21 Mei 2017

Pemimpin Bersifat Delapan Dewa

ADA sloka yang terkenal dari Kekawin Ramayana ketika Sri Rama memberi nasehat kepada Wibhisana yang diangkat menjadi Raja Alengka setelah tewasnya Rahwana. Itu adalah sloka Kekawin Ramayana XXIV.52 yang bunyinya: Hyang indra yama surya candra anila, kuera baruna agni nahan wwalu, sira ta maka angga sang bhupati, matang nira inisti astabrata.
 
Terjemahan bebas sloka ini adalah: Dewa Indra, Yama, Surya, Candra, Anila, Kuera, Baruna dan Agni, adalah delapan dewa yang patut ditiru yang disebut Astabrata,  seharusnya dihayati oleh seorang pemimpin agar meresap dalam jiwa raganya.

Sri Rama ingin menunjukkan contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap dan bekerja untuk rakyatnya. Pemimpin harus berlaku sebagai Dewa Indra untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin tak bisa mementingkan dirinya sendiri, misalnya, korupsi memperkaya diri. Pemimpin harus mementingkan kesejahtraan rakyat lebih dulu, baru kesejahtraan dirinya.

Menjadi pemimpin harus adil layaknya Dewa Yama sebagai simbol keadilan.
Adil dalam melayani masyarakat, jangan hanya melayani kelompok atau golongan tertentu saja yang kebetulan disukai sang pemimpin. Siapa tahu ketika dalam pemilihan, ada sekelompok masyarakat yang tidak memilih pemimpin itu. Namun ketika pemimpin sudah terpilih ia harus menjadi pemimpin seluruh masyarakat dengan melupakan kelompok-kelompok tadi. Pemimpin itu harus juga milik masyarakat yang tidak memilihnya.

Pemimpin harus berperilaku sebagai Dewa Surya yang memberikan penerangan kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya, mencerdaskan kehidupan masyarakat dari kegelapan. Apakah itu kegelapan dari ilmu pengetahuan mau pun kegelapan karena tak punya pekerjaan. Jangan hanya membagikan proyek kepada kelompok pendukungnya saja. Sebagaimana halnya surya sebagai matahari, semua lapisan masyarakat harus diberi sinarnya.


Pemimpin harus meneladani Dewa Chandra, memberikan sinar kesejukan dan ketentraman pada masyarakat. Sinar bulan menerangi seluruh isi bumi tanpa kecuali. Sinarnya ada di kota-kota, baur dengan sinar gemerlapan lampu listrik. Sinarnya ada di kampung yang kumuh. Apakah orang kota merasakan sinar rembulan itu dan adakah orang di kampung kumuh bahagia karena mendapatkan sinar dari langit, bulan tidak peduli, dia tetap bersinar. Seperti itulah pemimpin yang ideal, mereka harus selalu menebarkan kebaikan kepada seluruh masyarakat tanpa peduli apakah kebaikannya itu diterima dengan tulus atau tidak.

Sinar bulan, apalagi tatkala purnama yang indah, menyinari tempat-tempat becek, kampung yang kumuh, bahkan di hamparan tanah yang luas tanpa ada orang di sana. Untuk apa sinar bulan yang indah itu memancar di tempat-tempat di ma­na tak ada orang? Karena bulan, chandra, memberikan ke­adilan seadil-adilnya. Kalau ada orang yang mengaku tidak men­da­patkan kenikmatan, itu karena kesalahannya sendiri tidak memberi tempat untuk masuknya sinar purnama. Mungkin ditutupi oleh ego yang tinggi atau keangkuhan dan kesom­bongan yang besar. Artinya, pemimpin itu sudah bekerja dengan baik dan adil, tetapi ada saja yang mencela dan mencemoh, mungkin lantaran iri atau masalah lain. Tetapi pemimpin itu tetap harus bekerja tanpa peduli cemohan itu.

Pemimpin harus mendorong kemajuan di masyarakat bagaikan sifat Dewa Anila, dewanya angin. Kalau dorongan itu menimbulkan kesejahtraan maka pemimpin itu berfungsi sebagai Dewa Kuera, pemimpin yang memberikan kekayaan kepada rakyatnya. Namun kalau terjadi sebaliknya, masyarakat sudah didorong untuk maju tetapi ada saja satu dua orang yang ingin menggagalkannya, maka pemimpin bertindaklah seperti  Dewa Baruna yang siap menggulung siapa pun yang berbuat jahat. Kalau semua itu bisa dilakukan oleh seorang pemimpin maka puncaknya adalah berprilaku sebagai Dewa Agni yang mampu melihat ke masa depan namun menjauhkan masyarakatnya dari mara bahaya yang terjadi.

Apakah kita sudah memiliki pemimpin seperti ajaran Astabrata itu? Pemimpin yang jujur, adil dan tidak membeda-bedakan siapa kita, apa warna kulit kita, apa pekerjaan kita dan dari kelompok mana kita. Mari kita mencarinya pada pemilihan kepala daerah yang akan datang. Kalau pun para calon gubernur itu belum sepenuhnya sesuai sifatnya dengan Astabrata setidaknya dipilih siapa yang paling banyak mengarah ke sana. Janganlah memilih seorang pemimpin karena banyak memasang baliho, tetapi carilah pemimpin yang banyak mendekati sifat ke delapan dewa itu. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 20 Mei 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar