Ida Pandita Mpu Jaya
Prema Ananda
TINGGAL hitungan hari,
Pilkada serentak berlangsung di negeri ini. Sejumlah gubernur, bupati dan
walikota akan dipilih pada Rabu Pon 27 Juni nanti. Di Bali ada pemilihan
gubernur dan dua bupati, Gianyar dan Klungkung. Sudahkah semeton Bali
bersiap-siap melahirkan seorang pemimpin yang akan menjadi gubernur dan bupati?
Di era moderen ini
pemimpin itu dilahirkan oleh rakyat. Karena rakyat yang memilihnya lewat
pemberian suara. Kalau salah memilih atau asal-asalan saat memberikan suara
maka selama lima tahun akan menyesal jika pemimpin itu tak bisa bekerja
sebagaimana yang diharapkan.
Di masa lalu dalam sistem
kerajaan pemimpin itu diangkat dan bahkan pengangkatan itu pun bisa dilakukan
oleh seorang raja saja tanpa pertimbangan yang lainnya. Atau diangkat oleh
permaisuri jika menggantikan raja yang wafat. Bisa jadi orang yang diangkat itu
tidak sreg menjadi pemimpin baru, baik karena usia maupun karena memang mengaku
tidak mampu. Barata menjadi pemimpin di Ayodya karena Rama harus memenuhi
kewajibannya tinggal di hutan. Barata kurang percaya diri sehingga alas kaki
Rama dijadikan simbol sebagai “raja yang sebenarnya”. Begitu pula Wibisana ketika
menggantikan Rahwana di Kerajaan Alengka. Awalnya dia merasa tak sanggup lalu
Rama memberikan petuah-petuah untuk membesarkan jiwanya. Di sinilah muncul
ajaran Asta Brata, yakni delapan sifat kepemimpinan yang harus dipunyai seorang
raja atau pemimpin.
Dalam susastra Hindu
seorang pemimpin itu memang disebut Raaja. Artinya mengutamakan kebahagiaan orang
banyak atau masyarakat luas dengan tulus
sesuai dengan ajaran Weda. Dan untuk mencapai swadharma ini seorang calon raja
atau calon pemimpin idealnya harus sudah punya sifat Raaja dalam kesehariannnya.
Mereka seharusnya sudah biasa mengurus kepentingan masyarakat agar masyarakat
mendapatkan rasa aman damai dan sejahtra.
Jadi seseorang yang berpredikat Raaja sudah menjadi seorang Rajintah. Bukan lagi mengumbar hawa nafsunya sendiri
atau mementingkan keluarganya sendiri atau kelompoknya sendiri. Mereka harus mewujudkan
kehidupan yang aman damai atau Raksanam
serta sejahtra atau Daanaam. Mereka harus bisa mengajak masyarakat agar
berbhakti pada Tuhan, taat akan ajaran agama
dan mewujudkan masyarakat yang hidup untuk saling tolong menolong, mengembangkan
kemitraan sejati berdasarkan kasih sayang.
Pemimpin seperti itu
setidaknya berpedoman pada empat jenis ilmu sebagaimana disebutkan dalam kitab Manawa
Dharmasastra VII.43. Yakni: Traividyebhyastrayim
vidyam, dandaniti ca sasvatim, anviksikim ca Atmavidyam, Varttarambhascal oka.
Maksudnya adalah dari Tri Veda atau tiga ilmu pengetahuan suci (Rgveda, Samaveda
dan Yajurveda) seorang Raaja menguasai dan memproleh ilmu politik (Danda Niti),
ilmu dialektika (Anviksiki), ilmu jiwa (Atma Vidya) dan ilmu ekonomi (Vartta).
Danda Niti lebih tepat sebaga ilmu menjalankan pemerintahan.
Kata Danda dalam bahasa Sansekerta berarti tongkat dan Niti berarti kemudi.
Danda Niti adalah ilmu yang menyangkut berbagai aspek dalam menjalankan
pemerintahan negara.
Anviksaki yaitu ilmu dialektika. Kata Anviksaki
berasal dari kata Anu dan Iksa. Anu artinya sekitar atau sekeliling dan Iksa
artinya melihat atau memandang. Aniviksaki lebih dipahami sebagai ilmu idiologi
pembangunan. Yang menguasai ilmu ini tahu bagaimana menyusun konsep dan program
pembangunan berdasarkan modal yang ada di dalam wilayah yang dipimpinnya.
Program yang disusun pun akan mengatasi berbagai persoalan yang ada di
masyarakat.
Atma Widya yaitu ilmu jiwa. Pemimpin harus paham kondisi
masyarakat di wilayahnya, mereka seperti menyatu dengan jiwa dan semangat yang
ada di lapisan bawah. Dengan cara itu mereka lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat.
Vaartta yaitu ilmu ekonomi atau yang lebih
tepat adalah ilmu yang menyangkut mata pencaharian masyarakat. Karena kata Vaartta
itu berarti kesejahtraan, juga berarti kesehatan,
sesuatu yang benar, yang berharga. Dalam kaitan ini juga diharapkan pemimpin
itu bisa mengupayakan lapangan kerja bagi warga masyarakat.
Nah, dalam kaitan dengan
Pilkada serentak empat hari lagi, siapakah di antara calon-calon gubernur dan
bupati itu yang memiliki sifat-sifat Raaja? Silakan masyarakat menilainya
dengan jernih dan mempertimbangan dengan seksama. Masih ada waktu cukup untuk
menimbang-nimbang. Mari kita melakukan pemilihan dengan memberikan suara secara
damai. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar