10 Juni 2018

Simbol-Simbol Perayaan Kuningan


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

HARI Raya Kuningan saat ini banyak orang membuat tumpeng berwarna kuning. Baik itu tumpeng kecil-kecil sebagai persembahan kepada leluhur  yang dipuja hari ini, mau pun tumpeng untuk dimakan. Setidaknya kalau pun wujudnya bukan tumpeng tetap saja nasi yang dimakan itu berwarna kuning.

Dari mana aturan itu ditemui? Mungkin ini sekadar tradisi masa lalu yang terus diwarisi. Mungkin juga leluhur kita di masa lalu tak begitu jelimet harus mengacu kepada sastra agama, tetapi lebih pada kebiasaan masyarakat setempat bahwa tumpeng kuning itu enak dipandang dan enak dimakan. Kebiasaan membuat tumpeng kuning sudah ada sejak lama sebelum Hindu masuk di Indonesia. Dan ketika agama Hindu menyebar dengan ajarannya tentang Istadewata khususnya sembilan dewa utama yang disebut Dewata Nawa Sanga, warna kuning adalah “milik” Mahadewa. Jadi pas warna itu membawa kesejahtraan bagi umat. Juga pas dengan nama Kuningan itu sendiri.

Tidak ada aturan khusus dalam merayakan hari Kuningan. Lontar yang memuat soal Kuningan ini sedikit sekali, yakni hanya lontar Sundarigama. Di situ pun tidak disebutkan soal tumpeng berwarna kuning. Dalam lontar itu hanya disebutkan agar umat Hindu menghaturkan sesaji pada pagi hari dan jangan menghaturkan sesaji setelah lewat tengah hari. Kenapa begitu? Karena yang dihaturkan sesaji itu adalah Dewa Pitara alias leluhur kita sendiri. Para leluhur ini akan “kembali ke surga” pada tengah hari.


Selain tumpeng serba kuning, tradisi merayakan Kuningan juga disertai dengan adanya simbol tamiang. Ini adalah simbol dari perisai yakni alat untuk menangkis serangan musuh. Tamiang ini berbentuk bundar, bentuk mini dari perisai yang biasa dipakai para prajurit kerajaan di masa lalu. Ornamen tamiang itu seperti perisai kecil, bukan simbol dari cakra, senjata Dewa Wisnu. Banyak umat yang membuat tamiang Kuningan dengan menyerupai simbol-simbol cakra. Itu berbeda. Cakra adalah senjata sedang tamiang itu perisai untuk melindungi.

Siapa yang dilindungi? Bisa leluhur yang dipuja yang sedang menikmati “suguhan tumpeng” sehingga dalam perjalanannya selamat kembali ke surga (mur mwah maring swarga). Tapi apa leluhur yang suci itu perlu dilindungi lagi? Maka bisa jadi pula simbol tamiang itu untuk melindungi diri kita sendiri agar selalu bisa selamat dari serangan musuh. Perayaan Kuningan adalah penutup dari perayaan Galungan. Kita baru saja mengalahkan adharma dan merayakan kemenangan dharma pada Hari Raya Galungan. Sepuluh hari larut dalam kemenangan dharma dengan melakulan silakrama (silaturahmi) dan tirtayatra (menghaturkan bhakti ke pura-pura), maka kini saatnya kita membentengi diri kita dari musuh-musuh yang baru. Tamiang harus selalu berada dalam kehidupan kita sehari-hari, begitu filosofi dari keberadaan perisai sakral ini.

Jadi dalam pemujaan kepada leluhur itu kita semacam meneguhkan janji untuk membentengi diri dari musuh-musuh yang baru. Janji kepada leluhur untuk siap mewarisi dan menjaga peninggalan beliau. Peninggalan leluhur itu dari harta benda yang diwariskan kepada keturunannya langsung maupun peninggalan berupa pura, kitab sastra, dan sebagainya. Tapi apakah para keturunanya sudah melakukan hal itu?


Jika kita diajarkan untuk memelihara warisan leluhur dari serangan nafsu-nafsu, maka seharusnya kita menjaga warisan itu baik-baik. Rawatlah pura yang diwarisi leluhur. Jaga harta yang diwarisi leluhur dengan tidak menjualnya untuk memuaskan nafsu kita sendiri. Lewat hari Tumpek Kuningan ini, marilah kita membentengi diri lebih kuat lagi menjaga warisan leluhur itu termasuk membentengi Bali dengan “tamiang niskala” yang  tangguh dan suci.  Janganlah tamiang itu hanya untuk menghias pelinggih di pura, menghias rumah bahkan digantungkan di moncong mobil, tetapi jadikan spirit untuk melestarikan apa yang pernah dimiliki para leluhur itu.

Selamat merayakan Kuningan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar