Cendekiawan Hindu yang jadi legendaris di
masa lalu, Swami Vivekananda, ucapannya sering kali dikutip dan tetap relevan
sampai masa kini. Salah satu ucapannya adalah: your hand on
work and your heart on God. Artinya: Tangan menghadapi pekerjaan, hati menghadap Tuhan.
Penafsiran ini begitu luasnya. Ketika kita
bekerja, fokus pada pekerjaan tentu saja sangat penting. Tetapi kita tak bisa
melepaskan barang sekejap tentang keberadaan Tuhan karena itu setiap pekejaan
yang kita ambil pada hakekatnya adalah pencerminan rasa bhakti kita kepada
Tuhan.
Bhagawad Gita Bab IX Sloka 27 menyebutkan: yad karosi yad asnasi yaj juhosi dadasi yat, tat tapasyai kaunteya tat
kurusva madarpanam. Terjemahan
bebasnya: Pekerjaan apapun yang kau lakukan, apapun yang kau persembahkan dan
dermakan, makanan apapun yang kau nikmati, disiplin diri apapun yang engkau
laksanakan, lakukanlah semuanya itu hanya sebagai bhakti kepada Aku (Tuhan).
Bagaimana menjabarkan bhakti kepada Tuhan
itu? Bekerjalah untuk kemanusiaan dan unsuk sesama manusia, bahkan untuk semua
makhluk hidup karena semua itu adalah ciptaan Tuhan. Bukan bekerja untuk
kepentingan diri sendiri. Lebih-lebih bagi para pemimpin, mereka harus punya budaya
kerja yang terukur dan jelas. Budaya kerja itu, sebagaimana dikutip dalam wejangan
Swami Vivekananda adalah kerja yang dilandasi pengetahuan, kebijaksanaan,
kecerdasan, punya etika dan memahami hakekat kerja itu sendiri.
Mari kita telisik para pemimpin dan
calon-calon pemimpin kita saat ini, apakah mereka punya budaya kerja yang
dilandasi bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apakah betul mereka akan siap
bekerja untuk kepentingan sesama manusia, atau jangan-jangan mereka menimbun
harta kekayaan untuk diri sendiri dan mengabaikan orang banyak.
Ada seseorang yang mencalonkan diri sebagai
bupati, misalnya. Sesuai aturan orang itu tentu akan menjadi calon dari
partainya sendiri, karena partailah yang mengusung pencalonan itu. Tetapi ketika
dia menyadari bahwa partainya akan mencalonkan orang lain dan dia sulit untuk
diterima, maka dia bergerilya mencari dukungan dari partai lain. Dia merasa
super dan merasa bahwa dirinya yang paling cocok menjadi bupati sehingga
menabrak etika politik yang ada. Orang bisa saja menggugat apa benar dia hebat,
apa buktinya dia hebat, apa karyanya untuk masyarakat banyak? Adakah dia punya
budaya kerja yang layak diteladani? Atau jangan-jangan ego yang bermain lalu
jalan pintas ditempuh, misalnya, membeli dukungan dari partai lain. Ini
benar-benar tidak mendidik.
Saat ini banyak calon pemimpin yang
sebenarnya belum pantas untuk memimpin. Mereka menempuh berbagai cara
seolah-olah hanya dirinya yang paling pantas. Memasang baliho besar di pinggir
jalan, berkoar-koar dapat dukungan yang paling banyak, lalu memakai jalan
pintas itu tadi. Ditolak di partai ini, melamar ke partai itu dengan
mengandalkan kekuatan materi. Padahal syarat pemimpin yang ideal itu sudah
banyak ditulis dalam kitab-kitab yang memberi pedoman bagaimana “bekerja yang
dlandasi bhakti.”
Salah satu syarat itu, misalnya, Sad
Warnaning Rajaniti, enam syarat kepemimpinan yang ideal. Yang pertama adalah Atmasampad, artinya berkepribadian mulia dan luhur. Yang kedua, Pradnya, artinya cerdas dan bijaksana. Yang ketiga, Utsaha, artinya kerja keras dan kreatif.
Yang keempat, Abhigamika, artinya berpenampilan yang menarik. Yang kelima, Sakya Samanta, artinya bisa menyadarkan dan mengontrol bawahannya.
Yang keenam, Aksudra Parisatha, artinya mampu memimpin persidangan, mengarahkan pembicaraan dan seterusnya.
Keenam syarat itu harus menyatu dan
melebur ke dalam diri sang pemimpin. Kalau satu saja tak dipenuhinya, apalagi
lebih banyak yang tidak dipenuhi, janganlah menjadi pemimpin. Bagaimana mungkin
memenuhi syarat Sad Warnaning Rajaniti
kalau pemimpin itu masih suka pergi ke sabungan ayam, malah menjadi sponsor untuk kegiatan
sabung ayam.
Pemimpin itu harus bekerja keras, bukan kerja
keras memasang baliho dan mengumpulkan massa dengan simakrama. Tetapi bekerja
untuk kesejahtraan rakyat. Jika pemimpin itu sudah pernah terpilih dan saat ini
kembali mencalonkan diri, bertanyalah pada diri sendiri terlebih dahulu: apa
yang sudah saya lakukan untuk rakyat? Lima tahun memimpin jalan-jalan di pedesaan
tetap “berukir”. Jangankan berkarya untuk kemanusiaan yang luas, untuk
kepentingan manusia di pedesaan (rakyat) saja tak mampu.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar