DALANG wayang kulit paling populer di
Bali, Wayan Nardayana, yang dikenal dengan “merk dagang” Cenk Blong sering kali
menitipkan pesan-pesan keagamaan dalam pentasnya. Maklum, dia adalah master
philsafat agama Hindu lulusan Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Dan salah
satu yang sering disebutnya adalah “mari kita belajar untuk menghadapi kematian”.
Apa yang dimaksudkan untuk belajar
menghadapi kematian? Agar kematian itu tidak membawa masalah dalam kehidupan
nanti karena hanya karma baiklah yang bisa memberikan kehidupan yang lebih
baik. Ajaran Hindu mengenal prinsip dasar dalam berkeyakinan, yakni Panca
Srada. Salah satu dari lima prinsip dasar itu adalah percaya adanya reinkarnasi
atau punarbhawa.
Dengan demikian, kematian bukahlah akhir
dari suatu kehidupan yang panjang. Justru ada yang menganalogikan, kematian itu
adalah awal dari kehidupan baru yang landasannya adalah karma yang telah kita
perbuat dalam kehidupan sebelumnya. Kalau kita percaya adanya punarbhawa ini
maka marilah kita berusaha untuk berbuat baik yang dipenuhi kebajikan. Karena
karma yang kita lakukan semasa hidup itu merupakan awal dan cikal bakal dari kehidupan kita
nantinya. Bagaimana berbuat baik itulah yang dimaksudkan oleh Dalang Cenk Blonk
untuk kita pelajari bersama.
Masalahnya sudahkah dalam kehidupan ini
kita mempersiapkan diri untuk itu? Kalau sudah persiapan seperti apa yang kita
lakukan? Semua
pertanyaan itu hanya
bisa dijawab oleh diri kita sendiri, bukan dijawab orang lain, bahkan bukan juga kepada istri, suami, anak ataupun keluarga lainnya. Kalau kematian itu sudah tiba, yadnya yang besar pun tidak akan dapat menuntun kita
untuk menghadap kepada-Nya. Hanyalah diri kita sendiri dengan ditemani oleh
karma yang telah kita perbuat, yang akan mengantar kita pada suatu tujuan
sesuai dengan hasil yang dipersembahkan oleh karma kita.
Kitab Sarasamuscaya sloka 32, menyebutkan, Apan nikang kadang warga rakwa, ring tunwan hingan ikang panganteraken, kunang ikang
tumut, sahayan nikang dadi hyang ring paran, gawenya subhãsubha juga,
matangnyan prihen tiking gawe hayu, sahayanta anuntunãken ri pona dlaha. Artinya: Keluarga, sahabat, dan teman
hanya bisa mengatar sampai di kuburan saja ketika kematian itu datang. Adapun yang
tetap turut mengantarkan roh hingga ke alam akherat adalah perbuatan baik dan
buruk semasa hidupnya; lakukanlah segera perbuatan baik itu, yang akan menjadi
teman pengantar ke alam surga.
Sementara itu kitab Nitisastra III.3 menulis: Anitya tikang hurip, anwami wayah
kasugihan atilar ndatan sthiti, ikang surata anggameka kadi langgeng apuhara
wiyoga tan lana. Adharma kalawan sudharma, guna muda, wedi-wedi kasuran uttama
sadardha hananing sarira tumuhuh pati manut ndatan hilang. Artinya: Hidup di dunia ini tidak
abadi atau kekal, ketampanan rupa, usia muda dan kekayaan yang berlimpah
semuanya itu akan meninggalkan kita, semua itu tidak langgeng.
Karena itu marilah kita belajar untuk terlepas
dari ikatan-ikatan indriawi kita, sebelum kita terlambat. Kita perbaiki
karma kita di dalam kehidupan ini selain tetap teguh melaksanakan sraddha dan
bhakti sesuai dengan keyakinan kita.
Dalam kitab Sarasamuscaya sloka. 8 disebutkan Ikang tang janma wwang, ksanika swabhawa ta ya, tan pahi lawan kedaping durlabha
towi, matangnya
pongakena ya ri kagawayaning Dharma sadhana, sakarananning manasanang sangsara, swarga phala kunang. Terjemahan bebasnya:
Kelahiran
sebagai manusia sangat pendek dan cepat, bagaikan pijaran cahaya petir, lagi
pula kesempatan seperti ini sungguh sulit didapatkan. Oleh karena itu
pergunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, lakukanlah perbuatan-perbuatan
bajik (benar) yang akan memutus lingkaran
dan putaran kesengsaraan lahir dan mati, di mana kebebasan abadi itu bisa
diperoleh.
Pada sloka 31 Sarasamuscaya disebutkan: Yavaya dharmasilah syadanityam khalu jivitam, Ko hi
janati kadyadya mrtyusena patisyati. Terjemahan
bebasnya: Karena
kematian tidak bisa diprediksi kedatangannya, pun tidak ada yang memberi tahu
kapan datangnya, selagi masih hidup, lakukanlah dengan segera kebajikan dan
kebenaran itu.
Dengan mengutip sloka-sloka itu marilah kita memulainya dari
sekarang, pergunakan kesempatan hidup ini dengan sebaik-baiknya,, menabung
karma baik untuk mempersiapkan diri menjelang punarbhawa.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 13 Mei 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar