10 Juni 2017

Nastika: Tak Percaya Ajaran Weda

APAKAH dalam agama Hindu ada istilah kafir? Istilah kafir menjadi sangat populer belakangan ini karena begitu maraknya pertautan agama dengan politik di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Kafir memang istilah dalam agama Islam. Arti sederhananya adalah orang yang tidak mengikuti ajaran Islam. Dengan demikian bagi orang Islam, orang yang menganut agama lain adalah kafir.

Predikat kafir pun menjadi sesuatu yang  buruk, orang yang dinistai, orang yang harus dijauhi dan seterusnya. Karena politik sudah diracuki agama sedemikian besar maka muncul istilah runtutannya seperti pemimpin kafir, yang tak boleh dipilih oleh umat Islam. Pandangan ini memang tidak berlaku umum untuk umat Islam, karena masih banyak yang memisahkan urusan agama dengan urusan politik sehingga pemimpin yang bukan Islam (yang dituduh beberapa pihak sebagai kafir) tetap bisa dipilih karena yang dikerjakannya urusan pemerintahan yang melayani masyarakat beragam agama. Meski begitu istilah kafir tetap saja ramai.

Hindu tidak mengenal istilah kafir seperti itu. Namun Hindu mengenal istilah orang yang tidak mengakui Weda sebagai kitab suci Hindu, terutama dalam filsafat India di mana agama Hindu berasal. Istilah itu disebut nastika. Hanya ada tiga kelompok atau aliran yang digolongkan nastika, yakni aliran Jainisme, Buddhisme dan Carvaka. Mengutip dari laman Wikipedia disebutkan Carvaka adalah sebuah aliran ateis yang memperkenalkan gaya hidup hedonis dan menyatakan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Namun filsafat Carvaka punah setelah tahun 1400. Sedangkan Buddhisme berkembang menjadi agama baru, Buddha,  yang diperkenalkan oleh Sidharta Gautama. Sedangkan aliran Jainisme tidak mengakui ajaran Weda karena mereka punya guru yang menurunkan “kitab suci” yang jika dipadankan dengan agama lain disebut nabi. Nabi pertama mereka bernama Babhadewa dan yang terakhir bernama Mahavira. Ada pula sumber lain yang menyebut aliran Jainisme itu adalah atheis, tidak percaya Tuhan, namun bersama guru-gurunya mereka bisa hidup damai karena punya kepercayaan tersendiri.


Berbeda dengan Carvaka,  aliran Jainisme dan Buddhisme sampai sekarang masih ada pro dan kontra dalam telaah teologi karena ada yang menyebutkan mereka masih dalam rumpun Hindu, tetapi ada yang menyebut mereka sudah “membuat” agama baru. Di Bali pun sampai sekarang masih banyak orang sulit memisahkan ajaran Buddha dari Hindu, meski pun secara formal agama Buddha itu ada dan diakui di negeri ini. Nah, bagi yang menganggap kedua aliran itu masih dalam rumpun Hindu, maka di sinilah istilan nastika dipakai. Mereka tidak mengakui ajaran Weda. Sedang pemeluk Buddhisme karena merasa sudah formal agamanya, tak lagi perlu digolongkan Hindu dan sangatlah wajar mereka memang tidak memakaii Weda karena punya kitab suci tersendiri.

Apakah istilah nastika bisa diperluas saat ini dan ditujukan kepada umat Islam, Katolik, Kristen, Konghucu dan agama lainnya lagi? Jika dalam pengertian “tidak mengakui kebenaran Weda” tentu saja bisa, karena jelas agama-agama itu punya kitab suci tersendiri.  Namun istilah nastika tak ada kaitannya dengan percaya atau tidak adanya Tuhan. Urusan percaya atau tidak keberadaan Tuhan, itu soal lain, soal yang sangat pribadi bagi pemeluk Hindu. Apalagi dalam Hindu kebenaran itu bisa datang dari segala arah dan semua manusia adalah bersaudara. Dengan demikian istilah nastika bukan untuk merendahkan orang non-Hindu apalagi dijadikan bahan untuk bermusuhan.

Tentu saja untuk urusan ke dalam umat Hindu, kita wajib mengakui ajaran Weda sebagai sebuah kebenaran dalam meniti hidup ini. Kita tak bisa berpaling dari ajaran Weda, fanatisme dengan ajaran Weda harus diberikan sejak dini. Bahwa pemeluk agama non-Hindu tidak mengikuti ajarannya itu, bukanlah masalah, dan tak bisa dipaksakan buat mereka untuk ikut. Kitab Bhagawad Gita XVIII sloka 67 menyebutkan:  “Jangan sekali-kali dikau bicarakan ajaran ini kepada seseorang yang tidak berdisiplin secara spiritual dalam hidupnya, juga tidak kepada seseorang yang tak memiliki dedikasi, juga tidak kepada seseorang yang tidak ingin mendengarkannya, juga tidak kepada yang menjelek-jelekkan Aku.


Demikianlah pengertian nastika dalam filsafat Hindu yang tidak sama dengan pengertian kafir dalam ajaran Islam. Semoga Hindu dengan kitabnya Weda tetap memberikan kedamaian kepada umat manusia. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 10 Juni 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar