SAUDARA kita
umat Kristiani sedang dalam suasana merayakan Hari Natal. Sangat baik kalau
hari-hari ini kita berbicara tentang cinta kasih yang dikaitkan dengan
kedamaian. Apalagi tema perayaan Natal tahun ini adalah “damai dan kasih”.
Sekaligus kita ingin mengucapkan Selamat Merayakan Natal untuk saudara-saudara
kita yang berlainan iman itu.
Kasih yang
sering diawali dengan kata cinta yang kemudian membentuk istilah cinta kasih
sejatinya adalah sebuah tanggung jawab untuk menciptakan keserasian,
keseimbangan dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan
lingkungan dan antara manusia dengan Tuhan. Umat Hindu menyebutkannya sebagai
Tri Hita Karana.
Kasih itu
ada di dalam setiap agama. Umat Kristiani, misalnya, menyebutkan: “Cintailah
Tuhan Allah-mu dengan segenap hatimu. Cintailah sesama manusia seperti
(mencintai) dirimu sendiri. Ungkapan ini diambil dari Matius 12: 29-31.
Dalam ajaran
Buddha ada yang disebut Metta, cinta kasih yang tak terbatas kepada semua
makhluk dan tanpa pamrih. Metta adalah semangat persaudaraan, persahabatan,
pengorbanan yang memandang makhluk lain sama dengan dirinya sendiri. Metta
adalah juga suatu keinginan untuk membahagiakan makhluk lain dengan menyingkirkan
kebencian dan keinginan yang jahat.
Bukankah agama
Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu peduli kepada sesama dengan hidup
bersama dan saling kasih-mengasihi. Dalam kitab Sarasamuccaya sudah disebutkan manusia
yang dilahirkan ke dunia adalah makhluk yang utama dan mulia jika dibandingkan
dengan makhluk-makhluk hidup lainnya. Dengan keutamaan ini diharapkan dapat
meningkatkan taraf hidupnya ke jenjang yang lebih berkualitas. Tujuannya adalah
hidup yang harmonis, damai dan bahagia. Dengan kata lain, mengejar tujuan hidup di dunia, yaitu jagadhita
dan moksa.
Yajur Veda 26.2 menyebutkan:
"mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantam, mitarsya aham caksusa
saruani bhutani samikse, mistrasya caksusa samisamahe'". Terjemahannya
"semoga semua makhluk memandang kami dengan pandangan mata seorang
sahabat, semoga kami pandang-memandang dengan pandangan mata seorang
sahabat". Maksudnya adalah orang memandang kita dengan rasa persahabatan
dan kita pun saling memandang dengan persahabatan pula. Hanya kedamaian yang
bisa menciptakan suasana seperti ini.
Karena
itulah untuk memperoleh kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan,
setiap orang harus hidup dalam nuansa persahabatan. Ini berarti hidup saling
kasih mengasihi, menjauhi kebencian dan selalu mendambakan kedamaian. Hidup
yang selaras, serasi dan seimbang. Hidup yang penuh dalam suasana rukun,
tenteram, damai dan bahagia.
Ada ajaran
Hindu yang tak bisa dilepaskan dari masalah cinta kasih, hidup rukun dalam
suasana ketentraman yang ada di alam Chandogya
Upanisad. Yakni ajaran Tatwamasi. Arti simplenya adalah “aku adalah
kau”. Apa yang aku rasakan akan kau
rasakan pula. Begitu sebaliknya, apa yang kau rasakan akan kurasakan pula.
Dalam pengertian yang lebih “mendalam” bisa
pula diartikan bahwa “semua makhluk yang ada di dunia ini adakah Kau” dalam
pengertian Kau adalah Tuhan itu sendiri. Jadi aku sebagai makhluk adalah
berasal dari Kau – dalam pengertian Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang penting dari ajaran
Tattwamasi ini adalah kesadaran bahwa kebahagiaan dan penderitaan makhluk lain
berarti kebahagiaan dan penderitaan diri kita sendiri.
Mengamalkan
ajaran Tattwamasi ke dalam bentuk perbuatan yang nyata adalah wujud dari
penerapan kasih dalam hidup ini. Membantu fakir miskin, membantu orang yang terkena
musibah adalah contoh-contoh yang nyata. Karena itu selain erat berkaitan
dengan keharmonisan yang sesuai dengan Tri Hita Karana juga diterapkan dalam
kehidupan yang mengamalkan Tri Kaya Parisudha. Berpikir yang baik, berkata yang
baik dan berbuat yang baik.
Marilah
dalam suasana saudara kita umat Kristiani merayakan Natal kita tiupkan pesan
damai dan kasih semoga persaudaraan kita sebagai sesama umat manusia terwujud
dengan baik. Kita satu bangsa bahkan satu umat dunia, kita hanya berbeda dalam
iman tetapi tidak dalam menciptakan kedamaian yang bersumber dari kasih. Ada pesan dalam Weda yang patut direnungkan,
yaitu ahimsa paramo dharma, dharma himsa
tathaiva cha. Artinya melakukan tindakan yang jauh dari kekerasan adalah
dharma yang tertinggi.
(Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 23 Desember 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar