Mpu Jaya Prema
Pesta Kesenian
Bali (PKB) dibuka
dengan meriah di kawasan Monumen Bajra Sandhi Renon. Presiden Joko Widodo yang gagah dengan pakaian adat
Bali yang lengkap, memukul gong tanda dimulainya pawai kebesaran PKB itu. Tema
PKB kali ini adalah api, lengkapnya api sebagai spirit penciptaan (Teja Dharmaning Kahuripan).
Seperti biasa setiap tahun, tema PKB ini dijadikan
inspirasi dari karya tari yang diapresiasi para seniman dalam menyuguhkan kreasinya.
Tak terkecuali yang disuguhkan pada pawai pembukaan itu. Setiap kabupaten
menyuguhkan karya yang terkait dengan tema api sebagai spirit penciptaan.
Namun, pawai itu sendiri nyaris sama dari tahun ke tahun. Baik polanya,
pembagian urutan pawai setiap kabupaten, maupun kemeriahannya yang kali ini
lebih banyak menyuguhkan fragmen. Pola ini membuat pawai pembukaan terasa
monoton, meski pun tema setiap tahun berganti. Barangkali ada unsur kejenuhan
karena tiap tahun mengerjakan
"proyek yang sama", terutama bagi panitia. Sedangkan bagi para seniman dan kurator tantangan
tersendiri bagaimana menyuguhkan karya yang berkaitan dengan tema. Tentu ada
yang berhasil dan ada yang seperti masih dalam pencarian.
Pembukaan PKB tetap diisi
tim kesenian yang disekat-sekat dalam wilayah kabupaten. Meski kali ini tak begitu banyak
atraksi lepas karena lebih dominan dengan fragmen, tetap ada kelompok wanita
yang menjunjung gebogan, seolah-olah ritual agama Hindu hanya menjadi tontonan. Mungkin ada maksud memperkenalkan
bagaimana gebongan itu berbeda setiap daerah, selain ada unsur mengkampanyekan
gebongan dengan buah-buah lokal, seperti yang dilakukan tim kabupaten Tabanan.
Usaha yang patut diapresiasi mengingat dalam kenyataan saat ini ritual Hindu
lebih banyak menggunakan buah impor.
Barangkali perlu dipikirkan kreatifitas baru seperti mengupayakan agar pembukaan
PKB tidak disekat dalam kontingen kabupaten tetapi
dipilah-pilah berdasarkan jenis kesenian. Misalnya, ada barisan seni tradisi yang sudah langka
yang mau dilestarikan kembali. Ada kelompok seni yang bisa dikembangkan dengan era
kekinian. Kemudian ada kesenian kontemporer sebagai pembanding. Kalau pun itu
tak terlalu sepenuhnya menyentuh tema, mungkin tidak apa-apa. Bukankah tujuan
PKB adalah seperti itu, melestarikan yang ada, membina yang bisa dikembangkan
dan menciptakan kreasi-kreasi baru sebagai puncak kesenian setiap tahun?
Begitu pula setelah pawai ini berakhir dan kegiatan
terpusat di Taman Budaya Denpasar (Art Centre) selama sebulan, suasana yang
selalu mirip tahun-tahun lalu seperti hadir kembali. Bagaimana agar suasana
yang rutin ini teratasi agar setiap tahun PKB punya gregetnya tersendiri? Sekali-sekali keluarkan PKB dari sarangnya
di Taman Budaya (Art Centre) Denpasar. Misalnya selang-seling. Tahun genap di Taman Budaya
Denpasar, tahun ganjil gelar PKB di kabupaten yang lain. Artinya PKB digilir ke
kabupaten. Saat PKB bukan lagi di Taman
Budaya Denpasar akan nampak suasana lain. Tentu tak akan ada jaminan lebih
segar dan lebih baik pelaksanaannya, namun setidaknya kesan monoton itu bisa
hilang sejenak.
Dengan menggilir PKB ke kabupaten sekaligus diuji apa
benar masyarakat Bali mencintai keseniannya secara fanatik. Ketika PKB diselenggarakan di Singaraja, misalnya, pada saat itu akan diketahui benarkah penduduk Bali Selatan punya apresiasi seni yang tinggi sehingga
berbondong-bondong ke Singaraja? Kalau tidak, selama ini PKB hanya diminati oleh masyarakat Denpasar dan sekitarnya. Dan mereka pun datang ke PKB sekedar jalan-jalan melihat
"orang ramai" sambil membeli makanan. Apa itu target sebuah pesta
seni yang mengemban
tugas melestarikan tradisi masa lalu dan mengembangkan inovasi baru dalam
berkesenian?
Menggilir
pelaksanaan PKB ke kabupaten-kabupaten adalah ide lama yang tak kunjung
dijajagi dalam praktek. Ide ini pun hanya wacana
sekelebat dan tak pernah
dibicarakan secara serius. DPRD Bali tak pernah mengagendakan hal-hal seperti
ini, bahkan jarang
membahas PKB dari sudut berkesenian. Kalau pun DPRD bicara soal PKB, itu terbatas yang menyangkut anggaran,
hal-hal teknis nonkesenian. Tak pernah ada kajian atau istilah kerennya studi
banding, bagaimana kalau PKB digelar di luar Denpasar. Ide menggilir PKB ke
kabupaten selalu ditutupi dengan dalih pemerintah kabupaten tidak siap.
Ketidak-siapan itu benar jika dilakukan dengan cara
mendadak. Tetapi kalau memang dirancang, tak ada istilah tidak siap. Semangat berkesenian di kabupaten-kabupaten akan tumbuh. Ada rasa lebih memiliki PKB
bagi seniman daerah. Ada kebanggaan dan bukan sekedar berpartisipasi seperti selama ini. Pemerintah kabupaten dan kota akan terangsang untuk
membangun Taman Budaya di daerahnya masing-masing.
Misalkan saja, PKB akan digelar di kota Singaraja, maka grup kesenian yang selama ini selalu bermain di Taman
Budaya Denpasar akan mempersiapkan diri lebih baik. Ia memposisikan dirinya
sebagai tamu yang harus tampil lebih bagus, sementara grup kesenian di Buleleng
akan tampil maksimal untuk menunjukkan kehebatan tuan rumah. Hal-hal seperti
ini merangsang kreatifitas. Kalau setiap tahun PKB digilir, maka ada predikat
tuan rumah dan ada predikat tamu. Semangat kompetisi jadi bangkit. Pembinaan
dengan merangsang kompetisi ini bisa dicoba dibandingkan cara-cara seperti
sekarang dengan memberi subsidi tanpa ada tindak lanjut. Subsidi habis, pentas
selesai, tak ada bekas yang tersisa.
Ini adalah PKB yang ke 40. Jika ini diibaratkan manusia, sudah mulai memasuki
usia dewasa, sudah
mapan. Tidak lagi mencari-cari
arah, tetapi sudah menemukan arah kehidupan yang pasti, tinggal menyempurnakan
untuk selalu lebih baik setiap tahun. Dan jangan biarkan PKB terjebak menjadi pasar seni
komersial atau bahkan menjadi pasar malam semacam Jakarta Fair di Jakarta. Ini
pesta kesenian bukan pesta rakyat yang lebih bertumpu pada hiburan. Ingat, PKB
bukan sekedar tempat hiburan tetapi tempat mengasah jiwa kita dengan konsep
berkesenian yang luhur. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar