Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
DESA Pakraman Tegallalang, Kabupaten Gianyar, kini
memiliki Pararem Perlindungan Perempuan dan Anak yang disahkan Sabtu pekan
lalu. Disebut-sebut bahwa ini adalah pertama kali di Bali. Tidak jelas
bagaimana bentuk pararem itu, apakah semacam awig-awig atau sekadar peraturan desa yang bisa diubah setiap saat
tergantung kondisi. Namun apa pun bentuknya ini adalah kemajuan dalam hal
perlindungan kaum perempuan dan anak-anak di Bali.
Selama ini karena pengaruh adat yang kuat di masa
lalu, ada kesan bahwa kaum perempuan dan anak-anak di Bali tidak mendapat
perlindungan yang seharusnya sama dengan kaum lelaki. Anak perempuan selalu
mengalah termasuk mendapatkan pendidikan dalam keluarga yang sederhana. Selalu
anak lelaki yang mendapatkan perlakuan istimewa. Begitu pula kalau anak itu
besar dan berumah tangga, anak perempuan tidak mendapatkan waris dari keluarga
asal karena dianggap telah menjadi bagian dari keluarga suaminya.
Dalam ajaran Hindu, kedudukan anak-anak itu setara,
baik lelaki mau pun perempuan. Tidak ada diskriminasi. Perbedaan lelaki dan
perempuan hanyalah masalah fungsi dan peran dalam kehidupan ini. Peran itu
merupakan kodratnya lahir ke dunia, karena sama-sama saling melengkapi.
Kitab Manavadharmasastra
IX.33 menyebutkan: Ksetrabhuta smrta nari bijabhutah smrtah
puman, Ksetrabija samayogat sambhawah sarwa dehinam. Artinya, perempuan diumpamakan
sebagai tanah, laki-laki diumpamakan sebagai benih (bibit), hasil perpaduan
kedua kehidupan ini melahirkan kesinambungan.
Bahkan banyak sloka yang justru
mengagungkan perempuan. Misalnya Yajurveda XIV.21 menyebutkan: Murdha asi rad dhruva asi, dharuna dhartri asi dharani, ayusve
tvavarcasetva, krisyaitva ksemaya tva. Terjemahan bebasnya adalah, wahai
perempuan engkau adalah perintis cemerlang, mantap, pendukung yang memberi
makan dan menjalankan aturan-aturan, kami memiliki engkau di dalam keluarga
untuk usia panjang, kecemerlangan, kemakmuran, kesuburan dan kesejahtraan.
Yang banyak dikutip adalah sloka Manavadharmasastra III.58 yang berbunyi: Yatra naryastu pjyante, ramante tarra
dewatah, yatraitastu na pjyante, sarvastatra phalah kriyah.
Artinya: di mana wanita dihormati di sanalah para dewa senang dan melimpahkan
anugerahnya. Di mana wanita tidak dihormati tidak ada upacara suci apapun yang
memberikan pahala mulia.
Ada cerita yang tersurat
dalam lontar Medang Kamulan, kisah
tentang penciptaan manusia. Diceritakan Dewa Brahma (sang pencipta kehidupan)
bekerja sama dengan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa membuat manusia dari tanah, air,
udara, api dan akasa. Setelah berwujud maka Dewa Bayu memberikan napas untuk
kekuatan tenaga, Dewa Iswara memberikan suara untuk kemampuan berbicara. Sang
Hyang Achintya memberikan pikiran (idep).
Maka kemudian lahirlah manusia yang diciptakan para dewa itu. Sayangnya wujud
manusia itu tidak jelas apakah lelaki atau perempuan, karena tidak berjenis
kelamin. Sadar akan ketidak-sempurnaan itu maka Dewa Brahma masuk ke dalam diri
manusia yang diciptakan itu. Kemudian Brahma memuja ke arah timur laut, maka
wujud manusia itu menjadi laki-laki. Brahma kemudian memuja ke arah tenggara,
jadilah manusia itu berjenis kelamin perempuan.
Pada hakekatnya semua ciptaan itu sama martabatnya. Keduanya tak bisa
dipisahkan, karena itu dalam kitab suci yang lain, misalnya, Rgveda, “persatuan
perempuan dan lelaki” (yang dimaksudkan sebagai perkawinan) disebut dampati, sesuatu yang tak bisa
dipisahkan.
Demikian pula dengan
anak-anak, haruslah mendapat perlindungan yang lebih baik, apa pun jenis
kelaminnya. Dalam agama Hindu anak itu disebut putra. Cuma kata putra
itu diadopsi ke dalam bahasa Indonesia untuk menyebutkan seorang anak kandung. Malah
putra itu dipersempit artinya menjadi
anak lelaki karena untuk anak perempuan dipakai kata putri.
Dalam Manavadharmasastra
IX.138 disebutkan, “oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan
orangtuanya dari neraka yang disebut put, karena itu dia disebut putra”. Di sinilah ajaran Hindu
menekankan pentingnya peran anak di dalam kehidupan. Disebut mengalami neraka
bagi orang tua yang tidak menghasilkan keturunan. Neraka itu bisa dihindari
karena sang anak menyeberangkan orang tuanya dari kawasan neraka.
Jadi marilah kita lindungi
anak-anak dan kaum perempuan dan tinggalkan adat usang yang membuat perbedaan
perlindungan itu masih ada. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar