APA yang dimaksudkan dengan kapongor? Kata ini mungkin tidak dikenal di seluruh Bali. Yang
dimaksudkan adalah para leluhur yang sudah berstatus Ida Bethara, murka kepada pratisentana alias keturunannya.
Marah
atau murka itu tanda-tandanya bisa bermacam-macam. Tergantung situasi dan
kondisi di mana umat yang kapongor itu
berada. Juga tergantung kepercayaan karena tidak semua orang percaya bahwa Ida
Bethara bisa marah-marah.
Kapongor itu
bisa karena hal-hal yang kecil. Tipis bedanya antara takhayul dan keyakinan
berdasarkan sastra agama. Misalnya, tidak boleh menanam pohon kelapa di
pekarangan rumah nanti bisa kapongor.
Sejauh mana ada pijakan sastra agamanya, orang tak mau tahu. Mungkin saja ini
semacam nasehat para orang tua karena berbahaya pohon kelapa di halaman rumah.
Kalau nanti kelapanya berbuah lalu jatuh menimpa anak-anak yang masih kecil, kan berbahaya. Itu menjadi bukti Ida Bethara marah.
Di sebuah kuburan desa adat ada pohon kepuh yang besar tetapi tua. Pohon ini berbahaya karena
sewaktu-waktu bisa roboh. Bagaimana kalau robohnya pas ada upacara ngaben di kuburan adat itu? Tahu bahwa pohon itu
dikeramatkan maka tak ada warga desa yang berani menebangnya. Lalu ada pemikiran
bagaimana kalau dicari “tukang sensor” dari Jawa untuk menebangnya. Kalau
Bethara marah biarlah tukang dari Jawa itu yang menimpa amarah. Ternyata tak terjadi apa-apa. Ida Bethara dan semua mahkluk halus yang
menghuni setra tak ada yang marah. Setra itu pun jadi
asri dan di bekas
pohon kepuh itu dibangun balai.
Akhir bulan lalu ada pohon besar
yang tumbang di Pura Mekori, Desa Belimbing, Kabupaten Tabanan. Pohon ini
cabangnya banyak dan tentu sudah tua, tetapi tak ada yang berani memotongnya
karena dalam wilayah pura. Ketika tumbang menghalangi jalan dan macet pun
terjadi. Bahkan ada korban jiwa penduduk yang berumah di seberang jalan. Ida
Bethara lagi marah, kata sejumlah penduduk. Seharusnya ini jadi peringatan
untuk pohon besar yang lain di pinggir jalan raya. Badai sedang mengancam,
banyak pohon tumbang.
Masih ada penduduk yang tinggal
di kawasan rawan bencana Gunung Agung yang tak mau mengungsi hanya karena takut
kapongor (dimarahi Ida Bethara).
Alasannya ada merajan yang harus
selalu diberikan sesajen setiap rahinan.
Mereka ini seolah-olah bisa membuktikan bahwa betapa pun asap keluar pekat dari
kawah gunung kalau Ida Bethara tidak marah tak akan terjadi apa-apa. Nah ini
soal keyakinan, harus dibujuk dengan lebih halus bahwa dalam erupsi gunung ini
tak ada masalah apakah Ida Bethara murka atau tidak. Ini semata-mata soal alam.
Berkaitan erat dengan istilah kapongor ini adalah adanya balian (dukun) yang seolah-olah bisa
menurunkan para leluhur yang sudah menjadi Ida Bethara dan berdialog dengan keturunannya.
Lewat perantaraan balian inilah
biasanya dipercayai adakah kesalahan
yang dilakukan keturunannya sehingga leluhur itu murka dan memberikan hukuman.
Masyarakat Bali terutama di pedesaan masih percaya pada balian jenis ini yang biasa disebut: balian meluasang, balian baas pipis, balian dasaran, atau sebutan lainnya. Yakni balian yang entah dengan teknik atau
ilmu apa, dipercaya bisa menjadi perantara dari roh orang yang sudah tiada.
Atau kalau tidak “kemasukan roh” seolah-olah tahu dan bisa menebak segala
sumber yang jadi pangkal masalah yang diderita
oleh mereka yang datang ke balian itu. Dari
sinilah kemudian muncul berjenis-jenis kapongor karena berbagai hal. Kapongor salah upacara, kapongor
salah banten, kapongor salah memberi
nama anak kecil, dan sebagainya.
Masyarakat harus diberi bekal
sastra agama yang benar bahwa Tuhan dan para leluhur yang sudah “menyatu dengan
Tuhan” tak punya sifat pemarah. Tuhan Maha Penyayang, Tuhan Maha Kasih dan
Tuhan Maha Pengampun. Bahwa manusia yang hidup di dunia ini diberi cobaan
seperti sakit, itu adalah bagian dari perjalanan hidup dalam suka dan duka. Ada
istilah di Bali: suka duka lara pati.
Senang, sedih, sakit dan meninggal adalah semata-mata sebuah perjalanan atau
siklus yang harus dilalui. Justru harus ada anggapan bahwa sedih dan sakit itu
adalah cara Tuhan untuk memberikan kita peringatan, mungkin ada hal-hal yang
salah kita lakukan. Ada pun kematian adalah puncak dari kelepasan kita terhadap
semua hukuman dunia, seharusnya kita menyongsong ketenangan abadi itu tanpa
rasa takut.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 9 Desember 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar