24 Juni 2018

Melahirkan Seorang Pemimpin


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
  
TINGGAL hitungan hari, Pilkada serentak berlangsung di negeri ini. Sejumlah gubernur, bupati dan walikota akan dipilih pada Rabu Pon 27 Juni nanti. Di Bali ada pemilihan gubernur dan dua bupati, Gianyar dan Klungkung. Sudahkah semeton Bali bersiap-siap melahirkan seorang pemimpin yang akan menjadi gubernur dan bupati?

Di era moderen ini pemimpin itu dilahirkan oleh rakyat. Karena rakyat yang memilihnya lewat pemberian suara. Kalau salah memilih atau asal-asalan saat memberikan suara maka selama lima tahun akan menyesal jika pemimpin itu tak bisa bekerja sebagaimana yang diharapkan.

Di masa lalu dalam sistem kerajaan pemimpin itu diangkat dan bahkan pengangkatan itu pun bisa dilakukan oleh seorang raja saja tanpa pertimbangan yang lainnya. Atau diangkat oleh permaisuri jika menggantikan raja yang wafat. Bisa jadi orang yang diangkat itu tidak sreg menjadi pemimpin baru, baik karena usia maupun karena memang mengaku tidak mampu. Barata menjadi pemimpin di Ayodya karena Rama harus memenuhi kewajibannya tinggal di hutan. Barata kurang percaya diri sehingga alas kaki Rama dijadikan simbol sebagai “raja yang sebenarnya”. Begitu pula Wibisana ketika menggantikan Rahwana di Kerajaan Alengka. Awalnya dia merasa tak sanggup lalu Rama memberikan petuah-petuah untuk membesarkan jiwanya. Di sinilah muncul ajaran Asta Brata, yakni delapan sifat kepemimpinan yang harus dipunyai seorang raja atau pemimpin.

Dalam susastra Hindu seorang pemimpin itu memang disebut Raaja. Artinya mengutamakan kebahagiaan orang banyak atau masyarakat luas dengan  tulus sesuai dengan ajaran Weda. Dan untuk mencapai swadharma ini seorang calon raja atau calon pemimpin idealnya harus sudah punya sifat Raaja dalam kesehariannnya. Mereka seharusnya sudah biasa mengurus kepentingan masyarakat agar masyarakat mendapatkan rasa aman damai dan  sejahtra. Jadi seseorang yang berpredikat Raaja sudah menjadi seorang  Rajintah. Bukan lagi mengumbar hawa nafsunya sendiri atau mementingkan keluarganya sendiri atau kelompoknya sendiri. Mereka harus mewujudkan kehidupan yang  aman damai atau Raksanam serta sejahtra atau Daanaam. Mereka harus bisa mengajak masyarakat agar berbhakti pada Tuhan, taat akan ajaran  agama dan mewujudkan masyarakat yang hidup untuk saling tolong menolong, mengembangkan kemitraan sejati berdasarkan kasih sayang.

Pemimpin seperti itu setidaknya berpedoman pada empat jenis ilmu sebagaimana disebutkan dalam kitab Manawa Dharmasastra VII.43. Yakni: Traividyebhyastrayim vidyam, dandaniti ca sasvatim, anviksikim ca Atmavidyam, Varttarambhascal oka. Maksudnya adalah dari Tri Veda atau tiga ilmu pengetahuan suci (Rgveda, Samaveda dan Yajurveda) seorang Raaja menguasai dan memproleh ilmu politik (Danda Niti), ilmu dialektika (Anviksiki), ilmu jiwa (Atma Vidya) dan ilmu ekonomi (Vartta).

Danda Niti lebih tepat sebaga ilmu menjalankan pemerintahan. Kata Danda dalam bahasa Sansekerta berarti tongkat dan Niti berarti kemudi. Danda Niti adalah ilmu yang menyangkut berbagai aspek dalam menjalankan pemerintahan negara.

Anviksaki yaitu ilmu dialektika. Kata Anviksaki berasal dari kata Anu dan Iksa. Anu artinya sekitar atau sekeliling dan Iksa artinya melihat atau memandang. Aniviksaki lebih dipahami sebagai ilmu idiologi pembangunan. Yang menguasai ilmu ini tahu bagaimana menyusun konsep dan program pembangunan berdasarkan modal yang ada di dalam wilayah yang dipimpinnya. Program yang disusun pun akan mengatasi berbagai persoalan yang ada di masyarakat.

Atma Widya yaitu ilmu jiwa. Pemimpin harus paham kondisi masyarakat di wilayahnya, mereka seperti menyatu dengan jiwa dan semangat yang ada di lapisan bawah. Dengan cara itu mereka lebih mudah  berkomunikasi dengan masyarakat.

Vaartta yaitu ilmu ekonomi atau yang lebih tepat adalah ilmu yang menyangkut mata pencaharian masyarakat. Karena kata Vaartta itu berarti kesejahtraan, juga berarti  kesehatan, sesuatu yang benar, yang berharga. Dalam kaitan ini juga diharapkan pemimpin itu bisa mengupayakan lapangan kerja bagi warga masyarakat.

Nah, dalam kaitan dengan Pilkada serentak empat hari lagi, siapakah di antara calon-calon gubernur dan bupati itu yang memiliki sifat-sifat Raaja? Silakan masyarakat menilainya dengan jernih dan mempertimbangan dengan seksama. Masih ada waktu cukup untuk menimbang-nimbang. Mari kita melakukan pemilihan dengan memberikan suara secara damai. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar