KALAU sekarang ada orang yang berkoar-koar menyebut
agamanya sendiri paling benar, paling baik, paling sempurna, lalu mengajak umat
beragama lain masuk ke agamanya itu, pastilah orang itu sedang melamun ke masa
lalu. Ketika dahulu kala, jauh sebelum penjajah datang dan saat agama-agama
besar mulai masuk ke Nusantara, ajakan seperti itu memang biasa terjadi. Bahkan
mencari pengikut untuk agama yang baru datang dilakukan dengan kekerasan dan
ancaman. Dakwah yang dilakukan para penyebar agama di masa lalu menggunakan
segala cara untuk mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya.
Sekarang siapa yang mau dipaksa dan diancam untuk
pindah agama? Kalau ada orang yang perilakunya demikian bukan saja disebut
melamun dan mengkhayal tetapi sudah dijuluki dengan bahasa pop saat ini: belum move on. Jika mau ditambah dengan bahasa
pop yang lebih baru, di zaman now mengajak-ajak
orang pindah agama tak laku lagi.
Yang perlu disebarkan saat ini adalah kedamaian.
Bahwa keadaan damai itu bersumber dari ajaran agama dan terus-menerus harus
disebarkan, tidaklah berarti mengajak orang untuk pindah agama. Karena semua
agama pada intinya menyebarkan kedamaian. Jika pun ada orang yang pindah agama
harus disebutkan itu sebagai hak asasi yang bersangkutan. Ini harus dihormati
karena di era serba keterbukaan ini tak mungkin ada orang yang mau dipaksa.
Mari sebarkan kedamaian dan orang tak perlu ragu
bahwa menyebarkan kedamaian itu berarti mempromosikan sebuah agama dengan maksud
orang jadi tertarik untuk mengikutinya. Begitu pula sebaliknya, tak usah ragu
untuk menerima orang-orang yang mau menyebarkan kedamaian karena ini berarti
menambah perbendaharaan menuju kedamaian yang lebih baik. Tak usah dicurigai
sebagai pembawa misi penyebar agama. Itu pikiran masa lalu, yang tak laku lagi
di zaman now.
Lihatlah di hari-hari ketika umat Hindu merayakan
Hari Raya Galungan ini. Galungan sebagai perayaan kemenangan dharma adalah pula
hari penyebar kedamaian. Hanya dengan dharma yang unggul maka kedamaian itu
lebih terasakan. Bagaimana Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dengan gembira
menerima umat Hindu di Balai Kota Bandung yang sedang merayakan Galungan.
Begitu pula pejabat-pejabat lain di berbagai Nusantara menyambut baik hari raya
umat Hindu itu. Presiden Joko Widodo pun mengirimkan pesan khusus di media
sosial untuk menyampaikan rasa senangnya bersama umat Hindu merayakan Galungan.
Bukan saatnya lagi berpikir sempit seperti melarang orang untuk berkirim salam
atau berkirim kartu ucapan kepada sahabat yang beda agama.
Apa yang selama ini disebut sebagai agama missi
sehingga pengikut agama itu wajib untuk menyebarkan agamanya untuk menambah
pengikut, harus diartikan secara luas sesuai dengan kondisi zaman. Haruslah
diartikan sebagai kewajiban menyebarkan missi agama itu untuk kedamaian. Bahwa
kemudian ada yang pindah agama itu soal lain dan bukan menjadi tujuan. Ada yang
tertarik masuk Islam dan memulai masa mualaf itu harus dihormati sebagai hak
pribadi seseorang. Toh juga ada banyak orang yang masuk Hindu melalui proses
ritual Sudhiwadani.
Agama Hindu pun adalah agama missi di mana umatnya
wajib pula mengajarkan dan menyebarkan ajaran kedamaian. Bahwa setelah ajaran
itu disebarkan janganlah memasang target akan mendapat pengikut yang banyak.
Targetnya adalah kedamaian itu sendiri, damai di dalam interen agama Hindu dan
damai bersama umat agama lainnya. Cobalah baca kitab Yajur Weda XXV.2. Sloka
itu berbunyi: Yathenam wacam kalyanim,
awadai janebhyah, rajanabhyam, cudra ya
caryaya ca swaya carana ca. Arti bebasnya adalah: “Biar kuajarkan
pengetahuan suci ini kepada orang banyak, kaum brahmana, kesatria, sudra,
waisya dan bahkan kepada orang asing sekali pun.” Sloka ini harus diartikan
sebagai “mengajarkan pengetahuan suci Hindu kepada siapa pun” dan setelah
diajarkan orang itu mengikuti agama Hindu atau bukan tak jadi masalah. Seperti
itu pulalah sebaiknya missi dakwah agama lain, sebarkan “pengetahuan suci
agama” sebanyak-banyaknya dan serahkan kepada yang mendengar untuk mencernanya.
Sloka Bhagawad Gita IV.11 menyebutkan: “Jalan apapun yang diambil seseorang untuk mencapaiKu, Kusambut mereka
sesuai dengan jalannya, karena jalan yang diambil setiap orang di setiap sisi
adalah jalanKu juga, oh Arjuna!” Mari kita tak berdebat soal agama karena itu
hanya “jalan”, yang harus kita gali adalah damai yang dibawa agama itu.
(Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 4 November 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar