Mpu Jaya Prema
HARI-hari ini kita dipenuhi dengan hari raya
keagamaan. Besok umat Buddha merayakan Hari Suci Waisak. Umat Hindu besok sudah
memasuki rangkaian perayaan Hari Galungan. Selain Penampahan Galungan esok hari
juga Purnama Sada yang merupakan bulan ke dua belas dalam kalendert Saka Bali.
Sementara itu umat muslim sedang melakukan ritual puasa Ramadan dan sebentar
lagi datang hari kemenangan, Idul Fitri.
Adalah kebetulan ketiga hari raya keagamaan ini
bertemakan kemenangan. Galungan adalah kemenangan dharma melawan adharma,
lebaran adalah perayaan kemenangan mengalahkan segala nafsu buruk. Demikian
pula dengan Waisak merayakan kedamaian dunia dan kedamaian hati. Patut kita
syukuri bahwa negeri yang majemuk ini tetap damai tanpa gangguan yang berarti. Bandingkan
di negeri-negeri lain yang terus bergolak dalam perang.
Memang beberapa hari lalu, sebelum bulan suci
Ramadan, ada bom meledak di tiga gereja di Surabaya. Pelakunya satu
keluarga melibatkan anak-anaknya yang
masih kecil. Entah keyakinan apa yang bisa menggerakkan pasangan suami istri
itu sampai bunuh diri dengan empat anaknya. Yang pasti sebuah keyakinan yang
dikutuk oleh semua pemuka agama. Ada benarnya kita tak usah mengkaitkan si
pelaku pengebom dengan agama yang ada di dalam kartu identitas mereka. Kalau
itu kita kaitkan justru kita menjadi “kalah” karena asyik berdebat atas
perbuatan orang sesat. Kita harus jadi pemenang dengan cukup mengutuk perbuatan
mereka dan tidak menyebarkan ketakutan atas ulah mereka.
Justru kita harus terus menyebarkan kedamaian sambil
bergandengan tangan sesama umat beragama, apa pun agama kita. Kita sudah
saksikan di berbagai pelosok, termasuk di Bali, umat lintas agama bersatu untuk
menyerukan melawan terorisme, apalagi terorisme yang berkedok agama.
Menyebarkan kedamaian dalam bingkai agama tidak
berarti kita menyebarkan agama yang kita peluk agar orang lain mengikuti agama
kita. Sudah bukan zamannya lagi kita berkoar-koar untuk mengajak orang lain
yang sudah beragama untuk pindah agama. Bukankah semua agama pada intinya
menyebarkan kedamaian. Jika pun ada orang yang pindah agama harus disebutkan
itu sebagai hak asasi yang bersangkutan. Ini harus dihormati karena di era
serba keterbukaan ini tak mungkin ada orang yang mau dipaksa.
Mari sebarkan kedamaian dan orang tak perlu ragu
bahwa menyebarkan kedamaian itu berarti mempromosikan sebuah agama dengan
maksud orang jadi tertarik untuk mengikutinya. Begitu pula sebaliknya, tak usah
ragu untuk menerima orang-orang yang mau menyebarkan kedamaian karena ini
berarti menambah perbendaharaan menuju kedamaian yang lebih baik. Tak usah
dicurigai sebagai pembawa misi penyebar agama. Itu pikiran masa lalu, yang tak
laku lagi di zaman now.
Hari Raya Galungan sebagai perayaan kemenangan dharma adalah pula hari penyebar
kedamaian. Hanya dengan dharma yang
unggul maka kedamaian itu lebih terasakan. Belakangan ini Galungan sudah mulai
dirayakan di seluruh pelosok Nusantara, tidak lagi hanya dirayakan di Bali
sebagaimana yang dulu-dulu. Para pejabat pemerintahan di luar Bali pun ikut
“merayakan Galungan” dengan menerima warga Hindu setempat.
Agama Hindu yang juga sesungguhnya agama missi di
mana umatnya wajib mengajarkan dan menyebarkan ajaran kedamaian, tentu tak
memasang target bahwa pengikut Hindu harus bertambah. Target utamanya adalah
kedamaian itu sendiri, damai di dalam interen agama Hindu dan damai bersama
umat beragama lainnya. Cobalah baca kitab Yajur Weda XXV.2. Sloka itu berbunyi:
Yathenam wacam kalyanim, awadai
janebhyah, rajanabhyam, cudra ya caryaya
ca swaya carana ca. Arti bebasnya adalah: “Biar kuajarkan pengetahuan suci
ini kepada orang banyak, kaum brahmana, kesatria, sudra, waisya dan bahkan
kepada orang asing sekali pun.” Sloka ini harus diartikan sebagai “mengajarkan
pengetahuan suci Hindu kepada siapa pun” dan setelah diajarkan orang itu
mengikuti agama Hindu atau bukan tak jadi masalah.
Seperti itu pulalah sebaiknya missi dakwah agama
lain, sebarkan “pengetahuan suci agama” sebanyak-banyaknya dan serahkan kepada
yang mendengar untuk mencernanya. Di bulan Ramadan ini hampir seluruh televisi
acaranya bernuansa islami. Siang, malam, subuh, semuanya bernuansa islami, baik
itu hiburan, lelucon, apalagi siraman rohani. TVRI Bali yang memasang logo
“televisi semeton Bali” juga mengarahkan siaran kerohanian Islam, misalnya,
menjelang buka puasa. Kita harus terbiasa menyaksikan semua itu tanpa ada
kecurigaan apa pun.
Kepolisian juga gencar-gencarnya memerangi segala
kebrutalan, termasuk yang masih suka menyebarkan ujaran kebencian di media
sosial. Sudah berapa banyak penyebar kebencian di media sosial yang ditangkap
polisi. Bahkan ada anak usia 15 tahun yang baru saja ditangkap karena
menyebarkan video yang “mau membunuh Jokowi” meski pun alasannya hanya bikin
lelucon. Nah, kenapa lelucon itu diunggah di media sosial? Bukan saja sang anak
yang menyesal setelah ditangkap, orang tuanya pun sibuk meminta maaf dan
menyesal atas kelakuan anaknya.
Jadi marilah dalam suasana hari raya yang
berbarengan ini yang kita sebarkan bukan kebencian tetapi kedamaian. Para
penceramah agama marilah kita hindari kata-kata kasar apalagi menjelek-jelekkan
agama lain. Dengan menyebarkan kedamaian berarti kita telah berhasil
mengendalikan diri kita dari nafsu buruk. Kalau nafsu buruk itu bisa kita
kendalikan maka kemenangan dharma
melawan adharma bagi umat Hindu
pastilah terwujud. Demikian pula bagi umat muslim, dengan pengendalian lewat
puasa di bulan Ramadan ini pada ujungnya akan mencapai kemenangan pula, yakni
hati yang suci bersih untuk merayakan Idul Fitri.
Selamat Hari Raya Galungan untuk umat Hindu, selamat
merayakan Hari Suci Waisak untuk umat Buddha, dan selamat menjalankan ibadah
puasa untuk umat muslim. Mari kita wujudkan bumi yang damai. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar