NATAL
bersama di Jakarta batal digelar di Monumen Nasional. Berita ini jadi headline sejumlah media, termasuk di
daerah yang jauh dari Jakarta. Saya bertanya-tanya di mana subjek berita ini.
Pada Natal ataukah Monumen Nasional?
Andai
pada Natal, siapa yang diuntungkan jika perayaan itu dilangsungkan di Monumen Nasional?
Andai subjeknya Monumen Nasional alias Monas sebagai sebuah tempat, adakah
tradisi perayaan Natal di alun-alun yang terbuka? Mungkin ada, bahkan sering,
tetapi saya tak memperhatikan. Yang banyak saya lihat perayaan itu dilakukan di
tempat tertutup dan tentu saja di gereja. Di situlah “rumah” Tuhan.
Lalu
kata “batal” tentu tak ujug-ujug muncul. Pasti sebelumnya ada “persetujuan” atau
“harapan” bahwa perayaan itu dilangsungkan di Monas. Ternyata memang ada dua
pertemuan sebelumnya dan pada pertemuan ketiga hal itu dibatalkan. Pertemuan
dilangsungkan di Balai Kota yang dihadiri Gubernur Anies Baswedan.
Ingin
bertanya, kenapa repot amat Gubernur Anies mengurusi perayaan Natal? Maaf, pertanyaan
itu saya batalkan. Saya harus percaya bahwa Gubernur Anies adalah gubernurnya
warga Jakarta yang beragam agama. Apalagi biaya untuk Natal itu dianggarkan
oleh Pemda DKI Jakarta. Ini bagus meski sahabat saya, Romo Benny Susetyo,
menyebut lebih baik anggaran itu diberikan kepada fakir miskin.
Saya jadi
bertanya-tanya, ada apa dengan Monas? Monumen itu dibangun Bung Karno dengan
konsep “lingga-yoni”, ajaran Hindu tentang pertemuan lelaki dan perempuan (purusa-pradana) sebagai lambang kesuburan dan kesatuan harmonis
yang saling melengkapi. Namun belakangan ini citra Monas menjadi milik agama
tertentu, yang tentu saja bukan Hindu. Berjilid-jilid ada aksi bela agama di
sana dan entah kenapa (benar atau tidak) orang mengaitkan aksi itu dengan
terpilihnya Anies Baswedan sebagai
gubernur. Sentimen agama berbaur dengan politik. Barangkali Anies tak enak hati
dengan itu, lalu digagaslah “monas milik semua agama”. Perayaan Natal – dan
besar kemungkinan Nyepi di bulan Maret nanti — bisa dilangsungkan di sana
dengan biaya Pemda DKI.
Sayang
gayung tak bersambut. Perayaan agama atau aksi bela-bela agama punya tradisi
dan kekhasan yang tak bisa serta-merta diseragamkan. Lebih-lebih lagi Monas sudah
terkesan sebagai tempat gerakan bela agama dengan kibaran bendera dan poster,
dengan genggaman tangan yang terus mengacung, dan pekik lantang berbagai
tuntutan. Juga ancaman boikot-memboikot. Sementara Natal adalah kidung-kidung
syahdu, kotbah tanpa yel teriakan, dan bunyi lonceng yang justru membuat hening
seolah-olah semua orang menghitung dentingnya dalam hati.
Batal
perayaan Natal di Monas. Tapi itu tak harus dianggap gagal untuk menaikkan
citra Monas. Besar kemungkinan umat Hindu akan menggunakan Monas untuk perayaan
Nyepi – kalau tetap konsepnya “Monas milik semua agama”. Toh yang dirayakan
bukan keheningan Nyepi, tetapi hura-hura “mengeroyok” simbol-simbol kejahatan
lewat patung ogoh-ogoh sehari sebelum
Nyepi. Adalah Presiden Abdurahman Wahid yang membawa ogoh-ogoh itu ke monas, diarak mengelilingi “lingga-yoni”.
Lebih baik
lagi menaikkan citra Monas dengan menjadikannya taman yang ramah untuk beragam
orang. Monas yang seperti dulu, ketika saya lari pagi menyapa orang tanpa
bertanya apa agamanya, ketika anak-anak berkeliling naik andong, ketika
menikmati air mancur yang menyanyi seraya melirik ibu-ibu yang bergerak dalam
irama yoga. Kita butuh taman di mana urusan keyakinan bagaimana kita memuja
Tuhan tak ada yang mempersoalkan.
(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 23 Desember 2017)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar