30 Mei 2015

Bekerja untuk Berbhakti

Cendekiawan Hindu yang jadi legendaris di masa lalu, Swami Vivekananda, ucapannya sering kali dikutip dan tetap relevan sampai masa kini. Salah satu ucapannya adalah: your hand on work and your heart on God. Artinya: Tangan menghadapi pekerjaan, hati menghadap Tuhan.

 Penafsiran ini begitu luasnya. Ketika kita bekerja, fokus pada pekerjaan tentu saja sangat penting. Tetapi kita tak bisa melepaskan barang sekejap tentang keberadaan Tuhan karena itu setiap pekejaan yang kita ambil pada hakekatnya adalah pencerminan rasa bhakti kita kepada Tuhan.

Bhagawad Gita Bab IX Sloka 27 menyebutkan: yad karosi yad asnasi yaj juhosi dadasi yat, tat tapasyai kaunteya tat kurusva madarpanam. Terjemahan bebasnya: Pekerjaan apapun yang kau lakukan, apapun yang kau persembahkan dan dermakan, makanan apapun yang kau nikmati, disiplin diri apapun yang engkau laksanakan, lakukanlah semuanya itu hanya sebagai bhakti kepada Aku (Tuhan).

Bagaimana menjabarkan bhakti kepada Tuhan itu? Bekerjalah untuk kemanusiaan dan unsuk sesama manusia, bahkan untuk semua makhluk hidup karena semua itu adalah ciptaan Tuhan. Bukan bekerja untuk kepentingan diri sendiri. Lebih-lebih bagi para pemimpin, mereka harus punya budaya kerja yang terukur dan jelas. Budaya kerja itu, sebagaimana dikutip dalam wejangan Swami Vivekananda adalah kerja yang dilandasi pengetahuan, kebijaksanaan, kecerdasan, punya etika dan memahami hakekat kerja itu sendiri.


Mari kita telisik para pemimpin dan calon-calon pemimpin kita saat ini, apakah mereka punya budaya kerja yang dilandasi bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apakah betul mereka akan siap bekerja untuk kepentingan sesama manusia, atau jangan-jangan mereka menimbun harta kekayaan untuk diri sendiri dan mengabaikan orang banyak.

Ada seseorang yang mencalonkan diri sebagai bupati, misalnya. Sesuai aturan orang itu tentu akan menjadi calon dari partainya sendiri, karena partailah yang mengusung pencalonan itu. Tetapi ketika dia menyadari bahwa partainya akan mencalonkan orang lain dan dia sulit untuk diterima, maka dia bergerilya mencari dukungan dari partai lain. Dia merasa super dan merasa bahwa dirinya yang paling cocok menjadi bupati sehingga menabrak etika politik yang ada. Orang bisa saja menggugat apa benar dia hebat, apa buktinya dia hebat, apa karyanya untuk masyarakat banyak? Adakah dia punya budaya kerja yang layak diteladani? Atau jangan-jangan ego yang bermain lalu jalan pintas ditempuh, misalnya, membeli dukungan dari partai lain. Ini benar-benar tidak mendidik.

Saat ini banyak calon pemimpin yang sebenarnya belum pantas untuk memimpin. Mereka menempuh berbagai cara seolah-olah hanya dirinya yang paling pantas. Memasang baliho besar di pinggir jalan, berkoar-koar dapat dukungan yang paling banyak, lalu memakai jalan pintas itu tadi. Ditolak di partai ini, melamar ke partai itu dengan mengandalkan kekuatan materi. Padahal syarat pemimpin yang ideal itu sudah banyak ditulis dalam kitab-kitab yang memberi pedoman bagaimana “bekerja yang dlandasi bhakti.”

Salah satu syarat itu, misalnya, Sad Warnaning Rajaniti,  enam syarat kepemimpinan yang ideal. Yang pertama adalah Atmasampad, artinya berkepribadian mulia dan luhur. Yang kedua, Pradnya, artinya cerdas dan bijaksana. Yang ketiga, Utsaha, artinya kerja keras dan kreatif. Yang keempat, Abhigamika, artinya berpenampilan yang menarik. Yang kelima, Sakya Samanta, artinya bisa menyadarkan dan mengontrol bawahannya. Yang keenam, Aksudra Parisatha, artinya mampu memimpin persidangan, mengarahkan pembicaraan dan seterusnya.

Keenam syarat itu harus menyatu dan melebur ke dalam diri sang pemimpin. Kalau satu saja tak dipenuhinya, apalagi lebih banyak yang tidak dipenuhi, janganlah menjadi pemimpin. Bagaimana mungkin memenuhi syarat Sad Warnaning Rajaniti kalau pemimpin itu masih suka pergi ke sabungan ayam, malah menjadi sponsor untuk kegiatan sabung ayam.

Pemimpin itu harus bekerja keras, bukan kerja keras memasang baliho dan mengumpulkan massa dengan simakrama. Tetapi bekerja untuk kesejahtraan rakyat. Jika pemimpin itu sudah pernah terpilih dan saat ini kembali mencalonkan diri, bertanyalah pada diri sendiri terlebih dahulu: apa yang sudah saya lakukan untuk rakyat? Lima tahun memimpin jalan-jalan di pedesaan tetap “berukir”. Jangankan berkarya untuk kemanusiaan yang luas, untuk kepentingan manusia di pedesaan (rakyat) saja tak mampu. 
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar