APAKAH Anda
termasuk ke dalam masyarakat yang tergolong miskin? Mungkin tidak. Karena
menurut Wikipedia kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi ketidak-mampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan.
Anda, seperti yang
saya lihat di televisi dan di koran, sudah melewati kebutuhan dasar itu.
Pakaian bagus, naik motor dan malah ada yang membawa mobil. Nampak sehat dan
sigap untuk berebut barang. Dan barang yang Anda perebutkan itu adalah tabung
gas elpiji isi 3 kg. Anda bukan miskin, tetapi saya menduga Anda buta huruf,
tak bisa membaca – sesuatu yang agaknya aneh. Sudah jelas di badan tabung
elpiji 3 kg itu ada tulisan mencolok: HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN. Kenapa
Anda ikut antre dan berjuang untuk berebut barang yang jelas-jelas diniatkan
pemerintah untuk orang miskin?
Saya ingat di suatu
hari berada di kantor kelurahan pas ada pembagian raskin (beras untuk orang
miskin). Seseorang protes karena namanya tak tercantum dan lurah meminta agar
dia kontak langsung ke kantor camat yang membuat daftar penerima raskin. Benar saja
orang itu langsung menghubungi staf camat lewat hape-nya. Waktu itu saya kaget dan bertanya ke Pak Lurah, kok ada
orang miskin memiliki hape? Lurah
tertawa: “Di kampung ini semua orang termasuk yang miskin punya hape.” Sekarang saya paham meski pun sedikit
kaget karena hape itu dipakai sarana
untuk main togel.
Data dari Badan
Pusat Statistik, penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,77 juta pada Maret
2017. Persentase dengan jumlah penduduk seluruh negeri adalah 10,64 persen. Karena
itu pemerintah mengucurkan subsidi untuk banyak hal, termasuk elpiji. Sebelum
proyek “mengelpijikan masyarakat” ada pembagian kompor gas gratis untuk orang
miskin. Pemerintah cerdas.
Tapi masyarakat lebih cerdas lagi.
Karena penjualan elpiji 3 kg bebas di warung-warung, orang ramai-ramai membeli
gas melon – karena tabungnya mirip buah melon. Tak peduli orang kaya. Yang
lebih cerdas lagi para pengoplos. Tabung melon di warung paling mahal Rp
20.000. Ada pun tabung elpiji isi 12 kg, karena tanpa subsidi, harganya Rp
120.000. Para pengoplos bermodal 4 tabung melon dimasukkan ke tabung 12 kg,
maka untungnya sudah Rp 40.000. Sudah berapa banyak pengoplos yang tertangkap
polisi, tetapi tak jera.
Tiba-tiba pemerintah “pura-pura bingung”
kok target subsidi elpiji melonjak terus? Target awal 6 juta metrik ton,
realisasi 2017 sampai 7,1 juta metrik ton. Kini mau dikembalikan ke 6,1 juta metrik
ton sambil memberikan peringatan “hanya untuk masyarakat miskin”. Terjadilah
kelangkaan elpiji 3 kg itu karena banyak orang yang tak membaca peringatan di
tabung melon.
Kebijakan subsidi model elpiji ini aneh
bin ajaib. Seolah-olah bangsa ini punya rasa malu disebut miskin, lalu mau membeli elpiji 12 kg. Memang siapa
yang malu? Di rumah gedongan pun ada tabung melon – kan yang membeli pembantu
rumah tangga. Beda dengan subsidi premium. Pemerintah berhasil menekan
penjualan premium karena masyarakat diyakinkan dengan memakai pertalite atau pertamax
kendaraan lebih mulus. Malah untuk jarak jauh pertalite lebih irit. Selisih harga
Rp 900 per liter dibanding premium ditebus karena faktor irit itu. Coba telisik
SPBU di Bali, misalnya, kebanyakan ada tulisan “Premium habis”. Wong tangkinya dibiarkan kosong.
Dalam hal elpiji tak ada beda gas di
tabung 3 kg dengan gas di tabung 12 kg. Seharusnya pemerintah lebih cerdas memikirkan
cara lain untuk subsidi gas ini tanpa harus menjual kemiskinan.
(Dari Koran Tempo Akhir Pekan 9 Desember 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar