BANYAK orang yang tidak bisa
membedakan antara kesurupan dan kerauhan.
Terutama masyarakat yang tinggal di perkotaan atau umumnya di Bali Selatan yang
langsung curiga jika dalam sebuah persembahyangan ada orang yang
berteriak-teriak atau menangis. Orang pun terus menuduh bahwa yang
berteriak-teriak itu adalah orang stres. Kata yang paling sering disebutkan
adalah orang itu kesurupan.
Kita juga sering mendengar berita
ada “kesurupan masal”. Hal itu justru terjadi pada anak-anak sekolah pada saat
belajar. Tak jelas apa pangkal masalahnya. Berbagai upaya untuk “menyembuhkan”
yang kesurupan itu termasuk mendatangkan paranormal. Juga didatangkan pemangku
yang mencoba melakukan berbagai doa agar yang kesurupan itu segera sadar.
Tentu saja kesurupan seperti itu
berbeda dengan kerauhan jika ada
piodalan di sebuah pura. Terutama di daerah-daerah yang secara ketat menjaga
tradisi seperti dahulu kala bahwa setiap ada piodalan para pemangku yang
memimpin umat bersembahyang biasa melakukan acara yang disebut “nuhur bethara”.
Kata ini maksudnya adalah mengundang Ida Bethara yang berstana di pura itu pada
saat piodalan. Karena Betahara “diundang” maka tentulah akan “datang” dan
kedatangan ini yang disebut kerauhan
– berasal dari kata rauh yang artinya
datang.
Siapa yang rauh? Namanya saja
“nuwur bethara” tentu saja yang datang adalah Bethara lewat seorang sutri atau juga disebut dasaran
atau tapakan. Bethara yang turun lewat
perantara itu kemudian dimintai “komentarnya” sehubungan dengan persembahyangan
ini. Biasanya pertanyaan para pemangku
yang pertama-tama adalah apakah persembahyangan ini bisa diterima dengan baik,
atau terjadi beberapa penyimpangan sehingga ada yang harus diperbaiki di kesempatan
mendatang. Lalu adakah
hal-hal penting yang ingin
disampaikan Ida Bethara yang rauh itu. Setelah semua “dialog” itu selesai lalu mohon doa restu lewat tirtha (air
suci) yang
kemudian dipercikkan ke umat yang bersembahyang.
Bagi masyarakat di desa yang
tetap mempertahankan acara “nuwur bethara” adanya kerauhan ini justru ditunggu-tunggu. Bagi masyarakat Bali selatan
apalagi yang terbiasa melakukan piodalan dengan dipuput sulinggih yang waktunya terbatas, bisa jadi melihat tradisi
yang masih dipertahankan itu terasa aneh. Barangkali mereka berpikir kok di zaman now ini masih ada yang melakukan
persembahyangan berjam-jam menunggu kerauhan.
Pertanyaannya
adalah apakah tradisi “nuwur bethara” dan adanya kerauhan itu salah? Apakah itu mengada-ada? Kalau melihat siapa sutri atau tapakan yang dijadikan perantara kerauhan, tentu tak ada yang salah. Mereka adalah orang-orang yang
terjaga kesuciannya sehari-hari. Mereka bukan orang stress. Lagi pula dialog
yang muncul saat kerauhan itu normal
saja, penuh nuansa kedamaian. Usai dialog pun saat yang disebut “bethara
mantuk” suasana tetap religius diiringi tembang wargasari yang memang ada
episode “mantuk i ratu mantuk...”
Siapakah bethara itu? Tentu saja bukan Istadewata dalam ajaran
Hindu. Juga bukan Tuhan itu sendiri. Bethara
adalah para leluhur orang Bali atau leluhur para pengempon pura yang sudah
disucikan. Tak ada yang salah dalam kaitan bahwa umat Hindu selain memuja Tuhan (Hyang
Widhi) dengan Istadewata
yang merupakan “sinar suci Tuhan”, juga ada pemujaan kepada leluhur. Para
leluhur ini dulunya adalah manusia biasa saja, sama dengan kita-kita ini.
Namun, karena ilmu kerohaniannya tinggi dan mencapai moksa dalam kehidupannya,
mereka sudah terbebas dari alur reinkarnasi. Mereka disucikan di sebuah pura
yang bisa jadi dulu merupakan stana
(rumah tinggal) beliau. Maka dikenallah nama-nama bethara seperti Bethara Batumadeg,
Bethara Puncak Kedaton, Bethara Turus Gunung, Bethara Gunung Tengah dan banyak
lagi, semuanya mempunyai “pelinggih” atau tempat suci. Ada yang sudah berupa pura,
ada yang masih “bebaturan” (berupa tumpukan batu).
Dengan konsep
bahwa umat Hindu juga memuja leluhur selain memuja Tuhan (baik langsung mau pun
melalui Istadewata) tak ada yang salah atau harus disalahkan adanya tradisi kerauhan yang sampai kini dijaga di
sejumlah desa tradisional. Karena jelas yang rauh pada saat piodalan itu
hanyalah bethara, yang dahulu kala adalah manusia biasa namun suci. Sedangkan Istadewata atau
para dewa
yang merupakan
sinar suci Tuhan, tak mungkin rauh.
Tak ada orang kerauhan dengan menyebut diri Dewa Wisnu, Dewa Brahma dan sebagainya. Apalagi menyebut kerauhan Tuhan, itu jelas tak mungkin.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar