ISTILAH
paling ramai dibicarakan belakangan ini dalam kaitan dengan agama adalah surga.
Apalagi surga ini dibawa-bawa ke masalah politik. Beda pilihan politik maka
surga pun jadi alat untuk menyerang pilihan lawan. Seolah-olah ada kelompok
yang sudah memegang kunci surga, di luar kelompok itu tertutup untuk surga.
Di luar
urusan politik surga pun dipakai alat oleh kaum teroris untuk niat jahatnya
dengan merekrut orang-orang yang dijadikan korban untuk melakukan pembunuhan.
Orang-orang yang bersedia meledakkan bom bunuh diri dengan dalih berbuat jihad
disebutkan akan mendapatkan surga. Bahkan di surga akan dijemput oleh para
bidadari dengan pesta seks yang tak ada habis-habisnya. Seolah-olah orang yang
sudah meninggal dunia rohnya masih saja punya nafsu, termasuk nafsu seks.
Di
manakah letak surga itu? Tentu tak ada orang yang tahu karena orang yang
meninggal dunia dan kemudian misalnya mendapatkan surga tak pernah bisa hidup
lagi untuk menceritakan letak surga itu. Karena keterbatasan sumber-sumber
ajaran agama di masa lalu, para tetua kita ada yang melahirkan istilah bahwa
surga itu ada di telapak kaki ibu. Apa yang dimaksudkan dari ungkapan sederhana
ini? Hanya orang yang sujud kepada ibu adalah orang yang berbakti. Ibu bukan
saja melahirkan keturunan tetapi kasihnya sepanjang masa. Sudah pantas di
telapak kaki ibulah letak surga.
Umat
Hindu boleh bangga bahwa umat lain ribut-ribut soal surga padahal konsep surga
yang paling jelas ada di dalam ajaran Hindu. Surga itu sendiri adalah bahasa
Indonesia yang diserap dari bahasa Sansekerta, bahasa yang dipakai di dalam
Kitab Weda. Dalam bahasa Sansekerta aslinya adalah “svarga” kemudian “swarga”.
Dan “letak” surga itu sendiri berlapis-lapis yang semuanya ini merupakan simbol
belaka.
Surga itu
bukanlah tempat yang permanen dan untuk selama-lamanya bagi penghuni yang
“singgah” di sana. Surga hanyalah “tempat persinggahan sementara” bagi roh
manusia atau Sang Atman sesuai perbuatannya di dunia, tentu perbuatan yang
dianggap baik. Tujuan akhir dari perjalanan Sang Atman adalah “ketenangan
abadi” dan pembebasan dari siklus kelahiran, dan itu disebut moksha. Itulah
“dunia Tuhan” karena itu umat Hindu menyebutkan amor ring Achintya alias menyatu dengan Tuhan. Namun karma
seseorang tak selalu berhasil amor ring
Achintya lebih banyak yang harus kembali lagi menyelesaikan karmanya di
dunia dan lahir kembali ke dunia. Itu disebut punarbhawa atau bahasa kerennya
reinkarnasi.
Inilah
dasar-dasar agama Hindu yang dihimpun dalam Panca Srada, percaya pada Atman,
percaya pada Brahman, percaya pada Karmaphala, percaya pada Punarbhawa dan
percaya pada Moksha. Ada dua hal yang sepertinya berseberangan yakni di satu
pihak percaya ada kelahiran kembali (punarbhawa) tetapi di pihak lain harus
percaya adanya Moksha, kedamaian abadi.
Berada
dalam suatu “tempat sementara” sesuai dengan karmaphala, tempat itulah yang
dinamai surga untuk yang karmaphalanya bagus dan neraka untuk yang
karmaphalanya buruk. Ini dijadikan pelajaran bahwa seseorang itu harus berbuat
baik di dalam kehidupannya di dunia.
Namun, pelajaran
lainnya juga masih ada, karena begitu kayanya kitab suci sebagai wahyu Tuhan,
banyak istilah yang sama dengan penafsiran yang berbeda. Dalam kitab
Sarasamuccaya ada pula istilah surga disebut. Yakni pada sloka 71 yang
berbunyi: Indriyanyewa
tat sarwam yat swargana rakawubhau, nigrhitanissrstani swargaya narakaya ca. Terjemahan bebasnya adalah “yang patut diuraikan adalah bahwa kesuksesan
dalam pengendalian nafsu dianggap pencerminan dari surga dan neraka, jika nafsu
bisa dikendalikan maka itulah surga tetapi jika tidak berhasil dikendalikan
maka itu neraka.”
Jadi
menurut Sarasamuccaya, surga dan neraka itu tak jauh-jauh amat dan tidak rumit
untuk diketahui. Surga dan neraka itu ada di dekat kita, yakni dalam diri kita
sendiri. Surga dan neraka kaitannya dengan nafsu kita sendiri. Kalau kita bisa
mengendalikan nafsu dengan baik, bekerja sesuai dengan ajaran dharma, penjadi
pejabat yang mengayomi rakyat, rukun di rumah tangga dan di masyarakat, tak
pernah korupsi dan berbuat jahat, maka itulah surga. Tetapi kalau kita
memanfaatkan jabatan untuk korupsi ditambah lagi menjadi bandar narkoba, maka
suatu saat kita pun diciduk aparat keamanan di kandang sapi. Sungguh celaka dan
itulah yang disebut neraka. Jadi mari kendalikan nafsu kita agar surga yang
kita dapatkan.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 18 Nov. 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar