14 Mei 2017

Belajar Mempersiapkan Punarbhawa

DALANG wayang kulit paling populer di Bali, Wayan Nardayana, yang dikenal dengan “merk dagang” Cenk Blong sering kali menitipkan pesan-pesan keagamaan dalam pentasnya. Maklum, dia adalah master philsafat agama Hindu lulusan Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Dan salah satu yang sering disebutnya adalah “mari kita belajar untuk menghadapi kematian”.
 

Apa yang dimaksudkan untuk belajar menghadapi kematian? Agar kematian itu tidak membawa masalah dalam kehidupan nanti karena hanya karma baiklah yang bisa memberikan kehidupan yang lebih baik. Ajaran Hindu mengenal prinsip dasar dalam berkeyakinan, yakni Panca Srada. Salah satu dari lima prinsip dasar itu adalah percaya adanya reinkarnasi atau punarbhawa.

Dengan demikian, kematian bukahlah akhir dari suatu kehidupan yang panjang. Justru ada yang menganalogikan, kematian itu adalah awal dari kehidupan baru yang landasannya adalah karma yang telah kita perbuat dalam kehidupan sebelumnya. Kalau kita percaya adanya punarbhawa ini maka marilah kita berusaha untuk berbuat baik yang dipenuhi kebajikan. Karena karma yang kita lakukan semasa hidup itu merupakan awal dan cikal bakal dari kehidupan kita nantinya. Bagaimana berbuat baik itulah yang dimaksudkan oleh Dalang Cenk Blonk untuk kita pelajari bersama.

Masalahnya sudahkah dalam kehidupan ini kita mempersiapkan diri untuk itu? Kalau sudah persiapan seperti apa yang kita lakukan? Semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri, bukan dijawab orang lain, bahkan bukan juga kepada istri, suami, anak ataupun keluarga lainnya. Kalau kematian itu sudah tiba, yadnya yang besar pun tidak akan dapat menuntun kita untuk menghadap kepada-Nya. Hanyalah diri kita sendiri dengan ditemani oleh karma yang telah kita perbuat, yang akan mengantar kita pada suatu tujuan sesuai dengan hasil yang dipersembahkan oleh karma kita.
 


Kitab Sarasamuscaya sloka 32, menyebutkan, Apan nikang kadang warga rakwa, ring tunwan hingan ikang panganteraken, kunang ikang tumut, sahayan nikang dadi hyang ring paran, gawenya subhãsubha juga, matangnyan prihen tiking gawe hayu, sahayanta anuntunãken ri pona dlaha. Artinya: Keluarga, sahabat, dan teman hanya bisa mengatar sampai di kuburan saja ketika kematian itu datang. Adapun yang tetap turut mengantarkan roh hingga ke alam akherat adalah perbuatan baik dan buruk semasa hidupnya; lakukanlah segera perbuatan baik itu, yang akan menjadi teman pengantar ke alam surga.

Sementara itu kitab Nitisastra III.3 menulis: Anitya tikang hurip, anwami wayah kasugihan atilar ndatan sthiti, ikang surata anggameka kadi langgeng apuhara wiyoga tan lana. Adharma kalawan sudharma, guna muda, wedi-wedi kasuran uttama sadardha hananing sarira tumuhuh pati manut ndatan hilang. Artinya: Hidup di dunia ini tidak abadi atau kekal, ketampanan rupa, usia muda dan kekayaan yang berlimpah semuanya itu akan meninggalkan kita, semua itu tidak langgeng.

Karena itu marilah kita belajar untuk terlepas dari ikatan-ikatan indriawi kita, sebelum kita terlambat. Kita perbaiki karma kita di dalam kehidupan ini selain tetap teguh melaksanakan sraddha dan bhakti sesuai dengan keyakinan kita.

Dalam kitab Sarasamuscaya sloka. 8 disebutkan Ikang tang janma wwang, ksanika swabhawa ta ya, tan pahi lawan kedaping durlabha towi, matangnya pongakena ya ri kagawayaning Dharma sadhana, sakarananning manasanang sangsara, swarga phala kunang. Terjemahan bebasnya: Kelahiran sebagai manusia sangat pendek dan cepat, bagaikan pijaran cahaya petir, lagi pula kesempatan seperti ini sungguh sulit didapatkan. Oleh karena itu pergunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, lakukanlah perbuatan-perbuatan bajik (benar) yang akan memutus lingkaran dan putaran kesengsaraan lahir dan mati, di mana kebebasan abadi itu bisa diperoleh.

Pada sloka 31 Sarasamuscaya disebutkan: Yavaya dharmasilah syadanityam khalu jivitam, Ko hi janati kadyadya mrtyusena patisyati. Terjemahan bebasnya: Karena kematian tidak bisa diprediksi kedatangannya, pun tidak ada yang memberi tahu kapan datangnya, selagi masih hidup, lakukanlah dengan segera kebajikan dan kebenaran itu.

Dengan mengutip sloka-sloka itu marilah kita memulainya dari sekarang, pergunakan kesempatan hidup ini dengan sebaik-baiknya,, menabung karma baik untuk mempersiapkan diri menjelang punarbhawa. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 13 Mei 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar