BENCANA
yang dimaksudkan adalah bencana alam. Misalnya gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, angin puting
beliung, gunung meletus. Semua bencana ini tentu tidak diharapkan datangnya.
Karena bencana bisa mendatangkan korban, baik itu korban jiwa mau pun korban
material.
Coba
saja kita amati belakangan ini, betapa banyaknya korban akibat bencana alam.
Infrastruktur di sejumlah daerah lumpuh. Ada jembatan yang diterjang banjir,
ada jalan yang ketimbun tanah longsor, rumah penduduk yang hancur oleh angin
puting beliung. Ini korban badai Cempaka di Jawa, sedangkan di Bali ada gunung
meletus.
Apakah
bencana ini sebuah kutukan dari Sang Penguasa Alam. Apakah Tuhan murka sehingga
memberikan hukuman kepada umatnya di dunia? Barangkali memang ada keyakinan
seperti itu bahwa setiap bencana adalah pertanda murkanya Tuhan sehingga
hukuman pun diberikan kepada manusia. Namun dalam konsep ajaran Hindu dan juga
keyakinan para leluhur Nusantara, bencana tak ada kaitannya dengan kemarahan
Tuhan dan Tuhan bukanlah Sang Pemarah.
Apa
yang disebut bencana itu adalah pergerakan bhuwana
agung (bumi yang didiami manusia) menuju keharmonisannya. Bhuwana agung seperti halnya bhuwana alit (manusia) adalah sesuatu
yang hidup, sesuatu yang terus berproses. Kalau prosesnya berhenti maka tak
akan ada keseimbangan.
Ini
satu sisi dari proses alam. Dalam keyakinan menyangkut proses kehidupan, ada
lahir hidup dan mati. Ada penciptaan (stiti),
ada kehidupan (utpeti), ada kematian
(pralina). Kematian harus diperluas
artinya sebagai suatu peleburan. Proses peleburan ini melahirkan kehidupan yang
baru. Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga alam tetap harmonis. Bencana
tak harus ditakuti tetapi harus dihadapi dengan tenang.
Rupanya
konsep keyakinan leluhur yang juga ajaran Hindu ini diterapkan dengan baik oleh
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG) sehingga dalam penamaan badai tropis yang terjadi di Indonesia
menggunakan nama bunga. Badai tropis yang baru saja terjadi bernama Badai
Cempaka, yang menyusul datang adalah Badai Dahlia. Tahun 2010, awal dari
penamaan memakai bunga ini nama badainya Anggrek. Dan tahun 2014 namanya Badai
Bakung. Jadi semua nama bunga sesuai dengan urutan alfabet. Tujuannya sangat
mulia yakni agar badai-badai itu tidak menjadi sesuatu yang menakutkan karena
ini adalah proses alam yang tak bisa dicegah oleh manusia, betapa pun
canggihnya teknologi.
Di
Amerika Serikat nama-nama badai itu diambil dari nama yang mirip nama orang.
Bahkan kebanyakan nama-nama yang menunjukkan nama seorang wanita. Misalnya,
Irma, Jose, Katrina, Cindy, Irene, Emily, Franklin dan banyak lagi. Penamaan
badai ini diatur oleh Word Meteorilogical
Organization (WMO), badan dunia yang mempelajari dan mengamati pergerakan
badai. Namun WMO tidak mengatur keharusan nama tertentu yang penting adalah
konsisten dan berurutan secara alfabet (huruf yang pertama) untuk memudahkan
penyebutan. Dan BMKG memilih nama-nama bunga dengan urutan dari awal anggrek,
bakung, cempaka dan dahlia. Setelah dahlia mungkin akan dicarikan nama bunga
yang berawal huruf “e”, tetapi kalau tidak ketemu bisa saja dilewati dengan
alfabet yang lain. Di Amerika pun yang sudah menyiapkan 21 nama badai, nama
badai dengan huruf awal “x”, “q” dan “z” dilewati.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, menyebutkan
penamaan siklon tropis dengan nama-nama bunga sudah diajukan sejak awal
pertemuan internasional saat BMKG Indonesia diakui oleh Komisi BMKG se-Dunia. Nama Badai Anggrek dijadikan langkah awal pada tahun 2010 setelah ada penertiban nama-nama badai itu.
Sebelumnya pernah ada badai disebut Badai Durga. Ternyata ini membuat takut
orang karena penamaan itu memakai nama Dewi Durga yang dianggap menyeramkan.
Jadi
intinya adalah bagaimana belajar dari filosofi leluhur di masa lalu bahwa
bencana alam bukan penghancuran jagat raya. Bencana alam bukanlah malapetaka
tetapi sebuah proses dari semesta untuk mengharmoniskan jagat raya. Bumi
bergerak menyeimbangkan diri dan jika alam ada yang rusak maka manusia harus
introspeksi jangan-jangan ada yang salah dalam merawat bumi. Mungkin hutannya
terlalu banyak ditebang sehingga muncul banjir. Mungkin ada pemanasan global sehingga
mudah bibit-bibit siklon tropis menguat menjadi badai. Kita diajak harus
bersahabat dengan alam.
Presiden Joko Widodo
pun menanggapi datangnya apa yang disebut bencana belakangan ini sebagai hal
yang harus dihadapi dengan tenang. Jokowi mengajak masyarakat tidak panik. Bahkan
dalam hal erupsi Gunung Agung di Bali, presiden menyebutkan bisa dijadikan daya
tarik tambahan buat wisatawan. Bali masih aman untuk dikunjungi. Bahwa terjadi
masalah seperti bandara yang “buka tutup” lama-lama akan menjadi kebiasaan
bagaimana kita hidup di daerah bencana.
Ini penting untuk
dipahami masyarakat Bali. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Gunung Agung.
Apakah erupsinya secara “normal” dalam arti meletus dengan besar setelah itu
selesai dan bertahun-tahun tidak lagi meletus. Seperti letusan tahun 1963 yang
begitu dasyat. Namun setelah itu tak ada lagi letusan sampai pada tahun 2017
ini. Artinya selama 54 tahun Gunung Agung menunjukkan kedamaiannya.
Atau erupsi dengan
cara yang tidak “normal” seperti Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Sudah sejak
3 tahun erupsi dan sampai sekarang masih berlanjut. Dalam arti kadang meletus
kadang tidak tetapi gerakan magmanya tetap berlangsung. Jika ini terjadi pada
Gunung Agung, mudah-mudahan saja tidak, maka banyak hal yang bisa berubah dalam
pola hidup masyarakat terdampak bencana. Kawasan rawan bencana tetap harus
kosong dan penduduk mungkin perlu pemukiman baru (relokasi) seperti halnya di
Sinabung. Dampaknya makin meluas karena ada pura besar di lereng Gunung Agung,
sebut saja Pura Besakih, Pura Pasar Agung dan banyak yang lainnya. Tentu umat
tak bisa leluasa melakukan persembahyangan di sana.
Tapi apa pun yang
terjadi marilah kita tidak “menyalahkan Tuhan” dalam kasus bencana yang terjadi
belakangan ini. Juga tidak menuduh bahwa orang-orang yang ada di daerah bencana
sedang menjalani hukuman dari Tuhan. Ini semata-mata alam sedang berproses mencari
jalannya sendiri untuk harmonisasi.
(Mpu Jaya Prema - 4 Desember 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar