PARIWISATA
Bali terpuruk. Turis asing membatalkan datang ke Bali. Hotel sepi. Restoran
sepi. Toko-toko yang menjual hasil kerajinan Bali pun sepi. Termasuk pentas seni yang biasa ditongkrongi turis.
Gunung Agung
menjadi penyebabnya. Asap tebal yang keluar dari kawah melambung tinggi dan
abunya ada di atas bandara internasional Ngurah Rai. Bandara pun ditutup dua
setengah hari. Turis terhambat pulang ke negaranya. Angkutan yang menuju
bandara terdekat ternyata juga bermasalah. Turis yang mau datang pun batal.
Sejumlah negara menghimbau warganya untuk menunda perjalanan ke Bali.
Jadi
penyebabnya adalah bandara yang sempat ditutup. Orang was-was kalau
perjalanannya berkaitan dengan Bandara Ngurah Rai. Tapi kini bandara sudah
dibuka. Gunung Agung pun tak lagi mengepulkan asap tebal terus-menerus. Kenapa
turis luar negeri dan domestik belum datang juga?
Media menjadi
penyebabnya. Baik media cetak, media televisi, media online dan yang paling ramai adalah media sosial, apakah itu
FaceBook, Twitter maupun Instagram. Media disalahkan karena pemberitaanya
dianggap bikin takut. Selalu mengabarkan hal-hal yang berlebihan. Berlebihan
itu termasuk soal ketimpangan. Misal, ada media online yang membuat Breaking
News dengan mengabarkan asap mengepul tebal dan ini menjadi isyarat Gunung
Agung akan meletus hebat. Ternyata tidak dan asap kembali tipis tak terjadi
apa-apa. Namun media online itu tak
membuat Breaking News bahwa Gunung
Agung mereda dan kembali tenang. Pembaca tentu mengira Gunung Agung masih
berasap tebal dan tetap menjadi “kabar menakutkan”.
Penyebab yang
beruntun ini membuat pemerintah dan pengelola pariwisata menghimbau media masa
untuk tidak berlebihan. Lalu dikeluarkan slogan yang menyebutkan “Bali Aman”
dan “Bali Layak Dikunjungi”. Ditambah pula dengan penjelasan bahwa obyek
pariwisata jauh dari kawasan bencana Gunung Agung. Apa yang ditakuti? Toh
bandara tidak ada yang ditutup. Presiden Jokowi juga menganjurkan Bali tetap
layak dikunjungi, Bali aman, bahkan para turis bisa menyaksikan panorama indah
Gunung Agung saat meletus. Ini jadi obyek tambahan, kata Jokowi.
Lalu apa
faktanya? Harus jujur mengatakan bahwa semuanya masih takut karena Gunung Agung
tak bisa ditebak kapan meletusnya. Turis takut, bagaimana kalau setibanya di
Bali lalu tak bisa pulang karena gunung mendadak erupsi? Pemerintah pun takut. Bali
Democrasy Forum yang seharusnya berlangsung di Nusa Dua karena namanya saja
Bali, dipindahkan ke Tangerang Banten. Ketakutan itu sama dengan ketakutan
turis asing maupun domestik. Tak ada jaminan setelah beberapa hari di Bali bisa
pulang dengan aman. Bagaimana kalau beberapa jam sebelum ke bandara tiba-tiba
gunung mengepulkan asap hitan yang tinggi sehingga abunya diterbangkan menuju
bandara? Lebih baik tak mencari masalah, itulah yang terjadi baik bagi turis
mau pun pemerintah yang menyelenggarakan Bali Democrasy Forum.
Pemerintah
suka membuat suatu peringatan (bukan dalam pengertian memperingati hari besar)
dengan himbauan maupun peringatan tertulis. Setelah peringatan itu diberikan
tak ada tindak lanjut, tak ada memberi contoh, tak ada pula pengawasan. Bagaimana
rakyat mematuhinya?
Contoh yang
ramai saat ini adalah langkanya gas elpiji isi 3 kg. Di mana-mana terjadi
antrean, karena semua orang bikin stock menjelang Natal dan Tahun Baru. Mereka
antre dengan naik motor bahkan juga membawa mobil. Mereka orang-orang berada.
Bukankah dalam tabung 3 kg itu Pertamina sudah memberi peringatan tertulis:
HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN. Memangnya yang antre itu orang miskin? Kriteria
orang miskin itu sudah ada, yakni seseorang yang dalam keadaan di mana terjadi ketidak-mampuan untuk memenuhi kebutuhan
dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Yang antre elpiji 3 kg itu hampir semua tak sesuai dengan “standar orang
miskin”. Sama dengan di pedesaan Bali, ketika ada pembagian raskin (beras untuk
orang miskin) yang menerima asyik menunggu sambil memencet hand phone.
Ini contoh kebijakan
yang sangat aneh. Kalau memang gas elpiji 3 kg hanya untuk orang miskin, kenapa
dijual bebas di warung-warung? Ya semua orang pasti bisa membelinya. Harganya
cuma Rp 20.000 sementara harga elpiji isi 12 kg, karena tidak disubsidi, harganya
Rp 120.000. Jadi kalau membeli elpiji 3 kg sebanyak 4 saja cuma habis uang Rp
80.000. Sudah berhemat Rp 40.000. Harga subsidi dan nonsubsidi yang jomblang ini
juga dimanfaatkan para pengoplos yang menjual elpiji 12 kg.
Seharusnya pemerintah
punya cara lain untuk menjual elpiji bersubsidi kalau tujuannya untuk membantu
orang miskin, Mengandalkan orang kaya menjadi malu karena ikut berebut barang
untuk orang miskin tak akan terjadi di negeri ini. Korupsi saja tidak malu.
Memakai narkoba bagi pejabat saja tak malu. Pemerintah harus mencari cara baru
mengurangi subsidi gas ini kalau memang sangat memboroskan APBN. Tanpa harus
menjual kemiskinan di tabung gas.
Masih banyak
peringatan yang keluar dari pemerintah tetapi tak ada artinya di masyarakat.
Karena peringatan itu memang bertentangan dengan apa yang dimaksudkan sejak
awal. Satu contoh lagi yang agak mencolok. Di bungkus rokok dan iklan-iklan
rokok ada tulisan: ROKOK MEMBUNUHMU. Maksud pemerintah agar orang tak membeli
rokok setidaknya mengurangi merokok. Kawasan bebas rokok pun digelar di
mana-mana. Setiap provinsi punya peraturan pemerintah (Perda) tentang kawasan
tanpa rokok.
Apa yang terjadi
sekarang? BPJS Kesehatan defisit besar setiap tahun. Saat ini defisitnya sampai
Rp 7 trilyun. Pemerintah bingung mencari uang karena Presiden Jokowi fokus
membangun infrastruktur. Akhirnya atas restu Menteri Keuangan defisit BPJS itu
diambil dari cukai rokok. Besar cukai yang diambil sampai Rp 5,5 trilyun.
Pemerintah akhirnya
seperti mengajak orang ramai-ramai merokok agar cukai rokok semakin besar.
Siapa tahu tulisan di bungkus rokok lain kali diganti menjadi ROKOK
MENYEHATKANMU. Gara-gara orang merokok pasien tak lagi ditolak di rumah sakit
hanya karena rumah sakit khawatir tak dibayar BPJS.
Jika begini
terus-menerus apa pun peringatan dan himbauan pemerintah akan menjadi mubazir
karena rakyat melihat pemerintah tidak konsisten. Kembali pada himbauan agar
turis tak takut ke Bali karena dinyatakan Bali aman, ya, berilah contoh yaitu
jangan batalkan apa pun acara kenegaraan di Bali. Jika perlu ditambah lagi
acara-acara itu.
(Mpu Jaya Prema 9 Desember 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar