ADA
kabar gembira saat ini. Sudah dibuka penerbangan langsung Denpasar – India
lewat Kuala Lumpur yang dilakukan oleh penerbangan nasional Batik Air. Walau
tujuannya adalah kota Chennal di India Selatan penerbangan ini disambut banyak
orang yang gemar melakukan tirthayatra ke India. Tentu juga disambut oleh turis
asal India yang akan bepergian ke Bali. Selama ini tidak ada penerbangan
langsung dan harus menunggu berjam-jam di Kuala Lumpur untuk ganti pesawat,
route baru ini tentu tidak meletihkan.
Lantas
muncul pertanyaan, apakah sedemikian pentingnya melakukan tirthayatra ke India
sehingga berbondong-bondong orang Bali ke negeri itu? Penting atau tidak tentu
tergantung pribadi orang masing-masing. Dasar utamanya adalah punya dana untuk
bepergian itu yang memang tidak mengganggu pengeluaran dana lainnya yang lebih
pokok. Kemudian memang ada keinginan melakukan perjalanan jauh ke negeri
seberang. Kalau dana ada tetapi tidak ingin, tentu tak akan terlaksana. Ada pun
keinginan itu bisa karena berbagai faktor. Ada yang cuma ingin tahu saja, ada
yang ingin ke tempat suci di pusatnya kelahiran agama Hindu untuk lebih
mendekatkan diri pada Tuhan dan mencari vibrasi yang dianggap lebih pas di
sana.
Tirthayatra
adalah sebuah perjalanan mencari atau mendapatkan “tirtha”, sesuatu yang sering
disebut sebagai sumber kehidupan. Tentu tempatnya adalah khusus, tempat yang
disucikan. Bukan di museum, di mall, di lapangan sepakbola, misalnya. Tirthayatra
itu dilakukan di pura, kuil, candi, sungai suci, situs keagamaan dan
sebagainya. Nama lain yang sering digunakan selain tirthayatra adalah
dharmayatra, mencari atau mendapatkan “dharma”. Dharmayatra tentu lebih luas
karena “dharma” ada di banyak tempat lain, seperti ashram para suci,
tempat-tempat pertemuan yang rutin menyelenggarakan ritual keagamaan dan
sebagainya.
Apakah
tirthayatra dan dharmayatra itu juga tempat untuk mendekatkan diri dengan
Tuhan? Tentu saja benar, karena dalam kunjungan itu sudah pasti berbagai doa
dilantunkan. Tetapi jika disebutkan bahwa hanya di tempat tirthayatra dan
dharmayatra itu saja kita lebih dekat dengan Tuhan, ini yang keliru. Kita bisa
lebih dekat memuja Tuhan di mana saja kita berada. Tidak usah bepergian jauh-jauh,
di rumah sendiri pun kita bisa memuja Tuhan dengan lebih dekat. Banyak orang
melakukan tirthayatra dengan mandi di Sungai Gangga dan bagi mereka itu sesuatu
yang sangat berkesan. Namun, para sulinggih di Bali, setiap hari memuja “tirtha
gangga” pada saat melakukan ritual surya sewana. Bukan saja air suci
Gangga yang dipuja, juga air suci Sindhu, Yamuna, Saraswathi dan lainnya.
Mendekatkan
diri dengan Tuhan atau memuja Tuhan bisa setiap waktu, di mana pun kita berada.
Tidak perlu berkecil hati memuja Tuhan di tempat di mana kita biasa tinggal,
termasuk di dalam rumah sendiri. Tuhan di dalam Kitab Weda disebut Brahman,
karena kata Tuhan itu dalam bahasa Indonesia. Baca sloka ini: Ekam
evadvityam Brahman, arti bebasnya: Hanya ada satu Tuhan, yakni Brahman. Ada
pun kata Hyang Widhi yang digunakan untuk penyebutan Tuhan di Bali berasal dari
kata Vidhi. Vidhi artinya pencipta. Hyang Widhi berarti Dia Sang Pencipta.
Tuhan tidak berwujud dan memenuhi
seluruh alam semesta. Tuhan ada di mana-mana, tak ada satu tempat pun di bawah kolong
langit ini yang tidak dihuni oleh Tuhan. Mantram Gayatri yang merupakan “ibu
segala mantram” (mantram ini dijadikan awal dari Puja Trisandhya) diawali
dengan Om bhur bhwah swah. Artinya: Tuhan yang memenuhi alam bawah atau
jagat raya ini (bhur), yang memenuhi alam tengah (bhwah) , dan memenuhi alam
atas atau angkasa (swah).
.
Kalau kita tahu Tuhan ada di mana-mana dan ada di setiap saat, lalu kita bisa memuja Tuhan
kapan saja, tak peduli apakah hari itu rerahinan atau tidak, purnama
atau tilem, Senin atau Kamis, tentunya kita bisa memuja Tuhan di sembarang
waktu dan tempat. Bisa memuja Tuhan di kamar tidur, di ruang tamu, di kantor.
Kita bisa melakukan Trisandya di manapun kita mau, sepanjang tempat itu
memberikan pada kita suatu keheningan untuk mendapatkan konsentrasi pikiran.
Jadi tak perlu harus melakukan
tirthayatra dulu jika ingin memuja Hyang Widhi, karena melakukan tirthayatra
itu bukan cuma memuja Tuhan tetapi mengetahui lebih banyak sejarah budaya
agama.
(Ida
Pandita Mpu Jaya Prema Ananda)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar