04 November 2017

Mari Sebarkan Kedamaian

KALAU sekarang ada orang yang berkoar-koar menyebut agamanya sendiri paling benar, paling baik, paling sempurna, lalu mengajak umat beragama lain masuk ke agamanya itu, pastilah orang itu sedang melamun ke masa lalu. Ketika dahulu kala, jauh sebelum penjajah datang dan saat agama-agama besar mulai masuk ke Nusantara, ajakan seperti itu memang biasa terjadi. Bahkan mencari pengikut untuk agama yang baru datang dilakukan dengan kekerasan dan ancaman. Dakwah yang dilakukan para penyebar agama di masa lalu menggunakan segala cara untuk mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya.

Sekarang siapa yang mau dipaksa dan diancam untuk pindah agama? Kalau ada orang yang perilakunya demikian bukan saja disebut melamun dan mengkhayal tetapi sudah dijuluki dengan bahasa pop saat ini: belum move on. Jika mau ditambah dengan bahasa pop yang lebih baru, di zaman now mengajak-ajak orang pindah agama tak laku lagi.

Yang perlu disebarkan saat ini adalah kedamaian. Bahwa keadaan damai itu bersumber dari ajaran agama dan terus-menerus harus disebarkan, tidaklah berarti mengajak orang untuk pindah agama. Karena semua agama pada intinya menyebarkan kedamaian. Jika pun ada orang yang pindah agama harus disebutkan itu sebagai hak asasi yang bersangkutan. Ini harus dihormati karena di era serba keterbukaan ini tak mungkin ada orang yang mau dipaksa.

Mari sebarkan kedamaian dan orang tak perlu ragu bahwa menyebarkan kedamaian itu berarti mempromosikan sebuah agama dengan maksud orang jadi tertarik untuk mengikutinya. Begitu pula sebaliknya, tak usah ragu untuk menerima orang-orang yang mau menyebarkan kedamaian karena ini berarti menambah perbendaharaan menuju kedamaian yang lebih baik. Tak usah dicurigai sebagai pembawa misi penyebar agama. Itu pikiran masa lalu, yang tak laku lagi di zaman now.

Lihatlah di hari-hari ketika umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan ini. Galungan sebagai perayaan kemenangan dharma adalah pula hari penyebar kedamaian. Hanya dengan dharma yang unggul maka kedamaian itu lebih terasakan. Bagaimana Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dengan gembira menerima umat Hindu di Balai Kota Bandung yang sedang merayakan Galungan. Begitu pula pejabat-pejabat lain di berbagai Nusantara menyambut baik hari raya umat Hindu itu. Presiden Joko Widodo pun mengirimkan pesan khusus di media sosial untuk menyampaikan rasa senangnya bersama umat Hindu merayakan Galungan. Bukan saatnya lagi berpikir sempit seperti melarang orang untuk berkirim salam atau berkirim kartu ucapan kepada sahabat yang beda agama.

Apa yang selama ini disebut sebagai agama missi sehingga pengikut agama itu wajib untuk menyebarkan agamanya untuk menambah pengikut, harus diartikan secara luas sesuai dengan kondisi zaman. Haruslah diartikan sebagai kewajiban menyebarkan missi agama itu untuk kedamaian. Bahwa kemudian ada yang pindah agama itu soal lain dan bukan menjadi tujuan. Ada yang tertarik masuk Islam dan memulai masa mualaf itu harus dihormati sebagai hak pribadi seseorang. Toh juga ada banyak orang yang masuk Hindu melalui proses ritual Sudhiwadani.

Agama Hindu pun adalah agama missi di mana umatnya wajib pula mengajarkan dan menyebarkan ajaran kedamaian. Bahwa setelah ajaran itu disebarkan janganlah memasang target akan mendapat pengikut yang banyak. Targetnya adalah kedamaian itu sendiri, damai di dalam interen agama Hindu dan damai bersama umat agama lainnya. Cobalah baca kitab Yajur Weda XXV.2. Sloka itu berbunyi: Yathenam wacam kalyanim, awadai janebhyah,  rajanabhyam, cudra ya caryaya ca swaya carana ca. Arti bebasnya adalah: “Biar kuajarkan pengetahuan suci ini kepada orang banyak, kaum brahmana, kesatria, sudra, waisya dan bahkan kepada orang asing sekali pun.” Sloka ini harus diartikan sebagai “mengajarkan pengetahuan suci Hindu kepada siapa pun” dan setelah diajarkan orang itu mengikuti agama Hindu atau bukan tak jadi masalah. Seperti itu pulalah sebaiknya missi dakwah agama lain, sebarkan “pengetahuan suci agama” sebanyak-banyaknya dan serahkan kepada yang mendengar untuk mencernanya.


Sloka Bhagawad Gita IV.11 menyebutkan: “Jalan apapun yang diambil seseorang untuk mencapaiKu, Kusambut mereka sesuai dengan jalannya, karena jalan yang diambil setiap orang di setiap sisi adalah jalanKu juga, oh Arjuna!” Mari kita tak berdebat soal agama karena itu hanya “jalan”, yang harus kita gali adalah damai yang dibawa agama itu. 
(Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 4 November 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar