BAGAIMANAKAH “wujud Tuhan” dalam ritual agama Hindu? Pertanyaan ini tentu
saja mengada-ada. Jangankan wujud Tuhan yang kita puja, wujud Istadewata yang
merupakan percikan sinar suci Tuhan saja tak bisa kita ketahui dengan jelas.
Kita hanya membuatkan wujud para dewa sesuai dengan keinginan kita sendiri
berdasarkan fungsi yang diemban oleh para dewa-dewi yang disebut Istadewata
itu.
Wujud berupa patung dan gambar para dewa itu sendiri juga lebih cenderung
dipengaruhi budaya lokal. Budaya India dan budaya Nusantara khususnya Bali berbeda
dalam menciptakan wujud itu. Dewi Saraswati versi India berbeda sedikit dengan
Dewi Saraswati versi Bali tetapi fungsi Sang Dewi sebagai simbol pembawa ilmu
pengetahuan sama. Misalnya, tangannya empat dan seterusnya. Mungkin yang
mencolok perbedaannya adalah Dewi Durga. Versi India adalah dewi yang cantik
sementara versi Bali menyeramkan.
Namun Tuhan sebagaimana yang disebutkan dalam Weda tidak berwujud dan tidak dapat
digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sansekerta disebut
Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia. Namun Tuhan
Yang Maha Esa bisa diberikan berbagai nama untuk mengagungkan keberadaanNya.
Lantas bagaimana kita memuja Beliau yang tak terpikirkan dan tak berwujud
itu? Maka pandai-pandailah kita menciptakan atribut, baik berupa nama maupun
“simbul perwajahan”, semata-mata untuk alat konsentrasi dalam memuja Tuhan.
Dalam konsep agama Hindu pemujaan dengan cara ini disebut Saguna Brahman.
Artinya Brahman yang memiliki saguna
atau atribut baik berupa nama atau pun “rupa” yang kita buat. Sedangkan apabila kita bisa
memuja Beliau tanpa atribut maka itu disebut Nirguna Brahman. Tak perlu alat
konsentrasi apa pun untuk memuja Beliau.
Berbeda dengan Istadewata yang wujudnya lebih jelas karena fungsinya
sebagai dewa pembawa sinar suci Tuhan, maka umat yang melakukan pemujaan kepada
Tuhan dengan cara Saguna Brahman memakai atribut yang lebih abstrak dan cenderung
berupa simbul. Dalam budaya ritual Hindu di Bali simbul-simbul itu disebut
sebagai pratima. Nah pratima inilah yang dijadikan “alat
konsentrasi” dalam pemujaan kepada Tuhan.
Pratima sebagai alat konsentrasi
memuja Tuhan sudah dikenal sejak Kerajaan Singasari. Konsepnya adalah dalam
Hindu ada empat jalan atau cara memuja Tuhan sesuai Catur Marga. Salah satunya
adalah dengan Bhakti Marga. Dalam Bhakti Marga ini ada yang disebut apara bhakti dan para bhakti. Apara bhakti
adalah memuja dengan penuh cinta kasih namun ada keterbatasan dalam hal
pengetahuan maupun spiritual. Kelompok inilah yang merupakan bagian terbesar
umat, memerlukan adanya pratima atau
simbul Tuhan yang dipuja. Pratima
karena merupakan simbul abstrak dari Tuhan tentu wujudnya bukan wujud dewa-dewi
dalam Istadewata.
Kita bisa lihat di Bali setiap pura yang besar mempunyai pratima. Setiap piodalan pratima itu dihias dan kemana pun
runtutan ritual, pratima itu diusung
sebagai simbul mengusung Tuhan. Apakah itu dibawa ke laut untuk ritual melasti
dan seterusnya. Selama berlangsungnya ritual pratima ditempatkan di tempat yang khusus, biasanya tempat itu
disebut balai pepelik. Ketika
piodalan selesai pratima itu
dikembalikan ke tempatnya, tentu setelah ada ritual mengembalikan “roh” yang
ada di dalam pratima.
Betapa agungnya pratima sebagai
simbul dari perwujudan Tuhan, alat konsentrasi umat dalam memuja kebesaran
Tuhan Yang Maha Esa. Tak ada umat yang berani memperlakukan pratima sebagai “barang yang campah”. Pratima saat diusung diiringi alunan
tembang dan suara genta mau pun gamelan. Dan memang banyak pratima yang dibuat dari bahan emas, sesuatu yang juga untuk
berfungsi mengagungkan Tuhan. Tentu jadi mahal. Karena itu banyak pratima yang menjadi obyek curian para
maling.
Kalau kita sudah tahu bagaimana konsep memuja Tuhan secara Saguna Brahman
lewat pemujaan apara bhakti maka kita
tak mungkin “menyimbulkan” Tuhan itu dengan hal-hal yang kurang agung, apalagi
yang kotor. Misalnya, asap hitam yang mengandung debu vulkanik yang keluar dari
Gunung Agung kita anggap sebagai “simbol Tuhan” yang bersemayam di Gunung
Agung. Begitu pula lahar dingin yang mengalir dari gunung itu kita puja dengan
“banten pemendak” bahkan diiringi gamelan sebagai simbul Tuhan yang bersemayam
di Gunung Agung sedang melakukan perjalanan.
Tuhan Yang Maha Agung memerlukan simbul-simbul pratima yang seharusnya juga dibuat agung. Bukan asap pekat dan
bukan lahar dingin dijadikan pratima.
(Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 2 Des. 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar