03 Maret 2018

Antara Kesurupan dan Kerauhan


BANYAK orang yang tidak bisa membedakan antara kesurupan dan kerauhan. Terutama masyarakat yang tinggal di perkotaan atau umumnya di Bali Selatan yang langsung curiga jika dalam sebuah persembahyangan ada orang yang berteriak-teriak atau menangis. Orang pun terus menuduh bahwa yang berteriak-teriak itu adalah orang stres. Kata yang paling sering disebutkan adalah orang itu kesurupan.
 
Kita juga sering mendengar berita ada “kesurupan masal”. Hal itu justru terjadi pada anak-anak sekolah pada saat belajar. Tak jelas apa pangkal masalahnya. Berbagai upaya untuk “menyembuhkan” yang kesurupan itu termasuk mendatangkan paranormal. Juga didatangkan pemangku yang mencoba melakukan berbagai doa agar yang kesurupan itu segera sadar.

Tentu saja kesurupan seperti itu berbeda dengan kerauhan jika ada piodalan di sebuah pura. Terutama di daerah-daerah yang secara ketat menjaga tradisi seperti dahulu kala bahwa setiap ada piodalan para pemangku yang memimpin umat bersembahyang biasa melakukan acara yang disebut “nuhur bethara”. Kata ini maksudnya adalah mengundang Ida Bethara yang berstana di pura itu pada saat piodalan. Karena Betahara “diundang” maka tentulah akan “datang” dan kedatangan ini yang disebut kerauhan – berasal dari kata rauh yang artinya datang.


Siapa yang rauh? Namanya saja “nuwur bethara” tentu saja yang datang adalah Bethara lewat seorang sutri atau juga disebut dasaran atau tapakan. Bethara yang turun lewat perantara itu kemudian dimintai “komentarnya” sehubungan dengan persembahyangan ini. Biasanya pertanyaan para pemangku yang pertama-tama adalah apakah persembahyangan ini bisa diterima dengan baik, atau terjadi beberapa penyimpangan sehingga ada yang harus diperbaiki di kesempatan mendatang. Lalu adakah hal-hal penting yang ingin disampaikan Ida Bethara yang rauh itu. Setelah semua “dialog” itu selesai lalu mohon doa restu lewat tirtha (air suci) yang kemudian dipercikkan ke umat yang bersembahyang.

Bagi masyarakat di desa yang tetap mempertahankan acara “nuwur bethara” adanya kerauhan ini justru ditunggu-tunggu. Bagi masyarakat Bali selatan apalagi yang terbiasa melakukan piodalan dengan dipuput sulinggih yang waktunya terbatas, bisa jadi melihat tradisi yang masih dipertahankan itu terasa aneh. Barangkali mereka berpikir kok di zaman now ini masih ada yang melakukan persembahyangan berjam-jam menunggu kerauhan.

Pertanyaannya adalah apakah tradisi “nuwur bethara” dan adanya kerauhan itu salah? Apakah itu mengada-ada? Kalau melihat siapa sutri atau tapakan yang dijadikan perantara kerauhan, tentu tak ada yang salah. Mereka adalah orang-orang yang terjaga kesuciannya sehari-hari. Mereka bukan orang stress. Lagi pula dialog yang muncul saat kerauhan itu normal saja, penuh nuansa kedamaian. Usai dialog pun saat yang disebut “bethara mantuk” suasana tetap religius diiringi tembang wargasari yang memang ada episode “mantuk i ratu mantuk...”

Siapakah  bethara itu? Tentu saja bukan Istadewata dalam ajaran Hindu. Juga bukan Tuhan itu sendiri. Bethara adalah para leluhur orang Bali atau leluhur para pengempon pura yang sudah disucikan. Tak ada yang salah dalam kaitan bahwa umat Hindu selain memuja Tuhan (Hyang Widhi) dengan Istadewata yang merupakan “sinar suci Tuhan”, juga ada pemujaan kepada leluhur. Para leluhur ini dulunya adalah manusia biasa saja, sama dengan kita-kita ini. Namun, karena ilmu kerohaniannya tinggi dan mencapai moksa dalam kehidupannya, mereka sudah terbebas dari alur reinkarnasi. Mereka disucikan di sebuah pura yang bisa jadi dulu merupakan stana (rumah tinggal) beliau. Maka dikenallah nama-nama bethara seperti Bethara Batumadeg, Bethara Puncak Kedaton, Bethara Turus Gunung, Bethara Gunung Tengah dan banyak lagi, semuanya mempunyai “pelinggih” atau tempat suci. Ada yang sudah berupa pura, ada yang masih “bebaturan” (berupa tumpukan batu).

Dengan konsep bahwa umat Hindu juga memuja leluhur selain memuja Tuhan (baik langsung mau pun melalui Istadewata) tak ada yang salah atau harus disalahkan adanya tradisi kerauhan yang sampai kini dijaga di sejumlah desa tradisional. Karena jelas yang rauh pada saat piodalan itu hanyalah bethara, yang dahulu kala adalah manusia biasa namun suci. Sedangkan Istadewata atau para dewa yang merupakan sinar suci Tuhan, tak mungkin rauh. Tak ada orang kerauhan dengan menyebut diri Dewa Wisnu, Dewa Brahma dan sebagainya. Apalagi menyebut kerauhan Tuhan, itu jelas tak mungkin. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar