Berikut kisah dari zaman Mahabharata setelah berakhirnya Bharatayudha, bagaimana perbuatan memperolok orang suci
berakibat besar untuk sebuah kerajaan. Kisah ini diceritakan terjadi di
Kerajaan Dwaraka, kerajaannya Sri Krishna. Saat itu Sri Krishna sudah berada di
dalam kerajaannya, setelah selesai urusannya dengan para Pandawa dan sesudah
penobatan Prabu Yudistira.
Diceritakan
pada suatu hari ada rombongan tujuh resi agung melewati Kerajaan Dwaraka.
Beberapa orang dari wangsa Yadawa, sebutan penduduk di Kerajaan Dwaraka,
memperolok ke tujuh resi agung itu. Mereka ingin melecehkan para resi itu.
Mereka mendandani seorang anak muda lelaki seolah-olah perempuan yang sedang
hamil besar. Lalu kepada tujuh resi agung itu, seseorang bertanya: “Kapan bayi
anak ini lahir dan apa kira-kira jenis kelaminnya?”
Orang-orang
Yadawa berharap para resi akan menjawab anak itu lelaki atau perempuan. Apa pun
jenis kelaminnya tentu tak penting bagi mereka, yang lebih penting para resi
itu mau menjawabnya. Dan pastilah kalau jawaban para resi itu keluar, mereka
akan tertawa terbahak-bahak, dan membuka kedoknya bahwa semua ini olok-olok
karena orang yang seperti hamil itu adalah anak lelaki.
Ternyata
tujuh resi agung itu serius berembug sebelum menjawab. Apa jawaban para resi?
“Perempuan hamil ini akan melahirkan satu gada besar yang akan menghancurkan
wangsa Yadawa dan menenggelamkan Kerajaan Dwaraka”. Orang-orang Yadawa kaget
sebentar lalu tertawa terbahak-bahak. Ketika mereka mau memperolok para resi
itu lebih lanjut, ternyata para resi sudah menghilang, tak tahu ke mana
arahnya.
Tak berapa
lama setelah wangsa Yadawa itu tertawa-tawa, tiba-tiba ada suatu keanehan yang
mengagetkan mereka. Lelaki yang didandani seperti perempuan hamil itu, ternyata
betul melahirkan sebuah gada baja.
Mereka pun ketakutan dan bingung. Akhirnya
gada yang keluar dari perut lelaki itu itu dibawanya kepada seseorang yang
bernama Ugrasena, salah seorang tokoh dari klan Yadawa. Ugrasena lalu menggiling
gada itu menjadi tepung dan membuangnya ke laut. Aneh tepung itu kembali lagi
ke pantai dan berubah menjadi rumput ilalang yang setajam pisau. Sebagian
serpihan gada yang dilempar ke laut ditelan oleh seekor ikan.
Kemudian seorang
nelayan yang bernama Jaras berhasil menangkap ikan itu. Jaras menemukan
sekeping gada itu lalu diberikannya kepada sahabatnya, seorang pemburu.
Kepingan gada itu dijadikan anak panah.
Inilah awal
dari kehancuran wangsa Yadawa dan Kerajaan Dwaraka. Sri Krishna sudah tahu
pertanda alam ini dan kepada Dewa Narada, Krishna sudah berpesan inilah saatnya
tiba dia akan kembali ke alam dewata, kembali sebagai Wisnu setelah selesai
menjalani tugas sebagai awatara.
Bagaimana wangsa Yadawa bisa punah? Berawal dari suatu pesta
besar di tepi pantai. Tiba-tiba terjadi kerusuhan tanpa jelas sebabnya.
Masing-masing orang saling menyerang menggunakan rumput ilalang menyerupai
pisau itu. Perkelahian di antara para wangsa Yadawa menjadi demikian dasyat
sehingga seluruh warga mati di tepi pantai itu.
Setelah
mengetahui bahwa seluruh wangsa Yadawa telah meninggal, Sri Krishna pergi ke
hutan dan berbaring di bawah sebatang pohon. Seorang pemburu sedang ada di
hutan itu. Pemburu melihat jari kaki Krishna dan mengira itu seekor burung.
Pemburu memanah “burung” itu, dan darah pun mengucur. Darah Sri Krishna.
Pemburu kaget dan bersimpuh di depan Krishna memohon pengampunan. Krishna
tersenyum dan memberi tahu pemburu itu bahwa itulah jalannya untuk kembali
menuju alam dewa, dari panah yang berasal dari gada. Dan ia mengingatkan kepada
pemburu, Kerajaan Dwaraka akan segera tenggelam oleh air bah dari laut.
Banyak hal
yang bisa dipetik dari hikayat ini. Bahwa kehancuran sebuah kerajaan dan
musnahnya sebuah bangsa (wangsa) bisa karena kejadian yang sangat sepele,
memperolok-olok orang suci. Tetapi tentu semuanya sudah diatur oleh Sang
Pencipta Yang Agung, kapan sebuah peradaban berakhir. Sekarang ini sopan santun
kita kepada orang tua, termasuk kepada orang suci, sudah mulai luntur.
Pelecehan kepada ulama, pendeta, orang suci, marak di media-media sosial.
Apakah ini pertanda akan datang kehancuran? Mari kita introspeksi di hari
Purnama Kapat yang baik ini, semoga hal itu tak terjadi. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar