ADA petisi di media sosial agar
kaum difabel mendapatkan pelayanan yang ramah di Pura Besakih. Kaum difabel
adalah orang yang mengalami cacat phisik khususnya lumpuh atau karena sesuatu
hal tidak bisa berjalan sendiri. Mereka harus menggunakan kursi roda. Petisi
ini mengajak siapa saja yang setuju agar Pura Besakih menyediakan jalur khusus
untuk difabel.
Kenapa hanya ditujukan kepada
Pura Besakih? Mungkin pembuat petisi tahu kalau Pura Besakih sebagai kahyangan
jagat sudah punya pengelola yang baru. Pembuat petisi menyebutkan Pura Besakih
rutin dikunjungi umat Hindu mau pun wisatawan lebih dari 3 juta per tahun
dengan pendapatan mencapai Rp 1,6 Milyar. Diperkirakan ada 10 ribu kaum difabel
setiap tahun mengunjungi Pura Besakih dan kesulitan naik tangga. Di Kabupaten
Karangasem sendiri terdapat 2.471 kaum difabel dan tentu sayang sekali kalau
mereka kesulitan ke Pura Besakih.
Apa sebaiknya yang kita
lakukan? Kaum difabel dan penyandang disabilitas lainnya tak boleh kehilangan
haknya untuk melakukan puja bhakti di sebuah pura, apalagi pura sebesar Pura
Besakih. Selama ini kita tahu penyandang disabilitas banyak terlibat dalam
kegiatan kesenian yang tak kalah menariknya dengan kaum normal. Penyandang tuna
rungu bisa menari dengan baik lewat kode-kode yang disampaikan pelatihnya.
Penyandang tuna netra bisa memainkan gamelan yang bagus. Sekehe Gong Dria Raba
(sekolah untuk penyandang tuna netra) terkenal sejak dulu. Menyambut peringatan
Hari Puputan Klungkung hari-hari ini Pemkab Klungkung mengadakan lomba
geguntangan untuk penyandang disabilitas. Artinya mereka yang menyandang cacat
tak boleh kehilangan hal untuk berbuat apa saja, baik di bidang kesenian mau
pun dalam masalah ritual.
Namun apakah mungkin di Pura
Besakih dibuatkan fasilitas jalan untuk kaum difabel? Begitu pula di setiap
pura? Jika niat kita memang ada, tentu bisa. Namun bukan di jalan utama dari
nista mandala ke madya mandala terus ke utama mandala. Fasilitas itu bisa dibuat
dengan mempergunakan jalan samping yang umumnya setiap pura memiliki jalan itu.
Khusus di Pura Besakih sepertinya jalan samping yang selama ini membelas Pura
Penataran Agung dengan Pura Pedharman bisa dibagi untuk kaum difabel. Sehingga
jika kaum difabel memasuki Penataran Agung bisa lewat jalan samping itu,
persisnya di depan Pedharman Ratu Pasek Catur Lawa. Sekali lagi ini masalah
niat saja apakah kita akan bersikap ramah terhadap kaum difabel. Tentu kaum
difabel dan pemerhati difabel tak usah ngotot harus ada jalan khusus yang
sejajar dengan tangga menuju utama mandala. Ini akan mengacaukan konsep pura
itu sendiri.
Selama ini kita memang agak
asing – dan sebagian orang mungkin menganggap aneh – jika para penyandang cacat
memasuki pura untuk bersembahyang. Itu masalah kebiasaan saja yang kita lihat
di Bali. Di luar Bali hal ini menjadi hal yang biasa, apakah ada jalan khusus
untuk itu atau penyandang cacat itu dibantu orang lain dengan memapahnya atau
menggendongnya. Di hadapan Tuhan tak ada yang membedakan apakah phisik orang
itu normal atau cacat. Batasannya hanya pada “pelayan umat” seperti pemangku
dan sulinggih yang harus sehat phisik dan rohani ketika melakukan pediksaan.
Ada cerita menarik dari tanah
Bharata India. Di sebuah desa kecil bernama Vrindawan ada arca Shri Krishna
yang dipuja ribuan orang setiap hari. Konon arca ini muncul begitu saja dari
dalam tanah sekitar 400 tahun yang lalu. Kuil
tempat memuja arca Shri
Krishna tersebut bernama Banka Bihari, diambil dari nama patung itu.
Tersebutlah seorang lelaki setengah baya
yang setiap pagi dan sore hari datang teratur menghadap ke arca Krishna.
Setelah beberapa waktu berlalu, seorang pendeta mulai menaruh perhatian pada
lelaki tersebut. Ternyata ia seorang lelaki buta. Padahal orang-orang yang datang
berkunjung ke tempat sembahyang itu tujuan utamanya adalah dapat melihat arca
walau hanya sesaat. Lalu apa tujuan lelaki buta itu ke sana, bukankah dia tak
bisa melihat?
Lelaki itu menjawab: “Saya memang tidak bisa melihat,
tetapi Shri Krishna kan bisa melihat saya?” Pendeta
kaget. Benar dalam hal memuja Tuhan bukannya Tuhan yang ingin kita lihat,
tetapi Tuhan yang melihat kita. Marilah kita perlakukan
penyandang cacat sama dengan orang normal saat
memasuki pura. Janganlah kita yang repot melihat kekurangan orang itu karena
Tuhan sendiri yang melihat hambanya yang penuh bhakti. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar