Ida
Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
UMAT
Hindu tak henti-hentinya bersembahyang di antara Hari Raya Galungan sampai
Kuningan nanti. Bahkan persembahyangan itu sudah dimulai enam hari sebelum
Galungan, yakni di hari Sugihan.
Berbagai
tempat dikunjungi untuk menghaturkan sembah bhakti. Bukan hanya pura, juga
kawasan yang dianggap suci lainnya, seperti mata air, campuhan
(pertemuan dua sungai), pantai dan lainnya.
Untuk
tujuan apa persembahyangan itu? Umumnya kebanyakan umat tak peduli dan tak
merasa ingin tahu, apa tujuan persembahyangan itu kecuali memohon doa agar
diberi keselamatan, kesehatan, rejeki dan sebagainya. Tetua kita di masa lalu,
bahkan masih dipakai tradisi itu, dalam setiap persembahyangan hanya memohon
satu hal: nunas ica. Secara harfiah arti kata ini adalah “minta tertawa”
artinya diberi kesempatan untuk bisa selalu tertawa. Kalau dirujuk pada arti
simbolis dari ungkapan “minta tertawa” itu ternyata maknanya luas. Hanya orang
yang mampu tertawa tidak merasakan sakit. Orang tertawa tidak memiliki
penderitaan seperti kelaparan karena tak bisa makan. Orang tertawa pastilah
senang dalam hidupnya. Karena itu ungkapan pendek nunas ica adalah
cermin dari kehidupan yang sejahtra. Kalau dirujuk dengan bahasa agama, ini
sejalan dengan tujuan agama Hindu yakni mokshartam jagadhita ya ca iti
dharma. Ketentraman lahir bathin, di dunia mau pun setelah kematian.
Rentetan
Hari Raya Galungan dan Kuningan sesuai dengan sastra Hindu dalam berbagai
lontar, sesungguhnya adalah pemujaan kepada leluhur. Karena itu di berbagai
tempat di mana leluhur distanakan dalam bentuk pura, dikunjungi oleh umat.
Mulai dari pura keluarga (merajan rumah tangga), pura dadia, pura kawitan, sampai
pura yang diwariskan para leluhur, selalu dipenuhi umat dalam rangkaian
Galungan – Kuningan ini.
Lalu
apa kaitannya dengan kemenangan dharma melawan adharma yang seperti menjadi
slogan dalam perayaan Galungan? Istilah ini muncul belakangan, sebutlah sekitar
tahun 1960-an ketika banyak lontar dan sastra Hindu diterjemahkan dan diketahui
umat. Juga tatkala organisasi umat mulai berdiri, misalnya, Parisada Hindu dan
organisasi yang berdasarkan soroh, yang tujuan utamanya adalah menghimpun pratisentara
(keturunan) leluhur. Kemenangan dharma ini dikaitkan dengan adanya Sang Bhuta
Kala Tiga yang muncul menjelang Galungan. Bhuta Kala Tiga itulah yang harus
diperangi sebagai siimbul dari adharma. Sesungguhnya yang dimaksudkan bhuta itu
tak lain adalah nafsu kita sendiri yang harus dikendalikan. Setelah bhuta tiga
itu berhasil kita kendalikan yang artinya kita bisa mengendalikan nafsu buruk,
maka Galungan yang berarti kemenangan kita rayakan dengan menghaturkan bhakti
kepada para leluhur.
Memang,
pemujaan kepada leluhur bukan berarti otomatis pemujaan kepada Tuhan. Namun
konsep bahwa leluhur itu menyatu dengan Tuhan atau diistilahkan amor ring
achintya membawa pembenaran bahwa memuja leluhur berarti juga memuja “alam
Tuhan”. Itu yang membuat umat Hindu selain menghaturkan sesajen (sodaan)
pada pura sebagai stana leluhur juga melakukan persembahyangan di pura yang
tidak memuja leluhur. Misalnya Pura Trikahyangan di mana yang dipuja adalah
Ista Dewata.
Ini
yang membedakan persembahyangan Galungan – Kuningan dengan persembahyangan yang
langsung memuja Tuhan, karena Tuhan itu sendiri bisa dipuja di mana saja.
Leluhur itu ada banyak, tetapi Tuhan itu ada satu. Yad ekam jyotir bahudha
vibhati, demikian bunyi sloka Atharvawda XIII.3.7 Artinya, ada satu Tuhan yang
agung bercahaya. Dia bersinar dalam bentuk yang berbeda-beda.
Kalau kita memuja Tuhan atau
memujaNya melalui Istadewata tentu berbeda dengan memuja leluhur. Memuja
Istadewata berarti memuja di depan patung dewa itu, misalnya, di depan patung
Ganesha, Saraswathi, Laksmi dan lainnya. Tentu akan janggal kalau kita memuja
di depan Ganesha tetapi mantram yang kita gunakan adalah Saraswathi Stawa.
Sedangkan memuja Tuhan secara langsung kita bisa menggunakan berbagai mantram
yang berkaitan dengan Siwa dan itu bisa dilakukan di mana saja. Bisa di kamar
suci, bisa di ruang kerja asal ada ketenangan.
Melantunkan Puja Trisandhya
adalah salah satu cara memuja Tuhan secara langsung dan ini bukan memuja
leluhur. Karena itu kewajiban umat Hindu dalam keseharian adalah melantunkan
Tri Sandhya tiga kali sehari, sesuai dengan namanya. Sedang bersembahyang ke
berbagai tempat fungsinya bisa ganda, memuja leluhur dan memuja Tuhan. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar