DAPATKAH
kita membayangkan bagaimana bumi ini jika tidak ada tumbuh-tumbuhan? Planet
Mars dan Planet Bulan yang kita ketahui dari penelitian para ahli, ternyata
tidak ada tumbuh-tumbuhan yang hidup di sana. Itu sebabnya planet itu panas
sehingga tidak ada makhluk hidup yang tinggal di sana. Entah di planet lainnya.
Bersyukurlah
kita, planet bumi tempat kita hidup ini penuh dengan tumbuh-tumbuhan, dari
berbagai jenis pohon, besar mau pun kecil. Dari yang berbuah sampai yang
berumbi, dari yang bisa dimakan dan menjadi kebutuhan hidup sehari-hari sampai
yang mengandung racun. Bumi ini diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaannya.
Kitab
Bhagawad Gita Bab III sloka 14 menyebutkan: Annaad
bhavanti bhuutaani, prajnyaad anna sambhavad, yadnad bhavati parjanyo, yadnah
karma samudbhavad. “Semua makhluk hidup dilahirkan dari makanan. Makanan
dilahirkan dari hujan. Dan hujan turun karena pelaksanaan
persembahyangan-persembahyangan suci. Selanjutnya persembahyangan suci yadnya
terlahir dari perbuatan.” Terjemahan ini
dikutip dari BG:
Nyanyian Tuhan oleh Darmayasa. Terjemahan lainnya langsung merujuk tumbuh-tumbuhan
seperti: “Makhluk hidup berasal dari makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan. Hujan berasal dari yadnya. Yadnya itu
adalah karma.”
Meski ada
sedikit perbedaan dalam penerjemahan Bhagawad Gita, semuanya itu hal yang
biasa. Intinya adalah kehidupan ada karena makanan. Mustahil ada makhluk hidup,
apa pun jenis makhluk itu apakah manusia, hewan, atau ikan semuanya butuh
makanan. Dari mana makanan itu? Ya, dari tumbuh-tumbuhan. Dari mana
tumbuh-tumbuhan hidup? Dari adanya hujan. Dan hujan itu ada, demikian kata
kitab suci, karena ada persembahyangan, ada yadnya. Jadi ibarat lingkaran,
Tuhan menciptakan bumi, tumbuh-tumbuhan dan makhluk, kemudian makhluk yang
bernama manusia melakukan yadnya sebagai rasa syukurnya dan hewan pun ada yang
dijadikan “korban suci” untuk kelangsungan yadnya ini.
Tradisi
memuliakan tumbuh-tumbuhan dan hewan sudah berakar jauh sebelum tahun Masehi di
lembah Sungai Sindhu, India, di mana agama Hindu berawal. Tradisi ini sejatinya
adalah yadnya untuk memuja Tuhan karena telah memberikan sarana untuk
berlangsungnya kehidupan. Berabad-abad kemudian tradisi ini lalu “dipatenkan”
di Nusantara, khususnya sampai kini, dijaga sebagai warisan ritual agama.
Jadilah hari memuja Tuhan atas tersedianya tumbuh-tumbuhan itu sebagai Tumpek
Wariga dan hari memuja Tuhan atas adanya hewan yang bisa mendukung kehidupan
itu sendiri sebagai Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Dan hari ini, Sabtu Kliwon
adalah Tumpek Wariga. Juga disebut Tumpek Bubuh lantaran ciri khas sejajen yang
dihaturkan ada berupa bubuh (bubur),
yakni disebut bubuh gendar. Ada pula
yang menyebut Tumpek Pengatag, simbul menyongsong hari raya Galungan.
Para Resi
menyebutkan, tatkala Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan maka Beliau menjalankan
fungsi sebagai Dewa Sangkara. Karena itu pada Tumpek Wariga ini umat Hindu
memuja Dewa Sangkara sebagai manifestasi Tuhan untuk memohon berkah dan
kekuatan dalam menjaga tumbuh suburnya berbagai pepohonan, khususnya yang
buahnya bisa dipakai yadnya. Di India sendiri ada hari yang disebut Sangkara
Puja, hampir mirip karena dalam pemujaan ini berbagai buah dihidangkan sebagai
persembahan. Tentu “kemasan luar” dari ritual itu berbeda tetapi “kemasan dalam”
sama, yakni memohon tuntunan Tuhan dalam mengembangkan dan melindungi
tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan makhluk hidup yang paling utama.
Tentu saja,
dalam hal perlindungan ini, kita tak bisa menyerahkan begitu saja kepada Tuhan.
Tak bisa kita hanya mengucapkan doa dan mantram maka otomatis tumbuh-tumbuhan
yang berbuah dilindungi oleh Tuhan. Kita sendiri wajib melindunginya. Karena
itu para leluhur kita di Bali menyusun aturan bagaimana melindungi
tumbuh-tumbuhan, terutama pohon yang berbuah dan besar. Aturan itu misalnya ada
di dalam Lontar Manawa Swarga. Dalam lontar ini disebutkan siapa menebang pohon
tanpa izin raja, maka akan dihukum dengan denda lima ribu kepeng. Bahkan di
dalam kerajaan ada jabatan yang bernama Menteri Juru Kayu, tugasnya seperti
Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup saat ini, menjaga hutan.
Sampai
sekarang di beberapa desa adat ada larangan menebang pohon tanpa izin bendesa adat. Planet bumi ini akan gersang jika tidak kita jaga tumbuh-tumbuhan dan marilah
Tumpek Wariga kita jadikan cara menjaga itu.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 13 Agustus 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar