BULAN lalu ada berita kecil. Parisada Hindu Dharma
Indonesia (PHDI) Bali meminta klip Gayatri dengan nada rock yang ditayangkan di
sebuah televisi lokal di Bali distop penyiarannya. Gayatri Mantram dengan nada
rock itu produksi Bintang K-Rock. Tayangan ini sebagai selingan acara televisi.
Kenapa Mantram Gayatri dengan nada rock itu baru
dicekal PHDI? Padahal sejak diunggah di
YouTube 7 September 2012 sudah dilihat oleh 136 ribu orang. Lagi pula Mantram
Gayatri sudah ada berbagai versi, tak cuma rock ada juga yang reggae. Cobalah
buka YouTube. Mantram Gayatri ada banyak sekali. Nadanya pun bermacam-macam.
Penyanyinya yang terkenal, misalnya, Mohandhi Shobane, Lata Mangeshkar, Anuradha
Paudwal, Shekhar Ravjiani, Jagjit Singh. Ini gaya khas India yang melantunkan
lagu spiritual dengan riang gembira, tetapi ada perbedaan satu dengan lainnya.
Begitu pula versi Indonesia. Gayatri Mantram
ditembangkan oleh banyak penyanyi. Ada yang dinyanyikan Dek Ulik, Tri Utami bersama
Dewa Bujana, Gek Tia. Ada yang disebut versi Bali TV lantaran tiap pagi
ditayangkan di stasiun televisi itu, ada versi Majapahit yang berbeda pula
dengan versi Jawa. Ada pula versi Dayak yang bagi telinga tertentu seperti
tembang para dukun, ada yang kini amat digandrungi diputar di desa-desa yang
dilantunkan Luh Camplung, nama asli Jero Murniati, penari arja dan karyawan RRI
Denpasar. Ada versi Seruling Dewata yang cocok untuk meditasi. Tentu juga ada
gaya reggae dan rock seperti yang dicekal PHDI Bali itu.
Masih banyak versi lainnya. Teks mantram itu sendiri
tak ada yang diubah-ubah. Ada yang ngelangenin, ada yang seperti kidung, ada
yang mirip kekawin. Begitu pula ada yang diniatkan untuk yoga dan ada untuk
meditasi. Versi India yang penuh keceriaan itu banyak untuk melakukan kirtanam (mengulang-ulang pemujaan)
kepada Dewi Gayatri, karena itu pengulangan disesuikan dengan japamala sebanyak
108 kali.
Kenapa Gayatri Mantram Rock harus dilarang? Gayatri
Mantram tertulis di dalam Reg Weda III.62.10 yang oleh para tetua kita di Bali
dijadikan sebagai mantram utama dan pembuka dari Puja Trisandya. Bunyinya: OM,
Bhur bhuvah svaha, Tat Savitur Warenyam, Bhago devasya Dhimahi, Dhiyo yo Nah
Pracodayat. Artinya: Oh Tuhan Engkau adalah pemberi hidup,
pelebur rasa sakit, penderitaan dan kesedihan, perwujudan dan pemberi
kebahagiaan. Oh pencipta alam semesta, semoga kita menerima cahaya-Mu
yang meleburkan dosa kita, semoga Engkau menuntun akal pikiran kita ke arah
yang benar.
Wahyu Weda
ini diterima oleh Maharsi Wiswamitra, yang merupakan salah satu Sapta Rsi yang
menerima wahyu langsung dari Tuhan. Kekuatan mantram ini luar biasa, apalagi
jika dilantunkan dengan berulang-ulang, dipakai sarana berjapa. Bisa meneduhkan
hati, mengurangi kecemasan dan mengusir mara bahaya.
Dengan cara apa kita melantunkan Gayatri Mantram? Tidak
ada yang baku. Semuanya baik tergantung budaya lokal. Kalau kita sendirian atau
bersama kelompok yang sudah sama-sama sepakat, apa pun iramanya bisa saja
dilakukan. Mau irama sendu seperti mekidung di Bali, atau bercorak ria seperti
di India, tak ada yang salah. Cara
terbaik adalah bagaimana kita melantunkan itu dengan tanpa beban, dan hati kita
tersentuh untuk melantunkannya. Jangan melantunkan dengan keterpaksaan atau
melantunkan mantram teramat suci itu dengan hati yang kurang bisa menerimanya. Kalau
Ketua PHDI Bali menyebutkan Gayatri Mantram harus dilantunkan dengan teduh dan
sendu, itu salah besar. Tak semua orang tersentuh dengan satu gaya saja.
Yang penting adalah lihat situasi dan kondisi atau
orang Bali bilang desa kala patra.
Sesuaikan dengan lingkungan sekitar. Kalau di pura dalam kaitan dengan
persembahyangan, apakah Gayatri Mantram dilantunkan berulang-ulang atau
dilantunkan sebagai pembuka dari Puja Tri Sandhya, maka pakailah gaya yang
sudah disepakati secara umum. Biasanya disebut “gaya walaka” seperti yang
dilakukan anak-anak sekolah atau dalam rapat-rapat. Janganlah di pura
menembangkan Gayatri Mantram gaya rock arau reggae. Gaya Luh Gamplung dan Bali
TV sebenarnya cocok dengan lingkungan pura, namun terbatas pada selingan acara.
Kalau dijadikan tembang bersama apa semua orang hafal? Demikian pula untuk
siaran di radio dan televisi, Puja Trisandhya memakai “gaya kekawin”. Jadi
semuanya harus disesuikan dengan lingkungan. Karena itu Gayatri Mantram gaya
rock sebagai selingan acara di televisi tak ada salahnya karena ini bukan untuk
ritual. Kalau tak suka matikan televisi.
(Pandita Mpu Jaya Prema Ananada 16 Desember 2017)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar