Kitab Bhagawad Gita pada Bab IV sloka 33 menulis: sreyan dravya-mayad yajnaj, jnana-yajnah
parantapa, sarvam karmakhilam partha, janne parisamapyate. Terjemahannya: persembahan
berupa ilmu pengetahuan, lebih bermutu daripada persembahan materi, dalam
keseluruhannya semua kerja, berpusat pada ilmu pengetahuan, oh Partha.
Terjemahan di atas diambil dari kitab Bhagawad Gita oleh
Nyoman S Pendit. Beberapa penerjemah lainnya menafsirkan sedikit berbeda di
dalam kalimat terakhir sloka di atas. Prabu Dharmayasa menafsirkan bahwa semua
perbuatan-perbuatan itu berakhir pada ilmu pengetahuan. Adapun Mohan MS
menafsirkan, apapun semua tindakan kita tanpa kecuali memuncak dalam kebijaksanaan
(pengetahuan).
Beda yang tipis. Yang satu menyebutkan semua jenis
pekerjaan harus berpusat kepada ilmu pengetahuan. Yang dimaksudkan adalah tanpa
seseorang memiliki ilmu pengetahuan maka apa pun pekerjaannya tidak mencapai
hasil dengan baik. Yang lain menyebutkan, segala pekerjaan atau perbuatan akan
berakhir pada ilmu pengetahuan. Mungkin yang dimaksudkan adalah segala
perbuatan pada akhirnya akan berada atau mendapatkan ilmu. Orang bisa belajar
dari pengalaman kerjanya. Semua tindakan atau pekerjaan itu akan memuncak pada
kebijaksanaan. Pekerjaan yang kurang akan mendapatkan ilmu baru untuk
kesempurnaan, pekerjaan yang sudah baik akan lebih baik lagi karena adanya ilmu
yang diperoleh selama melakukan pekerjaan itu.
Memang, Bhagawad Gita Bab IV memuat tema tentang Ynana
Yoga. Di bab ini dijelaskan selain aspek ilmu pengetahuan, juga tentang arti
sebuah kerja dan bagaimana kerja yang benar dan salah. Intinya adalah ilmu
pengetahuan (suci) menuntun manusia bekerja tanpa hawa nafsu, tanpa motif
kepentingan pribadi, tanpa mengharapkan sesuatu, puas dengan hasil yang
diperoleh.
Sebelum sloka 33 ini, sudah dijelaskan berbagai bentuk
persembahan atau pengorbanan yang bisa dilakukan manusia sebagai bhaktinya
memuja Tuhan Yang Maha Esa.
Ada yang mempersembahkan harta-benda, ada yang mempersembahkan berbagai
tindakan atau kegiatan spiritual seperti meditasi, ada yang melakukan persembahan
dengan prananyama (pengendalian
nafas), ada yang mengendalikan cara makan, misalnya, melakukan upawasa (puasa) atau makan dengan berpantang
daging (vegetarian), dan banyak cara lainnya lagi.
Semua persembahan itu kalau
dilaksanakan secara tulus akan mengantar seseorang ke arah jalan yang benar,
dan semua pengorbanan ini akan diterima oleh Yang Maha Kuasa. Persembahan dan pengorbanan itu hanya
jalan dan jalan mana pun yang ditempuh oleh umat manusia maka akan sampai
kepadaNya.
Tetapi persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan (jnana-yoga) dianggap sebagai pengorbanan yang suci untuk Yang Maha Esa, dan pengorbanan ini nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan pengorbanan bentuk lainnya. Tentu asal tidak menganggap remeh bentuk-bentuk pengorbanan yang lainnya itu.
Pada dasarnya ilmu pengetahuan itulah yang lebih penting,
lebih mulia, lebih baik yang harus dikuasai oleh setiap orang untuk
meningkatkan mutu kehidupannya di dunia ini. Tanpa ilmu pengetahuan maka orang
seperti berada di dalam kegelapan.
Hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung sekarang ini umat Hindu
memuliakan ilmu pengetahuan lewat ritual yang secara umum disebut Hari Saraswati.
Dewi Saraswati sebagai “sakti” Dewa Brahma dilambangkan sebagai pembawa turun
ilmu pengetahuan. Dewa Brahma adalah Sang Pencipta, maka dunia ini setelah
diciptakan yang pertama-tama dilakukan adalah menebarkan ilmu pengetahuan.
Bagaimana orang bisa bekerja kalau tidak punya ilmu, tidak punya ketrampilan,
tidak punya ide dan kreatifitas sedikit pun.
Yang dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan itu bukanlah
ilmu yang tinggi saja, yang harus dipelajari lewat sekolah dan perguruan.
Tetapi juga ilmu-ilmu yang bertebaran di masyarakat dan alam sekitar. Kita bisa
menimba ilmu kepada alam, kepada air yang mengalir di sungai, kepada
pohon-pohon di hutan. Kalau sungai dipenuhi sampah maka air tersumbat dan
menyebar ke tempat lain, jadilah banjir. Kalau pohon ditebangi tak ada akar yang
menahan tanah di tebing, maka jadilah longsor. Belajarlah pada alam karena ilmu
pengetahuan ada di sebarang tempat.
Maka Hari Raya Saraswati seharusnya tidak kita rayakan di
sekolah-sekolah saja, tidak cuma dirayakan oleh murid dan guru, tetapi seluruh
umat manusia haruslah merayakannya. Ini wujud persembahan kita untuk memuliakan
ilmu pengetahuan itu, lewat perayaan Saraswati kita melaksanakan ajaran suci
yang sudah dituliskan dalam kitab Bhagawad Gita.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 25 Juni 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar