SUNGGUH menyedihkan membaca berita-berita tentang
bunuh diri yang begitu banyak terjadi di Pulau Bali, pulau yang disebut seribu
pura. Puranya sendiri sudah pasti bertambah terus dan lebih dari seribu, namun
angka bunuh diri juga semakin bertambah. Catatan di Komisi Perlindungan Anak
Daerah Bali setiap tahun terjadi bunuh diri sekitar 100 sampai 180 kasus. Kalau
angka ini benar maka rata-rata setiap bulan ada 15 kasus bunuh diri atau dua
hari sekali.
Kejadian yang baru saja, tiga anak kecil tewas, dan
diduga karena terkait usaha bunuh diri yang dilakukan ibunya, sungguh
mengenaskan. Saya tak berani membaca berita itu secara lengkap. Bahkan foto
anak-anak yang tewas itu mengingatkan ketiga cucu saya yang mirip wajah dan
usianya. Semua foto yang nyelonong ke laman FaceBook saya itu langsung saya
hapus. Bahkan kalau pengunggah memberi komentar yang lebih panjang, pertemanan
di FaceBook saya delete.
Apa motifasi dari setiap kasus bunuh diri? Ada
masalah ekonomi, kekecewaan dalam urusan keluarga, putus asa karena berbagai
masalah termasuk urusan cinta. Ingat sepasang kekasih yang bunuh diri di Danau
Batur beberapa tahun lalu.
Pertanyaannya adalah kenapa urusan seperti itu
begitu cepat memicu untuk melakukan bunuh diri? Pelakunya tidak menemukan jalan
untuk menyelesaikan kasus yang dihadapinya. Dalam kekalutan itu maka dia pikir
mati adalah jalan penyelesaian dari semua masalah. Kalau sependek itu yang
dipikirkannya maka dia telah gagal “lahir sebagai manusia”. Seperti yang saya
tulis di rubrik Mimbar Hindu koran
ini (Pos Bali Sabtu 24 Februari 2018), lahir sebagai manusia adalah kesempatan
untuk memperbaiki karma yang mungkin tidak begitu bagus pada kelahiran
sebelumnya. Maka apapun kesulitannya harus dihadapi dengan sebaik-baiknya.
Hidup ini ujian tentu ada yang sulit ada yang mudah. Kalau dapat ujian yang
sulit kita pecahkan dengan jalan “menghentikan hidup” maka resiko yang kita
hadapi jauh lebih besar. Kita terperangkap dalam kegelapan selama 600 tahun di
“kehidupan yang lain”. Semua agama menyebut “kegelapan panjang di alam sana”
adalah neraka yang paling buruk.
Orang bisa menganggap masalah itu sebagai dongeng,
cerita yang hanya menakutkan toh tak ada orang yang pernah ke sana. Kalau kita
berpikir seperti itu, berarti kita sudah mengabaikan ajaran yang diberikan oleh
agama, agama apa pun itu. Semua agama mengajarkan bahwa bunuh diri adalah
perbuatan yang paling terkutuk. Termasuk bunuh diri yang dianggap sebagai mati
syahid yang akan dijemput tujuh bidadari kalau misalnya mau meledakkan bom
bunuh diri. Saya banyak bertemu para ulama Islam, kiyai-kiyai di pesantren,
mereka tertawa mendengar “janji masuk sorga dengan dijemput bidadari itu”.
Agama Islam tak mengajarkan itu. Dan agama Hindu juga tak ada mengajarkan bunuh
diri sebagai sesuatu yang bisa diterima.
Pemahaman agama pada masyarakat sepertinya tak ada
kemajuan walau pun pura semakin banyak dibangun dan ritual keagamaan semakin
meriah. Di era yang sudah maju ini orang gampang mendatangi pura, orang-orang
rajin bersembahyang. Tapi hatinya kosong sehingga ketika kekalutan datang tak
ada pemahaman agama yang bisa memecahkan permasalahan yang dijumpai dalam
kehidupan. Tidak diimbangi pemahaman agama dalam melakukan ritual. Dharma
wacana tidak banyak menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan moderen.
Dharma wacana lebih banyak berurusan dengan ritual dan sesajen, apa makna ngenteg linggih dan bagaimana runtutan banten bebangkit. Bukan masalah
bagaimana memutus karma buruk, bagaimana kehidupan setelah mati, apa yang
dipersiapkan kalau misalnya kita merasa dijemput ajal.
Pemahaman agama yang kurang diperparah oleh ikatan
sosial yang semakin luntur diterpa kemajuan teknologi komunikasi. Interaksi
sosial sudah mengendor. Orang tak lagi punya tempat untuk melakukan curhat atau
menceritakan keluhan-keluhan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan hidup era moderen ini berpengaruh besar dalam interaksi sosial
sehingga jika ada orang mengalami masalah pelik dalam hidupnya tak bisa
mengeluarkan uneg-uneg itu.
Dulu ibu-ibu kita punya banyak media untuk saling
curhat. Mencari kutu sambil menceritakan kehidupan keluarganya, baik mau pun
buruk. Menumbuk padi juga tak pernah diam obrolannya. Bergotong-royong membuat
sesajen juga tetap “berkicau” tak putus-putusnya. Ada saja yang diobrolkan.
Tentang suaminya yang melirik perempuan lain mau pun gosip-gosip sesama ibu.
Selalu diselingi tawa.
Sekarang tak ada lagi ibu-ibu di desa punya kutu.
Sampho sudah membunuh kutu di kepala itu. Penyosohan beras sudah ada di
mana-mana, tak perlu lagi menumbuk di lesung. Gotong royong (ngoopin istilah di desa) membuat banten
juga sudah hilang. Beli saja banten tak perlu repot. Banyak yang menjual
banten. Individualisme berkembang dengan subur. Mana ada media untuk saling
ngerumpi? Padahal ngerumpi itu adalah penyaluran yang baik dari uneg-uneg yang
tersimpan di hati dan tak jarang di antara guyonan itu terselip petuah-petuah
saling berbagi.
Sekarang semua asyik dengan handphone-nya. Piodalan di pura menunggu pemangku nganteb banten,
orang lebih asyik dengan HP, entah itu fesbukan
atau main games. Saya sering mengajak
rombongan melakukan tirthayatra. Di perjalanan semua diam di mobil. Saya kira
tidur, ternyata memelototi HP. Gosip sudah beralih ke media sosial.
Kesibukan dengan alat canggih ini tak hanya menerpa
orang desa. Di kota bahkan lebih gawat. Cobalah lihat ketika antre membeli obat
di apotek atau menunggu giliran dipanggil dokter. Tak ada yang ngobrol dengan
teman duduk sebelahnya. Semua asyik sendiri bahkan ketawa-ketawa sendiri sambil
memelototi HP. Interaksi sosial sudah dilakukan secara maya, dengan
bayang-bayang karena orangnya tak ada, bahkan bisa tidak saling kenal.
Ikatan sosial yang kendor ini menyebabkan orang tak
tahu apa masalah yang dihadapi tetangganya. Tiba-tiba ada yang bunuh diri. Atau
yang lebih ringan, ada dua anak kecil yang susah payah mengurus bapaknya yang
sakit (berita Pos Bali Jumat 23/2). Tak ada yang peduli karena tak ada yang
tahu. Padahal ini di Kabupaten Badung di mana bupatinya sangat “bares” memberi
bantuan.
Mari perbaiki ikatan sosial itu. Misalnya, perbanyak
kerja bhakti gotong royong, entah itu menyapu jalanan atau bersih-bersih pura.
Hidupkan kembali sekehe shanti. Atau versi lebih moderen, buat kelompok arisan,
jalan santai setiap minggu. Banyak cara lain dan ini harusnya dipelopori aparat
desa dan kaum terdidik. Tentu ditambah pemahaman agama kepada umat.
(Mpu Jaya Prema)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar