Manusyam durlabham prapya
vidyullasitacancalam bhavaksaye matih karya bhavopakaranesu ca
Kelahiran sebagai manusia sangat pendek dan cepat,
bagaikan pijaran cahaya petir. Kesempatan seperti ini sungguh sulit didapatkan.
Oleh karena itu pergunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, lakukanlah
perbuatan-perbuatan yang bijak dan benar, yang nantinya akan memutus lingkaran
dan putaran kesengsaraan lahir dan mati, di mana kebebasan abadi itu bisa di
peroleh.
(Terjemahan bebas Sarasamuccaya
Sloka 8)
Kali ini saya mengajak membahas kitab Sarasamuccaya
sebagai selingan dalam membahas Bhagawad Gita dan kitab suci Hindu lainnya.
Kita tahu Sarasamuccaya yang ditulis Bhagawan Wararuci merupakan himpunan dari
pelajaran etika dan moral yang dijadikan pedoman umat Hindu. Kitab ini diawali
dengan tujuan hidup sebagai manusia yang dilahirkan ke bumi. Ada 11 sloka dalam
kelompok ini. Saya hanya mengutip sloka 8 karena di sana seperti sudah ada
kesimpulannya.
Lalu apa yang harus dilakukan? Jalan hidup haruslah
berdasarkan dharma, melaksanakan ajaran agama. Tujuan hidup manusia dalam Hindu
adalah moksa. Kebebasan yang abadi. Keabadian itu hanya bisa dicapai jika hidup
kita dilandasi dengan kebijakan dan kebenaran yang sejati. Jika itu belum kita wujudkan
di dunia ini, maka kita belum bisa memutuskan lingkaran hidup dan mati. Adapun
lingkaran hidup dan mati itu sudah seringkali dikatakan oleh para leluhur kita
sebagai “bekal kelahiran”, yaitu suka
duka lara pati. Sekali waktu kita menemui banyak kesenangan, tapi lain
waktu tak bisa menghindari kedukaan, begitu pula bisa sakit dan akhirnya mati
tak bisa dicegah. Tak ada orang yang bisa tahu kapan saatnya meninggal dunia.
Sakit yang berat tak selalu berujung dengan kematian, sementara kesenangan yang
didapat belum tentu bebas dari intaian maut. Betapa banyak orang meninggal
dunia secara mendadak, sehabis main bola, sehabis seminar di hotel mewah, atau
mengalami kecelakaan. Sementara orang yang sakit berbulan-bulan, tak juga
dijemput maut.
Karena sulit ditebak kapan kematian datang, idealnya
seorang manusia tak perlu menunda berbuat baik dan berlaku bijak. Janganlah
sesumbar: “Ah masih muda, kita berfoya-foya, nanti setelah tua baru tobat dan
rajin sembahyang.” Apalagi kalau sesumbar begini: “Mumpung ada kesempatan kita
menumpuk kekayaan yang banyak, korupsi tak apa-apa, nanti pada usia tua dengan
kekayaan yang melimpah, baru kita membantu masyarakat, menyumbang pembangunan
pura ...” Ya, kalau usia kita bisa sampai tua, kalau tiba-tiba maut menjemput
pada saat kita melakukan foya-foya apalagi korupsi itu, kematian akan diiringi
oleh perbuatan adharma. Karma buruklah yang mengantar kita ke dunia akhirat.
Ini bukan saja jauh dari tujuan keabadian itu, tetapi kita akan menerima siklus
kelahiran yang lebih buruk di saat lain. Ya, kalau lahir tetap sebagai manusia
yang pasti “mutu”-nya lebih rendah, bagaimana kalau lahir sebagai binatang?
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 11 Juli 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar