ADA kitab himpunan
etika dan moral dari abad ke-9 yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Penulisnya
menyebut diri Bhagawan Wararuci seraya mengatakan karyanya ini adalah intisari
ajaran Astadasaparwa yang terdapat dalam ephos Mahabhrata gubahan Rsi Wiyasa.
Kitab itu bernama Sarasamuccaya terdiri
dari 511 sloka atau ayat.
Ayat ke-149
berbunyi: yapwan mangke kraman ikang
wwang, angalap masnis mamas,
wakapanghada kasaktinya, kwehning hambanya, tatan mas nika juga inalap nika,
apa pwa dharma, artha, kama nika milu kalap denika.
Bahasa ruwet
untuk “generasi now”. Terjemahan
bebasnya: “Apabila ada orang dalam kehidupan ini merampas kekayaan orang lain
dengan mengandalkan kekuasaannya, maka akibatnya dia hidup dalam rasa waswas,
hidup dalam kenistaan dan ketakutan. Nantinya bukan saja apa yang dicurinya itu
kembali dirampas, juga harta dan perilakunya (dharma, arta, kama) ikut dirampas.”
Ini cocok
dijadikan nasehat kepada para pejabat yang akan dan telah menjadi koruptor.
Hidup Anda akan was-was, terbayang ketakutan kalau suatu saat akan ketahuan. Kalau
sudah ketahuan hanya kenistaan yang didapat. Bukan cuma harta hasil korupsi,
juga ikut harta sampingan bahkan perilaku Anda yang mungkin ada yang baik, dirampas
pula.
Izinkan
mengambil contoh dari kasus Setya Novanto, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) saat
ini. Ia disangka “merampas kekayaan orang lain”, mengkorupsi uang milik rakyat
dengan mengandalkan kekuasaannya (saat itu Ketua Fraksi Partai Golkar) dalam
kasus e-KTP. Kalau dia tak mencuri, kenapa dia hidup dalam ketakutan seperti
lari sebelum dijemput KPK? Kenapa dia nampak waswas? Kalau dia berada di jalan
benar berlaku Sarasamuccaya ayat 150, yang intinya “adapun mereka yang tidak
pernah mencuri kekayaan orang lain, maka dia tak perlu was-was dan takut, dan
semua orang yang didatanginya merasa senang.”
Novanto ngotot
tak merasa bersalah. Dari tahanan KPK dia menulis dua surat, satu untuk
partainya dan satu untuk koleganya di DPR. Dia minta diberi kesempatan untuk
membuktikan kebenarannya bahwa dia tak bersalah, sehingga dia tak mau dicopot
dari jabatannya. Tetapi ketakutan dan hidup dalam bayang waswas itu tak bisa
dia tutupi sehingga rakyat sebagian besar tak mempercayainya. Kitab
Sarasamuccaya menyebutkan dalam beberapa ayat, seseorang yang kehilangan
kepercayaan dari lingkungannya, hidup sebagai manusia tak lebih dari mayat yang
cuma masih bernafas. Artinya tak punya lagi harga diri.
Andaikata
praperadilan yang diajukan Novanto (yang kedua) dimenangkannya dan dia kembali
memimpin sidang parlemen, setiap ketukan palunya akan didengar oleh rakyat
sebagai benturan kecil sebuah mobil ke tiang listrik. Kalau pun kemenangan itu
terjadi waktunya masih lama, sidang praperadilan saja baru akhir bulan ini.
Betapa ikut nistanya parlemen dalam penantian ini bahwa ada ketuanya yang ditahan
dan menjadi bahan tertawaan rakyat. Bahwa Novanto tetap menjadi Ketua Umum
Golkar itu hanya urusan sebagian rakyat saja, bukan urusan bangsa.
Ada saran
bijak dari ayat-ayat Sarasamuccaya, Novanto mengundurkan diri dari “kekuasaannya”
selama waswas dan ketakutan itu dilihat jelas oleh rakyat. Mundur lebih baik
ketimbang ngotot berkuasa. Kalau nanti dia terbukti benar maka hartanya tak dirampas
meski kepercayaan rakyat tetap hilang karena ada prilaku buruk yang sudah
diperlihatkan. Minimal ada cara
“merevisi” prilaku itu. Tapi kalau kalah, selain harta dirampas ada tambahan terburuk,
kenistaan. Tentu pula hukuman duniawi: masuk bui.
(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 25 November 2017)
(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 25 November 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar