SETIAP orang wajar memiliki nafsu. Bahkan orang yang tidak
punya nafsu maka kehidupannya menjadi hampa, mungkin pula dalam keadaan tidak
normal, seperti sakit, misalnya. Tidak punya nafsu makan maka orang itu menjadi
lemah dan harus dibantu untuk memasukkan energi ke dalam tubuhnya.
Namun, tidak semua nafsu itu baik. Ada nafsu buruk yang akan
membuat orang sulit dalam menjalani kehidupan ini. Kitab Sarasamuscaya pada
sloka 73 menyebutkan: manasa triwidham
caiwa waca caiwa caturwinham kayena triwidham capi dacakarma pathaccaret.
Terjemahan bebasnya: “Sepuluh banyaknya hawa nafsu yang harus dikendalikan,
tiga bagian dari pikiran, empat bagian dari perkataan, dan tiga bagian dari
perbuatan.”
Bagaimana rinciannya? Pada sloka 74 disebutkan, keinginan yang
masih dalam taraf pikiran itu meliputi keinginan untuk memiliki hak orang lain,
keinginan untuk membenci makluk hidup lain atau sesama manusia, dan keinginan
dari pikiran yang tidak percaya adanya hukum karma, hukum sebab dan akibat.
Ketiga nafsu ini yang harus dikendalikan dari pikiran kita sebelum disalurkan
ke dalam perkataan dan perbuatan.
Pada sloka 75 dirinci bagaimana nafsu buruk yang muncul dari
cara kita berkata-kata. Keempat nafsu itu adalah berkata jahat, berkata kasar,
memfitnah dan berkata-kata yang penuh kebohongan. Sedangkan pada sloka 76
dirinci tiga nafsu yang haris dikendalikan dari perbuatan kita. Apa itu?
Mencuri, berzinah dan membunuh.
Jika kita tak bisa mengendalikan ke sepuluh nafsu buruk itu,
maka kepribadian kita akan kentara sebagai pribadi yang tidak baik, pribadi
yang tercela. Ini langsung diuraikan dalam sloka 77 Kitab Sarasamuscaya yang
berbunyi: kayena manasa waca yadabhiksnam
niswyate, tadewapaharatyenam tasmat kalyanamacaret. Terjemahan bebasnya: “Yang
membuat orang dikenal adalah hasil perbuatannya, perkataannya, dan pikirannya.
Melalui ketiganya ini orang mengetahui kepribadian diri. Maka dari itu
biasakanlah untuk bebuat baik, berkata benar, dan berpikir bajik.” Para lelulur
kita di masa lalu kemudian merangkum berbagai sloka tentang nasfu itu menjadi
ajaran Tri Kaya Parisudha.
Jika dikaitkan dengan Weda, maka nafsu buruk ini harus
dimohonkan maaf dalam setiap pemujaan. Ada puja stawa khusus tentang ini,
diambil dari salah satu sloka dalam Ksama Mahadevastuti, bunyinya: Om ksantavyah kayiko
dosah, ksantavyo vaciko mama, ksantavyo manaso dosah, tat pramadat ksamasva mam.Terjemahan
bebasnya: “Ya Tuhan, ampunilah dosa
yang dilakukan oleh perbuatan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui kata-kata
hamba, ampunilah dosa dari pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
Puja dari Mahadevastuti ini oleh para leluhur kita di Bali
diambil untuk rangkuman puja-puja yang akan dijadikan Puja Stawa sehari-hari
yang kemudian dikenal sebagai Puja Tri Sandya. Puja stawa ini dijadikan urutan
penutup dari 6 bait Puja Tri Sandhya.
Jika kita perhatikan dengan seksama bagaimana urutan dari
nafsu buruk yang ada di dalam Sarasamuscaya pada sloka lebih awal dan bagaimana
jika nafsu buruk itu dimohonkan pengampunan atau maaf sesuai sloka
Mahadevastuti, maka ada urutan yang beda. Nafsu buruk yang pertama harus
dikendalikan adalah pikiran, kemudian baru perkataan dan menyusul perbuatan.
Pikiran inilah sumber dari segala nafsu, baik nafsu buruk maupun nafsu baik.
Lidah dan mulut kita tak bisa mengucapkan kata apa pun kalau pikiran kita tidak
memerintahkannya. Begitu pula perbuatan yang kita lakukan, semuanya
dikendalikan oleh pikiran kita. Maka dalam hal pengendalian diri, mulailah dari
apa yang kita pikirkan.
Sebaliknya, dalam memohon pengampunan, pikiran letaknya di
belakang. Perbuatan buruklah yang harus dimohonkan maaf lebih dahulu, karena
perbuatan itu yang bersinggungan dengan lingkungan sekitar. Kalau kita misalnya
melakukan pembunuhan, maka itu adalah dosa besar yang harus dimohonkan ampun.
Kalau cuma berkata-kata: “kau akan aku bunuh”, maka jika hanya berhenti sebagai
kata dan belum melakukan perbuatan, dosanya tidak sebesar melakukan perbuatan.
Akan halnya pikiran, dosa ini tidak berpengaruh terhadap lingkungan karena
tidak ada yang bisa melihat dan merasakan apa yang sedang kita pikirkan. Itu
hanya kita yang tahu.
Namun jika kita ingin hidup baik-baik, meski pun amat sukar
mengendalikannya, cobalah dimulai dari pikiran. Dalam bahasa moderen, mari kita
berpikir positif. Jadi kendalikan nafsu buruk itu lebih-lebih menjelang Hari
Raya Galungan mendatang, sehingga betul-betul kebajikan atau dharma yang
menang.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 3 September 2015))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar