TUJUAN
perkawinan dalam ajaran Hindu adalah meneruskan keturunan. Karena itu ajaran
Hindu tidak membenarkan adanya perkawinan sejenis lantaran tak akan
memungkinkan mendapatkan keturunan dari perkawinan yang tidak normal itu.
Sementara
itu sebuah keluarga sudah pasti mendambakan kelahiran putra-putri yang ideal
yang dalam ajaran Hindu disebut anak suputra.
Anak yang berbudi pekerti luhur, cerdas, bijaksana, membanggakan keluarga. Anak
suputra ini yang akan mengangkat
harkat dan martabat kedua orang tuanya.
Maharsi
Casakya dalam bukunya Nitisastra menguraikan banyak hal tentang bagaimana anak
yang suputra itu. Dalam Nitisastra
Sloka 3.14 disebutkan: ekenaapi
suvrksena, puspitena sugandhitaa, vaasitam tadvanaṁ sarvam, suputrena kulam
yatha.
Terjemahan bebasnya: "Seluruh hutan menjadi harum baunya, karena terdapat sebuah pohon
yang berbunga indah dan harum semerbak. Demikian pula halnya bila dalam
keluarga terdapat putra yang suputra."
Masalahnya adalah bagaimana mengasuh anak itu
sehingga menjadi anak yang suputra? Orang tua tak bisa lepas tangan
dalam pengasuhan anaknya sejak dilahirkan. Dalam era moderen saat ini
kebanyakan orang tua si anak sibuk dalam pekerjaan sehingga anak dalam
pengasuhan keluarga yang lain, terutama adalah neneknya. Tetapi tak semua
keluarga punya nenek, maka anak itu berada dalam pengasuhan asisten rumah
tangga yang dulu disebut pembantu atau babu.
Kitab Nitisastra mengajarkan banyak hal bagaimana
seharusnya mengasuh anak agar kelak bisa menjadi anak suputra dambaan
seluruh keluarga. Nitisastra Śloka 3.18 menyebutkan: laalayet panca varsaani, dasa varsani taadayet, praapte to sodase
varse, putraṁ mitravadaacaret. Terjemahannya: "Asuhlah
anak dengan memanjakannya sampai berumur lima tahun, berikanlah hukuman (maksudnya pendidikan disiplin) selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah
dewasa (maksudnya sejak remaja)
didiklah dia sebagai teman”.
Mampukah seorang ibu mengasuh anak itu dengan
memanjakannya sampai usia lima tahun? Idealnya tentu harus mampu. Tetapi banyak
kendala yang dihadapi kedua orang tuanya. Terutama masalah pekerjaan. Ketika
anak itu semakin besar maka orang tua masa kini sering memanjakan anaknya
dengan gadget yang sudah berisi rekaman video berbagai mainan. Juga film-film
karton yang mudah diunduh di internet. Anak semakin manja dengan barang-barang
elektronik. Bahkan sebagian besar kehidupan anak-anak balita di perkotaan saat ini,
di mana kedua orang tuanya sibuk, dimanjakan dengan gadget. Anak akan menjadi
terasing dengan lingkungan dan kelak ia akan tumbuh menjadi orang yang sulit beradaptasi
dengan lingkungannya.
Anak yang terlalu manja di saat balita akan membuat
ia tak mempan untuk dimarahi dalam pengertian memberikan “hukuman”. Anak
cenderung bersifat melawan. Bagaimana kita memperlakukan anak sebagaimana yang
ditulis dalam kitab Nitisastra, tentulah amat sulit. Memanjakan anak menurut
Nitisastra bukan dengan memberikan mainan yang individual, tetapi memanjakan
dengan kasih sayang. Orang tua harus lebih banyak berinteraksi dengan sang anak
dan dalam bermanja-manja itu diselipkan ajaran disiplin. Kalau ada hal yang
salah harus diberi tahu bahwa itu salah sehingga sang anak bisa belajar mana
yang salah dan mana yang benar.
Lebih sulit lagi mendidik anak setelah menginjak
remaja. Anak sudah punya berbagai keinginan yang mungkin tak selaras dengan
keinginan orang tuanya. Anak punya minat yang bisa jadi tak sesuai dengan
kehendak orang tuanya. Nitisastra mengajarkan agar anak itu dijadikan teman.
Yang dimaksudkan adalah lebih sering berdialog sebagai teman dan bukan
menunjukkan otoriter sebagai orang tua. Kalau di usia seperti ini anak remaja selalu
disalahkan bisa jadi anak itu mencari pelampiasan di luar rumahnya. Dan kita
tahu, banyak sekali godaan yang bisa menjerumuskan seorang anak ke arah yang
tidak baik. Terjerat narkoba, misalnya.
Kalau itu yang terjadi kita gagal menjadikan anak
sebagai suputra, yang didapat adalah anak yang kuputra –
kebalikan dari suputra. Nitisastra Śloka 3.15 menyebutkan: “Seluruh hutan
terbakar hangus hanya karena satu pohon kering yang terbakar. Begitulah seorang
anak yang kuputra menghancurkan dan
memberikan aib bagi seluruh keluarga.”
Mari
kita mengasuh dan mendidik anak dengan benar agar menjadi suputra, bukan kuputra.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 27 Mei 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar