12 Juli 2015

Tujuan Hidup Manusia

Manusyam durlabham prapya vidyullasitacancalam bhavaksaye matih karya bhavopakaranesu ca
Kelahiran sebagai manusia sangat pendek dan cepat, bagaikan pijaran cahaya petir. Kesempatan seperti ini sungguh sulit didapatkan. Oleh karena itu pergunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, lakukanlah perbuatan-perbuatan yang bijak dan benar, yang nantinya akan memutus lingkaran dan putaran kesengsaraan lahir dan mati, di mana kebebasan abadi itu bisa di peroleh.
(Terjemahan bebas Sarasamuccaya Sloka 8)

Kali ini saya mengajak membahas kitab Sarasamuccaya sebagai selingan dalam membahas Bhagawad Gita dan kitab suci Hindu lainnya. Kita tahu Sarasamuccaya yang ditulis Bhagawan Wararuci merupakan himpunan dari pelajaran etika dan moral yang dijadikan pedoman umat Hindu. Kitab ini diawali dengan tujuan hidup sebagai manusia yang dilahirkan ke bumi. Ada 11 sloka dalam kelompok ini. Saya hanya mengutip sloka 8 karena di sana seperti sudah ada kesimpulannya.

Kesimpulan itu adalah kelahiran sebagai manusia (yang dimaksudkan adalah kehidupan itu sendiri) sangatlah pendek. Pohon beringin bisa berusia ratusan tahun, ada binatang yang berusia lebih dari seratus tahun, tapi usia manusia selalu berkurang seiring dengan kemajuan zaman. Kini usia hidup manusia di bawah 100 tahun, bahkan rata-rata pada angka 70-80 tahun. Penyakit semakin bertambah dan itu juga karena ulah manusia sendiri termasuk dampak dari kemajuan teknologi.

Lalu apa yang harus dilakukan? Jalan hidup haruslah berdasarkan dharma, melaksanakan ajaran agama. Tujuan hidup manusia dalam Hindu adalah moksa. Kebebasan yang abadi. Keabadian itu hanya bisa dicapai jika hidup kita dilandasi dengan kebijakan dan kebenaran yang sejati. Jika itu belum kita wujudkan di dunia ini, maka kita belum bisa memutuskan lingkaran hidup dan mati. Adapun lingkaran hidup dan mati itu sudah seringkali dikatakan oleh para leluhur kita sebagai “bekal kelahiran”, yaitu suka duka lara pati. Sekali waktu kita menemui banyak kesenangan, tapi lain waktu tak bisa menghindari kedukaan, begitu pula bisa sakit dan akhirnya mati tak bisa dicegah. Tak ada orang yang bisa tahu kapan saatnya meninggal dunia. Sakit yang berat tak selalu berujung dengan kematian, sementara kesenangan yang didapat belum tentu bebas dari intaian maut. Betapa banyak orang meninggal dunia secara mendadak, sehabis main bola, sehabis seminar di hotel mewah, atau mengalami kecelakaan. Sementara orang yang sakit berbulan-bulan, tak juga dijemput maut.

Karena sulit ditebak kapan kematian datang, idealnya seorang manusia tak perlu menunda berbuat baik dan berlaku bijak. Janganlah sesumbar: “Ah masih muda, kita berfoya-foya, nanti setelah tua baru tobat dan rajin sembahyang.” Apalagi kalau sesumbar begini: “Mumpung ada kesempatan kita menumpuk kekayaan yang banyak, korupsi tak apa-apa, nanti pada usia tua dengan kekayaan yang melimpah, baru kita membantu masyarakat, menyumbang pembangunan pura ...” Ya, kalau usia kita bisa sampai tua, kalau tiba-tiba maut menjemput pada saat kita melakukan foya-foya apalagi korupsi itu, kematian akan diiringi oleh perbuatan adharma. Karma buruklah yang mengantar kita ke dunia akhirat. Ini bukan saja jauh dari tujuan keabadian itu, tetapi kita akan menerima siklus kelahiran yang lebih buruk di saat lain. Ya, kalau lahir tetap sebagai manusia yang pasti “mutu”-nya lebih rendah, bagaimana kalau lahir sebagai binatang?

Karena itu mumpung lahir sebagai manusia, mari perbaiki kadar karma kita, dan itu pesan awal dari Sarasamuccaya. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 11 Juli 2015)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar