CEMPAKA itu nama bunga. Bunga yang harum dan mahal. Yang paling
terkenal di Nusantara ini adalah cempaka putih atau biasa disebut cempaka kantil. Nama latinnya Michelia Alba. Bunga ini dipakai sarana ritual oleh penganut keyakinan tertentu.
Dahlia juga nama bunga. Memang dibandingkan
anggrek dan bakung, dahlia kurang begitu indah dijadikan pajangan. Namun kalau
kita bicara tentang bunga tak bisa nama-nama itu diabaikan.
Bagaimana kalau nama itu tak dikaitkan dengan
bunga? Kaitkan dengan badai, misalnya. Terjadi anomali dan sungguh celaka.
Badai Cempaka sudah meminta banyak korban jiwa. Ada 19 orang meninggal di
berbagai daerah yang mengalami banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.
Siklon tropis alias badai
ini disebut sebagai yang paling dasyat di negeri ini. Jauh lebih dasyat dari Badai
Anggrek pada 2010 dan Badai Bakung pada 2014. Lebih sial lagi, ketika Badai
Cempaka mau meninggalkan perairan laut selatan Jawa, Badai Dahlia datang dari
perairan Lampung.
Cempaka dan dahlia, juga anggrek dan bakung, tidak
seindah dan seharum bunganya jika dikaitkan dengan badai. Mari salahkan Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang diberi hak untuk memberi nama siklon
tropis ini. Kenapa meminjam nama bunga? Kenapa tidak mengikuti Amerika Serikat yang menyiapkan 21 nama badai
setiap tahun dengan nama-nama orang. Bukankah Word Meteorilogical Organization (WMO) yang mengawasi pemberian
nama-nama badai tidak mengharuskan nama tertentu.
Di Amerika nama badai itu Harvey, Irma, Jose, Karina, Cindy, Irene,
Emily, Franklin dan banyak lagi. Yang diatur oleh WMO adalah nama badai tak
boleh sama dalam kurun waktu tertentu dan karena itu dipilihlah nama-nama
sesuai dengan huruf alfabet awal. BMKG memilih nama bunga maka secara alfabet
muncullah nama anggrek, bakung, cempaka dan dahlia. Nanti setelah dahlia entah
apa nama badainya karena nama bunga dengan huruf awal “e” langka. Di Amerika
pun nama badai dengan huruf awal “x”, “q” dan “z” dilewati.
Kenapa
dipilih nama bunga? Ternyata bukan sekadar iseng apalagi ngawur. Sudah dikaji
mendalam sesuai filosofi budaya bangsa yang luhur. Tujuannya mulia agar siklon
tropis yang muncul di negeri ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk.
Nama bunga diberikan agar tidak menimbulkan ketakutan dan sesuatu yang
menyeramkan. Sebelum nama-nama badai ditertibkan oleh WMO pernah ada badai diberi
nama Durga, siklon tropis di
perairan barat daya Bengkulu pada April 2008. Penamaan itu konon menakutkan
karena sejumlah orang terbawa mithos Dewi Durga sebagai Sang Penghancur.
Padahal
filosofi leluhur adalah bencana alam bukan penghancuran. Bencana alam bukanlah
malapetaka tetapi sebuah proses dari semesta untuk mengharmoniskan jagat raya.
Bumi bergerak menyeimbangkan diri dan jika alam ada yang rusak maka manusia
harus introspeksi jangan-jangan ada yang salah dalam merawat bumi. Mungkin hutannya
terlalu banyak ditebang, mungkin ada pemanasan global dan seterusnya. Kita
harus bersahabat dengan alam.
Presiden
Jokowi cukup bijak menanggapi datangnya apa yang disebut bencana belakangan
ini. Jokowi berharap masyarakat tenang dan tidak panik. Gunung meletus di Bali
bisa dijadikan daya tarik tambahan buat wisatawan, katanya. Siklon tropis
hadapi apa adanya, jangan takut. Jadi tak salah badai dasyat ini diberi nama
Cempaka, tak ada yang memaki karena cempaka adalah bunga yang harum. Coba kalau
memakai nama orang seperti di Amerika, namanya bisa saja Badai Cemplon dan
orang mudah memaki-makinya.
(Dari Koran Tempo Akhir Pekan 2 Desember 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar