APAKAH dalam agama Hindu ada istilah kafir? Istilah kafir menjadi sangat
populer belakangan ini karena begitu maraknya pertautan agama dengan politik di
negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Kafir memang istilah
dalam agama Islam. Arti sederhananya adalah orang yang tidak mengikuti ajaran
Islam. Dengan demikian bagi orang Islam, orang yang menganut agama lain adalah
kafir.
Predikat kafir pun menjadi sesuatu yang
buruk, orang yang dinistai, orang yang harus dijauhi dan seterusnya.
Karena politik sudah diracuki agama sedemikian besar maka muncul istilah
runtutannya seperti pemimpin kafir, yang tak boleh dipilih oleh umat Islam.
Pandangan ini memang tidak berlaku umum untuk umat Islam, karena masih banyak
yang memisahkan urusan agama dengan urusan politik sehingga pemimpin yang bukan
Islam (yang dituduh beberapa pihak sebagai kafir) tetap bisa dipilih karena
yang dikerjakannya urusan pemerintahan yang melayani masyarakat beragam agama.
Meski begitu istilah kafir tetap saja ramai.
Hindu tidak mengenal istilah kafir seperti itu. Namun Hindu mengenal
istilah orang yang tidak mengakui Weda sebagai kitab suci Hindu, terutama dalam
filsafat India di mana agama Hindu berasal. Istilah itu disebut nastika. Hanya ada tiga kelompok atau
aliran yang digolongkan nastika, yakni
aliran Jainisme, Buddhisme dan Carvaka. Mengutip dari laman Wikipedia
disebutkan Carvaka adalah sebuah aliran
ateis yang memperkenalkan gaya hidup hedonis dan
menyatakan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Namun filsafat Carvaka
punah setelah tahun 1400. Sedangkan Buddhisme berkembang menjadi agama baru,
Buddha, yang diperkenalkan oleh Sidharta
Gautama. Sedangkan aliran Jainisme tidak mengakui ajaran Weda karena mereka
punya guru yang menurunkan “kitab suci” yang jika dipadankan dengan agama lain
disebut nabi. Nabi pertama mereka bernama Babhadewa dan yang terakhir bernama
Mahavira. Ada pula sumber lain yang menyebut aliran Jainisme itu adalah atheis,
tidak percaya Tuhan, namun bersama guru-gurunya mereka bisa hidup damai karena
punya kepercayaan tersendiri.
Berbeda dengan Carvaka, aliran Jainisme dan Buddhisme sampai sekarang
masih ada pro dan kontra dalam telaah teologi karena ada yang menyebutkan
mereka masih dalam rumpun Hindu, tetapi ada yang menyebut mereka sudah
“membuat” agama baru. Di Bali pun sampai sekarang masih banyak orang sulit
memisahkan ajaran Buddha dari Hindu, meski pun secara formal agama Buddha itu
ada dan diakui di negeri ini. Nah, bagi yang menganggap kedua aliran itu masih
dalam rumpun Hindu, maka di sinilah istilan nastika dipakai. Mereka tidak mengakui ajaran Weda. Sedang pemeluk Buddhisme karena
merasa sudah formal agamanya, tak lagi perlu digolongkan Hindu dan sangatlah
wajar mereka memang tidak memakaii Weda karena punya kitab suci tersendiri.
Apakah istilah nastika bisa
diperluas saat ini dan ditujukan kepada umat Islam, Katolik, Kristen, Konghucu
dan agama lainnya lagi? Jika dalam pengertian “tidak mengakui kebenaran Weda”
tentu saja bisa, karena jelas agama-agama itu punya kitab suci tersendiri. Namun istilah nastika tak ada kaitannya dengan percaya atau tidak adanya Tuhan.
Urusan percaya atau tidak keberadaan Tuhan, itu soal lain, soal yang sangat
pribadi bagi pemeluk Hindu. Apalagi dalam Hindu kebenaran itu bisa datang dari
segala arah dan semua manusia adalah bersaudara. Dengan demikian istilah nastika bukan untuk merendahkan orang
non-Hindu apalagi dijadikan bahan untuk bermusuhan.
Tentu saja untuk urusan ke dalam umat Hindu, kita wajib mengakui ajaran
Weda sebagai sebuah kebenaran dalam meniti hidup ini. Kita tak bisa berpaling
dari ajaran Weda, fanatisme dengan ajaran Weda harus diberikan sejak dini.
Bahwa pemeluk agama non-Hindu tidak mengikuti ajarannya itu, bukanlah masalah,
dan tak bisa dipaksakan buat mereka untuk ikut. Kitab Bhagawad Gita XVIII sloka
67 menyebutkan: “Jangan sekali-kali dikau bicarakan
ajaran ini kepada seseorang yang tidak berdisiplin secara spiritual dalam
hidupnya, juga tidak kepada seseorang yang tak memiliki dedikasi, juga tidak
kepada seseorang yang tidak ingin mendengarkannya, juga tidak kepada yang
menjelek-jelekkan Aku.”
Demikianlah pengertian nastika
dalam filsafat Hindu yang tidak sama dengan pengertian kafir dalam ajaran
Islam. Semoga Hindu dengan kitabnya Weda tetap memberikan kedamaian kepada umat
manusia.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 10 Juni 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar