26 Juni 2018

PKB Digilir Saja


Mpu Jaya Prema

Pesta Kesenian Bali (PKB) dibuka dengan meriah di kawasan Monumen Bajra Sandhi Renon. Presiden Joko Widodo yang gagah dengan pakaian adat Bali yang lengkap, memukul gong tanda dimulainya pawai kebesaran PKB itu. Tema PKB kali ini adalah api, lengkapnya api sebagai spirit penciptaan (Teja Dharmaning Kahuripan).
 
Seperti biasa setiap tahun, tema PKB ini dijadikan inspirasi dari karya tari yang diapresiasi para seniman dalam menyuguhkan kreasinya. Tak terkecuali yang disuguhkan pada pawai pembukaan itu. Setiap kabupaten menyuguhkan karya yang terkait dengan tema api sebagai spirit penciptaan. Namun, pawai itu sendiri nyaris sama dari tahun ke tahun. Baik polanya, pembagian urutan pawai setiap kabupaten, maupun kemeriahannya yang kali ini lebih banyak menyuguhkan fragmen. Pola ini membuat pawai pembukaan terasa monoton, meski pun tema setiap tahun berganti. Barangkali ada unsur kejenuhan karena tiap tahun mengerjakan "proyek yang sama", terutama bagi panitia. Sedangkan bagi para seniman dan kurator tantangan tersendiri bagaimana menyuguhkan karya yang berkaitan dengan tema. Tentu ada yang berhasil dan ada yang seperti masih dalam pencarian.

Pembukaan PKB tetap diisi tim kesenian yang disekat-sekat dalam wilayah kabupaten. Meski kali ini tak begitu banyak atraksi lepas karena lebih dominan dengan fragmen, tetap ada kelompok wanita yang menjunjung gebogan, seolah-olah ritual agama Hindu hanya menjadi tontonan. Mungkin ada maksud memperkenalkan bagaimana gebongan itu berbeda setiap daerah, selain ada unsur mengkampanyekan gebongan dengan buah-buah lokal, seperti yang dilakukan tim kabupaten Tabanan. Usaha yang patut diapresiasi mengingat dalam kenyataan saat ini ritual Hindu lebih banyak menggunakan buah impor.

Barangkali perlu dipikirkan kreatifitas baru seperti mengupayakan agar pembukaan PKB tidak disekat dalam kontingen kabupaten tetapi dipilah-pilah berdasarkan jenis kesenian. Misalnya, ada barisan seni tradisi yang sudah langka yang mau dilestarikan kembali. Ada kelompok seni yang bisa dikembangkan dengan era kekinian. Kemudian ada kesenian kontemporer sebagai pembanding. Kalau pun itu tak terlalu sepenuhnya menyentuh tema, mungkin tidak apa-apa. Bukankah tujuan PKB adalah seperti itu, melestarikan yang ada, membina yang bisa dikembangkan dan menciptakan kreasi-kreasi baru sebagai puncak kesenian setiap tahun?


Begitu pula setelah pawai ini berakhir dan kegiatan terpusat di Taman Budaya Denpasar (Art Centre) selama sebulan, suasana yang selalu mirip tahun-tahun lalu seperti hadir kembali. Bagaimana agar suasana yang rutin ini teratasi agar setiap tahun PKB punya gregetnya tersendiri? Sekali-sekali keluarkan PKB dari sarangnya di Taman Budaya (Art Centre) Denpasar. Misalnya selang-seling. Tahun genap di Taman Budaya Denpasar, tahun ganjil gelar PKB di kabupaten yang lain. Artinya PKB digilir ke kabupaten.  Saat PKB bukan lagi di Taman Budaya Denpasar akan nampak suasana lain. Tentu tak akan ada jaminan lebih segar dan lebih baik pelaksanaannya, namun setidaknya kesan monoton itu bisa hilang sejenak.

Dengan menggilir PKB ke kabupaten sekaligus diuji apa benar masyarakat Bali mencintai keseniannya secara fanatik. Ketika PKB diselenggarakan di Singaraja, misalnya, pada saat itu akan diketahui benarkah penduduk Bali Selatan punya apresiasi seni yang tinggi sehingga berbondong-bondong ke Singaraja? Kalau tidak, selama ini PKB hanya diminati oleh masyarakat Denpasar dan sekitarnya. Dan mereka pun  datang ke PKB sekedar jalan-jalan melihat "orang ramai" sambil membeli makanan. Apa itu target sebuah pesta seni yang mengemban tugas melestarikan tradisi masa lalu dan mengembangkan inovasi baru dalam berkesenian?

Menggilir pelaksanaan PKB ke kabupaten-kabupaten adalah ide lama yang tak kunjung dijajagi dalam praktek. Ide ini pun hanya wacana sekelebat dan tak pernah dibicarakan secara serius. DPRD Bali tak pernah mengagendakan hal-hal seperti ini, bahkan jarang membahas PKB dari sudut berkesenian. Kalau pun DPRD bicara soal PKB, itu terbatas yang menyangkut anggaran, hal-hal teknis nonkesenian. Tak pernah ada kajian atau istilah kerennya studi banding, bagaimana kalau PKB digelar di luar Denpasar. Ide menggilir PKB ke kabupaten selalu ditutupi dengan dalih pemerintah kabupaten tidak siap.

Ketidak-siapan itu benar jika dilakukan dengan cara mendadak. Tetapi kalau memang dirancang, tak ada istilah tidak siap. Semangat berkesenian di kabupaten-kabupaten akan tumbuh. Ada rasa lebih memiliki PKB bagi seniman daerah. Ada kebanggaan dan bukan sekedar berpartisipasi seperti selama ini. Pemerintah kabupaten dan kota akan terangsang untuk membangun Taman Budaya di daerahnya masing-masing.

Misalkan saja, PKB akan digelar di kota Singaraja, maka grup kesenian yang selama ini selalu bermain di Taman Budaya Denpasar akan mempersiapkan diri lebih baik. Ia memposisikan dirinya sebagai tamu yang harus tampil lebih bagus, sementara grup kesenian di Buleleng akan tampil maksimal untuk menunjukkan kehebatan tuan rumah. Hal-hal seperti ini merangsang kreatifitas. Kalau setiap tahun PKB digilir, maka ada predikat tuan rumah dan ada predikat tamu. Semangat kompetisi jadi bangkit. Pembinaan dengan merangsang kompetisi ini bisa dicoba dibandingkan cara-cara seperti sekarang dengan memberi subsidi tanpa ada tindak lanjut. Subsidi habis, pentas selesai, tak ada bekas yang tersisa.

Ini adalah PKB yang ke 40. Jika ini diibaratkan manusia, sudah mulai memasuki usia dewasa, sudah mapan. Tidak lagi mencari-cari arah, tetapi sudah menemukan arah kehidupan yang pasti, tinggal menyempurnakan untuk selalu lebih baik setiap tahun. Dan jangan biarkan PKB terjebak menjadi pasar seni komersial atau bahkan menjadi pasar malam semacam Jakarta Fair di Jakarta. Ini pesta kesenian bukan pesta rakyat yang lebih bertumpu pada hiburan. Ingat, PKB bukan sekedar tempat hiburan tetapi tempat mengasah jiwa kita dengan konsep berkesenian yang luhur. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar