APAKAH dosa dan karma buruk itu sama? Ini perdebatan
lama secara teologi yang tak pernah selesai tetapi secara umum orang membedakan
antara dosa dan karma buruk. Justru keduanya disebut berhubungan dengan
argumentasi bahwa karena perbuatan dosa itu yang menyebabkan adanya karma
buruk.
Dosa bisa diampuni tetapi karma buruk tetap saja
melekat dan harus ditebus dengan karma baik. Tebusan karma baik itu pun tak
serta merta menghilangkan sama sekali karma buruk itu. Karma buruk bagaikan
setitik noda dimasukkan ke dalam air, maka air akan keruh. Lalu dengan banyak
berkarma baik seperti menuangkan air jernih terus-menerus maka kadar noda jadi
berkurang. Tetapi volume noda atau karma buruk itu tetap masih ada karena akan
dipertanggungjawabkan sesuai hukum karma, baik pada kehidupan sekarang maupun
dalam kehidupan nanti.
Sedangkan dosa bisa dimohonkan pengampunan dan bahwa
dosa itu diampuni atau tidak, itu bukan urusan kita, itu urusan Tuhan Yang Maha
Kuasa. Kitab Bhagawad Gita IV. 36 menyebutkan: api ced asi papebhyah, sarvebhyah papa kritamah, sarvam jnana
plavenaiva, vrjinam santarisyasi. Terjemahannya: Seandainya pun engkau
adalah orang yang paling berdosa di antara orang-orang yang berdosa, namun
tanpa diragukan sedikit pun, engkau dapat menyeberangi dosa-dosa itu dengan
perahu ilmu pengetahuan.
Perahu ilmu pengetahuan yang dimaksudkan adalah
mempelajari sastra Weda, melafalkan doa setiap saat, teguh dalam bhakti dan mengamalkan
dharma dalam kehidupan sehari-hari. Kitab Sarasamuscaya sloka 17 menyebutkan, “bagaikan prilaku
matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikian pulalah orang yang
melakukan Dharma. Dharma akan memusnahkan segala macam dosa.
Sebaliknya, mereka yang melanggar Dharma akan dihukum dengan siklus
kelahiran dan kematian (punarbhava) yang tidak jelas kapan berakhirnya.
Semasih hukum karma dan Punarbhawa mengikat kita, maka selama itu
kebebasan (moksha) tidak akan tercapai.”
Masih banyak sloka dalam berbagai kitab yang memberi tuntunan bagaimana
agar dosa itu mendapatkan pengampunan. Namun sebelum itu apakah jenis-jenis
dosa itu sendiri yang harus kita ketahui? Terutama tingkah laku kita yang
bagaimana bisa digolongkan sebagai tindakan berdosa?
Ada sebuah sumber susastra Hindu yang menggolongkan tingkah laku yang
disebut berdosa itu. Tingkah laku atau sikap kita dalam kehidupan ini dan tutur
kata yang digolongkan berdosa ada empat besar. Yakni Langgah, Dura Cara,
Durhaka, dan Tresna Dudu.
Langgah adalah melanggar hukum Tuhan. Dalam
Kitab Sarasamuscaya dikatakan: "Orang yang tidak mempunyai kepercayaan
kepada Tuhan dan hukum-Nya, orang yang demikian itu tidaklah akan menemukan
kebahagiaan tertinggi, melainkan akan senantiasa menanggung derita, yaitu akan
terus mengalami kelahiran kembali (punarbhawa).” Jadi kita harus percaya
adanya Tuhan dan disebut berdosa kalau kita sama sekali tak percaya Tuhan.
Prakteknya adalah kita rajin bersembahyang dan menghaturkan yadnya, misalnya.
Dura cara ialah mengumbar hawa nafsu. Banyak
sekali rincian nafsu yang harus dihindari. Berbagai istilah sudah ada, seperti
Sad Ripu, Sapta Timira dan sebagainya, yang merupakan ajaran pokok, nafsu buruk
seperti apa yang harus dihindari. Mencuri, berzinah, madat, berjudi dan
sebagainya adalah contoh-contoh yang sederhana. Sekarang ini perbuatan yang
paling banyak dilakukan adalah mencuri dalam pengertian yang luas, seperti
korupsi, melakukan pungutan liar, dan seterusnya. Bahkan dalam urusan yadnya
pun masih sempatnya menilep uang, setidaknya membuat laporan tak benar. Sudah
ada beberapa kasus panitia piodalan atau pengurus pura dilaporkan ke polisi
karena diduga menyelewengkan uang.
Durhaka adalah perbuatan jahat terhadap orang tua, guru, pemimpin
dan sebagainya. Perbuatan itu bisa masih dalam pikiran maupun berupa kata-kata yang
belum ada perbuatan nyata. Apalagi kejahatan itu sudah nyata dilakukan, itu
lebih berdosa lagi. Prilaku ini yang sekarang banyak dilakukan orang. Tak
ragu-ragu orang melecehkan para pemimpin termasuk melecehkan pendeta (sulinggih)
di media sosial dengan menyebar berita bohong yang menjurus fitnah. Itu
perbuatan yang tidak baik.
Tresna dudu adalah cinta tetapi palsu atau
semu. Suka berpura-pural. Lain yang dikatakan lain pula perbuatannya. Misalnya
suka memberikan janji palsu atau suka berbohong.
Ke empat ini
adalah hal yang bersifat umum yang masih banyak perlu rincian. Meski dosa itu
ada jalannya untuk minta pengampunan, sebaiknya haruslah dihindari untuk hidup
lebih damai dan nyaman.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 3 Juni 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar