19 November 2017

Surga tak Jauh dari Kita

ISTILAH paling ramai dibicarakan belakangan ini dalam kaitan dengan agama adalah surga. Apalagi surga ini dibawa-bawa ke masalah politik. Beda pilihan politik maka surga pun jadi alat untuk menyerang pilihan lawan. Seolah-olah ada kelompok yang sudah memegang kunci surga, di luar kelompok itu tertutup untuk surga.
 
Di luar urusan politik surga pun dipakai alat oleh kaum teroris untuk niat jahatnya dengan merekrut orang-orang yang dijadikan korban untuk melakukan pembunuhan. Orang-orang yang bersedia meledakkan bom bunuh diri dengan dalih berbuat jihad disebutkan akan mendapatkan surga. Bahkan di surga akan dijemput oleh para bidadari dengan pesta seks yang tak ada habis-habisnya. Seolah-olah orang yang sudah meninggal dunia rohnya masih saja punya nafsu, termasuk nafsu seks.

Di manakah letak surga itu? Tentu tak ada orang yang tahu karena orang yang meninggal dunia dan kemudian misalnya mendapatkan surga tak pernah bisa hidup lagi untuk menceritakan letak surga itu. Karena keterbatasan sumber-sumber ajaran agama di masa lalu, para tetua kita ada yang melahirkan istilah bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu. Apa yang dimaksudkan dari ungkapan sederhana ini? Hanya orang yang sujud kepada ibu adalah orang yang berbakti. Ibu bukan saja melahirkan keturunan tetapi kasihnya sepanjang masa. Sudah pantas di telapak kaki ibulah letak surga.

Umat Hindu boleh bangga bahwa umat lain ribut-ribut soal surga padahal konsep surga yang paling jelas ada di dalam ajaran Hindu. Surga itu sendiri adalah bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Sansekerta, bahasa yang dipakai di dalam Kitab Weda. Dalam bahasa Sansekerta aslinya adalah “svarga” kemudian “swarga”. Dan “letak” surga itu sendiri berlapis-lapis yang semuanya ini merupakan simbol belaka.


Surga itu bukanlah tempat yang permanen dan untuk selama-lamanya bagi penghuni yang “singgah” di sana. Surga hanyalah “tempat persinggahan sementara” bagi roh manusia atau Sang Atman sesuai perbuatannya di dunia, tentu perbuatan yang dianggap baik. Tujuan akhir dari perjalanan Sang Atman adalah “ketenangan abadi” dan pembebasan dari siklus kelahiran, dan itu disebut moksha. Itulah “dunia Tuhan” karena itu umat Hindu menyebutkan amor ring Achintya alias menyatu dengan Tuhan. Namun karma seseorang tak selalu berhasil amor ring Achintya lebih banyak yang harus kembali lagi menyelesaikan karmanya di dunia dan lahir kembali ke dunia. Itu disebut punarbhawa atau bahasa kerennya reinkarnasi.
Inilah dasar-dasar agama Hindu yang dihimpun dalam Panca Srada, percaya pada Atman, percaya pada Brahman, percaya pada Karmaphala, percaya pada Punarbhawa dan percaya pada Moksha. Ada dua hal yang sepertinya berseberangan yakni di satu pihak percaya ada kelahiran kembali (punarbhawa) tetapi di pihak lain harus percaya adanya Moksha, kedamaian abadi.
Berada dalam suatu “tempat sementara” sesuai dengan karmaphala, tempat itulah yang dinamai surga untuk yang karmaphalanya bagus dan neraka untuk yang karmaphalanya buruk. Ini dijadikan pelajaran bahwa seseorang itu harus berbuat baik di dalam kehidupannya di dunia.
Namun, pelajaran lainnya juga masih ada, karena begitu kayanya kitab suci sebagai wahyu Tuhan, banyak istilah yang sama dengan penafsiran yang berbeda. Dalam kitab Sarasamuccaya ada pula istilah surga disebut. Yakni pada sloka 71 yang berbunyi: Indriyanyewa tat sarwam yat swargana rakawubhau, nigrhitanissrstani swargaya narakaya ca. Terjemahan bebasnya adalah “yang patut diuraikan adalah bahwa kesuksesan dalam pengendalian nafsu dianggap pencerminan dari surga dan neraka, jika nafsu bisa dikendalikan maka itulah surga tetapi jika tidak berhasil dikendalikan maka itu neraka.”

Jadi menurut Sarasamuccaya, surga dan neraka itu tak jauh-jauh amat dan tidak rumit untuk diketahui. Surga dan neraka itu ada di dekat kita, yakni dalam diri kita sendiri. Surga dan neraka kaitannya dengan nafsu kita sendiri. Kalau kita bisa mengendalikan nafsu dengan baik, bekerja sesuai dengan ajaran dharma, penjadi pejabat yang mengayomi rakyat, rukun di rumah tangga dan di masyarakat, tak pernah korupsi dan berbuat jahat, maka itulah surga. Tetapi kalau kita memanfaatkan jabatan untuk korupsi ditambah lagi menjadi bandar narkoba, maka suatu saat kita pun diciduk aparat keamanan di kandang sapi. Sungguh celaka dan itulah yang disebut neraka. Jadi mari kendalikan nafsu kita agar surga yang kita dapatkan. 
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 18 Nov. 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar