MARI kita lanjutkan ulasan pada minggu lalu.
Betapa pentingnya menjaga pembicaraan yang sumbernya dari pikiran yang
terkendali. Segala ucapan yang keluar dari mulut kita hendaknya menjadi sesuatu
yang menyejukkan dan berguna untuk kehidupan bersama. Namun, adakalanya ucapan
yang kita lakukan mengandung kebenaran tetapi tetap membuat sesuatu yang tidak
baik. Apa yang terjadi? Mungkin cara mengucapkannya yang salah atau tempat di
mana mengucapkannya tidak pas.
Mari kita mengutip satu sloka dalam
Wrehaspati Tattwa: Riastu tuhu ikang
ujar yan tan megawe hita wasana, dudu ngaran. Riastu tan tuhu ikang ujar yan
sampun magawe hita wasana, sadhu ngaranya. Terjemahannya
adalah: Walau pun berkata-kata yang jujur dan benar, jika
tidak membuat kebajikan dan kesejahteraan bagi orang banyak, itu merupakan
suatu kejahatan. Meski pun tidak berkata jujur tetapi dapat menciptakan
kedamaian dan kebahagiaan bagi semua orang, itu adalah kemuliaan namanya.
Lalu sloka selanjutnya: Nyang tan paprawrettyaning wak, pat kwehnya,
pratyekanya ujar ahala, ujar apregas ujar pisuna, ujar mitya, nahan tang pat
sinanggah hananing wak, tan ujarakena, tan angen-angen kojaranya. Terjemahannya:
Inilah kata-kata yang tidak patut diucapkan, ada empat banyaknya. Yaitu, jangan
mengucapkan kata-kata yang jahat, jangan mengucapkan kata-kata yang kasar,
jangan mengucapkan kata-kata yang memfitnah, jangan mengucapkan kata-kata
bohong. Keempat perkataan inilah hendaknya jangan diucapkan walaupun dalam
pikiran sekali pun hendaknya harus disingkirkan.
Sering kali kita alpa, sehingga
terhamburlah dari mulut kita kata-kata yang tidak patut diucapkan yang membawa
kerugian pada diri kita dan orang lain. Oleh karena itu kesadaran diri hendaknya
harus kita pupuk, agar segala ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut kita
dapat terkendalikan, dan bermanfaat bagi kehidupan kita dan orang lain yang
mendengarkannya.
Sloka Niti Sastra IV.4 menyebutkan: Yavat svasto
hyayam deho, yavon mrtyus ca duratah, yavad atman hitam kuryat, pranante kim’karisyati. Artinya:
Selama
badan masih kuat dan sehat, dan selama kematian masih belum menjemput kita,
lakukanlah seuatu yang menyebabkan kebaikan untuk menjaga kesucian atman,
dengan keinsyafan dan kesadaran diri, karena pada saat kematian menjelang, kita
tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Nah di sinilah kita mulai lanjut
membicarakan masalah perbuatan, kayika.
Apa pun yang kita perbuat, berarti kita telah membuat suatu karma yang akan
menentukan hidup kita pada masa-masa yang akan datang. Sekecil apapun perbuatan
yang kita lakukan sekarang, akan berpengaruh juga pada kehidupan yang akan
datang. Karena kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik pada masa-masa yang
akan datang, maka sekaranglah kesempatan kita untuk menanamkan karma-karma yang
baik dan menghindarkan diri dari perbuatan yang buruk dan tercela yang
bertentangan dengan ajaran agama.
Apakah pantangan yang dilakukan agar
perbuatan kita tidak bertentangan dengan ajaran agama? Dalam kitab Sarasamuscaya
ayat 76. disebutkan: Nihan ya tan
ulahakena, syamati-mati, mangahal-aha, siparadara, nahan tang telu yan ulahakena ring asing ring
parihasa, ring apatkala, ring pangipyan
tuwi singgahan juga. Terjemahannya: Inilah tiga pantangan yang tidak patut
dilakukan. Yaitu,
membunuh atau menyakiti, mencuri atau berangan-angan untuk memiliki hak orang
lain, berbuat zinah. Ketiganya itu janganlah hendaknya dilakukan terhadap siapa
pun baik secara berolok-olok, dalam keadaan dirundung malang, dalam khayalan sekali
pun hendaknya semua perbuatan itu dihindari.
Sebagai penutup kita kutip Sarasamuscaya
sloka 156 sebagai berikut: Matangnyan
nihan kadadyakenaning wwang, tan wak, kaya, manah, kawarjana, makolahang
asubhakarma, apan ikang wwang mulahaken ikang hayu,hayu tinemunnya, yapwan hala
pinakolahanya, hala tinemunya. Artinya: Oleh karenanya, inilah yang
harus diusahakan orang, janganlah dibiarkan perbuatan, kata-kata, dan pikiran
untuk melakukan perbuatan yang buruk, jika selalu berbuat kejahatan, kecelakaan
dan kesengsaraanlah yang akan ditemui. Apabila selalu diarahkan untuk suatu
kebaikan, kebaikanlah yang akan diperoleh.
Dengan pengendalian tiga hal penting ini,
pikiran, perkataan dan perbuatan sebagaimana yang dirangkum dalam Trikaya
Parisudha dan juga dilantunkan sebagai mantram penutup Puja Trisandhya semoga
kita menjadi orang yang berguna dalam kehidupan di masyarakat.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 6 Mei 2017)
Penulis di Pantai Ngobaran Gunung Kidul

Tidak ada komentar:
Posting Komentar