ADA sloka yang terkenal dari
Kekawin Ramayana ketika Sri Rama memberi
nasehat kepada
Wibhisana yang diangkat menjadi Raja Alengka setelah tewasnya Rahwana. Itu adalah sloka Kekawin Ramayana XXIV.52 yang bunyinya: Hyang
indra yama surya candra anila, kuera baruna agni nahan wwalu, sira ta maka
angga sang bhupati, matang nira inisti astabrata.
Terjemahan bebas sloka ini adalah:
Dewa Indra, Yama, Surya, Candra, Anila, Kuera, Baruna dan Agni, adalah delapan
dewa yang patut ditiru yang disebut Astabrata,
seharusnya dihayati oleh seorang pemimpin agar meresap dalam jiwa
raganya.
Sri Rama ingin menunjukkan contoh bagaimana
seharusnya seorang pemimpin bersikap dan bekerja untuk
rakyatnya.
Pemimpin harus berlaku sebagai Dewa Indra untuk
meningkatkan kesejahtraan masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin tak bisa
mementingkan dirinya sendiri, misalnya, korupsi
memperkaya diri. Pemimpin harus mementingkan kesejahtraan rakyat lebih
dulu, baru kesejahtraan dirinya.
Menjadi pemimpin harus adil layaknya Dewa Yama sebagai
simbol keadilan.
Adil dalam melayani masyarakat, jangan hanya melayani kelompok atau golongan tertentu saja yang kebetulan disukai sang pemimpin. Siapa tahu ketika dalam pemilihan,
ada sekelompok masyarakat yang tidak memilih pemimpin itu. Namun ketika
pemimpin sudah terpilih ia harus menjadi pemimpin seluruh masyarakat dengan
melupakan kelompok-kelompok tadi. Pemimpin itu harus juga milik masyarakat yang
tidak memilihnya.
Pemimpin harus berperilaku sebagai Dewa Surya
yang memberikan penerangan kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya, mencerdaskan
kehidupan masyarakat dari kegelapan. Apakah itu
kegelapan dari ilmu pengetahuan mau pun kegelapan
karena tak punya pekerjaan. Jangan hanya
membagikan proyek kepada kelompok pendukungnya saja. Sebagaimana halnya surya
sebagai matahari, semua lapisan masyarakat harus diberi sinarnya.
Pemimpin harus meneladani Dewa Chandra, memberikan
sinar kesejukan dan ketentraman pada masyarakat. Sinar bulan menerangi seluruh
isi bumi tanpa kecuali. Sinarnya ada di kota-kota, baur dengan sinar gemerlapan
lampu listrik. Sinarnya ada di kampung yang kumuh. Apakah orang kota
merasakan sinar rembulan itu dan adakah orang di kampung kumuh bahagia karena
mendapatkan sinar dari langit, bulan tidak peduli, dia tetap bersinar. Seperti
itulah pemimpin yang ideal, mereka harus selalu menebarkan kebaikan kepada
seluruh masyarakat tanpa peduli apakah kebaikannya itu diterima dengan tulus
atau tidak.
Sinar bulan, apalagi tatkala purnama yang indah,
menyinari tempat-tempat becek, kampung yang kumuh, bahkan di hamparan tanah
yang luas tanpa ada orang di sana. Untuk apa sinar bulan yang indah itu
memancar di tempat-tempat di mana tak ada orang? Karena bulan, chandra,
memberikan keadilan seadil-adilnya. Kalau ada orang yang mengaku tidak mendapatkan
kenikmatan, itu karena kesalahannya sendiri tidak memberi tempat untuk masuknya
sinar purnama. Mungkin ditutupi oleh ego yang tinggi atau keangkuhan dan kesombongan
yang besar. Artinya, pemimpin itu sudah bekerja dengan baik dan adil, tetapi
ada saja yang mencela dan mencemoh, mungkin lantaran iri atau masalah lain.
Tetapi pemimpin itu tetap harus bekerja tanpa peduli cemohan itu.
Pemimpin harus mendorong kemajuan di masyarakat bagaikan
sifat Dewa Anila, dewanya angin. Kalau dorongan itu menimbulkan kesejahtraan
maka pemimpin itu berfungsi sebagai Dewa Kuera, pemimpin yang memberikan
kekayaan kepada rakyatnya. Namun kalau terjadi sebaliknya, masyarakat sudah
didorong untuk maju tetapi ada saja satu dua orang yang ingin menggagalkannya,
maka pemimpin bertindaklah seperti Dewa Baruna yang siap menggulung siapa pun yang berbuat jahat. Kalau semua itu
bisa dilakukan oleh seorang pemimpin maka puncaknya adalah
berprilaku sebagai Dewa Agni yang mampu melihat ke masa depan namun menjauhkan
masyarakatnya dari mara bahaya yang terjadi.
Apakah kita
sudah memiliki pemimpin seperti ajaran Astabrata itu? Pemimpin yang jujur, adil
dan tidak membeda-bedakan siapa kita, apa warna kulit kita, apa pekerjaan kita
dan dari kelompok mana kita. Mari kita mencarinya pada pemilihan kepala daerah yang akan datang. Kalau pun para
calon gubernur itu belum sepenuhnya sesuai sifatnya dengan Astabrata setidaknya
dipilih siapa yang paling banyak mengarah ke sana. Janganlah memilih seorang
pemimpin karena banyak memasang baliho, tetapi carilah pemimpin yang banyak
mendekati sifat ke delapan dewa itu.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 20 Mei 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar