang sangat
mendesak. Infrastruktur yang dimaksudkan adalah jalan. Bali sangat minim dengan
jalan yang menghubungkan antar kabupaten maupun antar provinsi. Penduduk
bertambah, laju ekonomi terus bergerak, lalu lintas kendaraan semakin padat,
tetapi pembangungan jalan tidak berkembang.
Apa pun yang akan dibangun, jalan tol, jalur kereta
api, atau cuma menambah jalan arteri semuanya akan membuat kemacetan
terhindarkan di Bali. Sekarang perhatikan saja jalur Denpasar – Gilimanuk yang
jalannya tak bertambah sementara lalu lintas semakin padat. Tidak ada pula
jalan alternatif. Maka begitu kendaraan besar dari Jawa mogok di tikungan
sepanjang Denpasar – Gilimanuk maka kemacetan tak terhindarkan. Dan ini terjadi
hampir tiap hari. Memang ada dilema. Kalau truck besar itu dibatasi konon
perekonomian di Bali akan terganggu. Tetapi kalau tidak dibatasi sementara
jalan alternatif tidak ada, kemacetan itu yang terjadi. Belum lagi kerusakan
jalan yang diakibatkan konstruksi jalan tak sesuai dengan beban kendaraan.
Kemacetan sebenarnya tak hanya di jalur Denpasar –
Gilimanuk. Juga di kawasan lainnya termasuk kawasan wisata. Ini membutuhkan
penambahan infrastruktur jalan. Jika pun ini tak bisa dilakukan sesuai dengan
kebutuhan yang ada karena bertambahnya jumlah kendaraan, seharusnya ada
kebijakan lain. Misalnya membatasi jumlah kendaraan di Bali. Ini pun juga
dilema. Pemda Bali selama ini ternyata sebagian besar pendapatan asli daerah
(PAD) bersumber dari pajak kendaraan bermotor. Jadi demi meningkatkan PAD maka
Pemda Bali secara tak langsung membiarkan jumlah kendaraan di Bali semakin
banyak. Karena makin banyak kendaraan makin besar pajaknya. Kebijakan ini
harusnya ditinggalkan dan carilah PAD dari sumber lain. Bayangkan dalam sebuah
riset menyebutkan jumlah kendaraan bermotor (khususnya sepeda motor) di Bali
lebih banyak dibandingkan di Jawa Tengah yang punya 35 kabupaten/kota.
Sekaligus ini membuktikan bahwa angkutan umum di Bali tak pernah dibangun
secara terpadu.
Konsep Wayan Koster yang sering digaungkan bahkan
dijadikan ikon dalam kampanye adalah “satu jalur” dan “satu pulau satu kelola”.
“Satu jalur” maksudnya dari pejabat bupati, gubernur sampai presiden berasal
dari kelompok atau partai yang sama. Setidaknya satu gagasan. “Satu pulau satu
kelola” maksudnya Bali harus dibangun secara terpadu dengan satu manajemen,
dalam hal ini adalah gubernur yang memegang kendali.
Konsep ini bagus jika diterjemahkan atau diartikan dalam
bentuk kordinasi yang baik. Bukan “satu jalur” dalam satu kelompok atau satu
partai. Presiden dari PDIP, gubernur harus PDIP, bupati juga harus PDIP. Bukan
begitu karena ini akan bertentangan dengan demokrasi yang ada. Kalau “satu
jalur” ini diteruskan makan camat dan kepala desa harus kader PDIP juga. Nanti
bisa kebablasan, jika bupatinya PDIP sementara masyarakat di sebuah desa bukan
pendukung PDIP maka pembangunan di sana tidak diperhatikan. Secara samar-samar
hal ini pernah terjadi di sebuah kabupaten. Kalau pengertian “satu jalur” itu
demikian, selain bertentangan dengan demokrasi akan membuat pemimpin daerah
(bupati dan gubernur) bukan pemimpin masyarakat. Bupati dan Gubernur Bali
adalah milik semua golongan, bukan lagi milik partai begitu dilantik.
Konsep “satu pulau satu kelola” apakah ini tak
bertentangan dengan undang-undang tentang pemerintahan daerah di mana otonomi
berada di kabupaten/kota? Sesungguhnya untuk Bali memang gagasan ini bagus
sekali karena Bali itu kecil dan pendapatan masyarakatnya jomblang. Ada yang
kabupatennya kaya seperti Badung dan Denpasar, ada yang sedang dan ada yang
miskin. Turis berseliweran di seluruh Bali tetapi pajak dari turis menumpuk di
Badung dan Denpasar. Karena itu PAD Badung luar biasa banyaknya dan Bupati
Badung pun terkenal “bares” bisa menyumbang milyaran rupiah ke desa-desa.
Bagaimana dengan bupati lain? Tak ada dana untuk menjadi “bupati bares”.
Nah kalau gagasan Wayan Koster ini mau diterapkan
maka payung hukum harus ada. Satu-satunya cara adalah melawan undang-undang
otonomi di kabupaten/kota itu. Misalnya dengan gagasan otonomi khusus (otsus)
untuk Bali. Dengan otsus maka otonomi ada di provinsi. Jika ini berhasil
diperjuangkan maka pembangunan Bali akan semakin merata. Tidak ada lagi “bupati
bares” karena semuanya sama. Yang ada “gubernur bares”. Sayangnya gagasan otsus
ini sudah lama diperjuangkan ke Jakarta dan sudah ditolak. Siapa tahu dengan
Gubernur Wayan Koster perjuangan ini berhasil.
Lalu ke mana Rai Mantra dan Sudikertha? Bantulah
Gubernur Bali Wayan Koster. Dari ucapan selamat kedua tokoh ini, tersirat niat
baik bekerja sama membangun Bali. Ini bagus sekali. Sudikertha saat ini
menjabat Ketua Badan Pengelola Pura Besakih, ini tugas mulia. Jadikan Pura
Besakih kawasan wisata religius yang tertata apik, bukan semerawut seperti saat
ini. Rai Mantra selepas menjadi Walikota Denpasar barangkali bisa diberi tugas
membangun budaya dan adat Bali. Misalnya, jadikan pimpinan Listibiya. Dengan
begitu cita-cita membangun art centre di
seluruh kabupaten di Bali bisa digagas dengan baik.
Pengabdian kedua tokoh itu, juga tokoh lainnya,
ditunggu, tak ada istilah “ngambul”. Mari semua bekerja sama membangun Bali
yang damai dan nyaman. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar