25 Juni 2016

Persembahkanlah Ilmu Pengetahuan

Kitab Bhagawad Gita pada Bab IV sloka 33 menulis: sreyan dravya-mayad yajnaj, jnana-yajnah parantapa, sarvam karmakhilam partha, janne parisamapyate. Terjemahannya: persembahan berupa ilmu pengetahuan, lebih bermutu daripada persembahan materi, dalam keseluruhannya semua kerja, berpusat pada ilmu pengetahuan, oh Partha.

 Terjemahan di atas diambil dari kitab Bhagawad Gita oleh Nyoman S Pendit. Beberapa penerjemah lainnya menafsirkan sedikit berbeda di dalam kalimat terakhir sloka di atas. Prabu Dharmayasa menafsirkan bahwa semua perbuatan-perbuatan itu berakhir pada ilmu pengetahuan. Adapun Mohan MS menafsirkan, apapun semua tindakan kita tanpa kecuali memuncak dalam kebijaksanaan (pengetahuan).

Beda yang tipis. Yang satu menyebutkan semua jenis pekerjaan harus berpusat kepada ilmu pengetahuan. Yang dimaksudkan adalah tanpa seseorang memiliki ilmu pengetahuan maka apa pun pekerjaannya tidak mencapai hasil dengan baik. Yang lain menyebutkan, segala pekerjaan atau perbuatan akan berakhir pada ilmu pengetahuan. Mungkin yang dimaksudkan adalah segala perbuatan pada akhirnya akan berada atau mendapatkan ilmu. Orang bisa belajar dari pengalaman kerjanya. Semua tindakan atau pekerjaan itu akan memuncak pada kebijaksanaan. Pekerjaan yang kurang akan mendapatkan ilmu baru untuk kesempurnaan, pekerjaan yang sudah baik akan lebih baik lagi karena adanya ilmu yang diperoleh selama melakukan pekerjaan itu.


Memang, Bhagawad Gita Bab IV memuat tema tentang Ynana Yoga. Di bab ini dijelaskan selain aspek ilmu pengetahuan, juga tentang arti sebuah kerja dan bagaimana kerja yang benar dan salah. Intinya adalah ilmu pengetahuan (suci) menuntun manusia bekerja tanpa hawa nafsu, tanpa motif kepentingan pribadi, tanpa mengharapkan sesuatu, puas dengan hasil yang diperoleh.

Sebelum sloka 33 ini, sudah dijelaskan berbagai bentuk persembahan atau pengorbanan yang bisa dilakukan manusia sebagai bhaktinya memuja Tuhan Yang Maha Esa. Ada yang mempersembahkan harta-benda, ada yang mempersembahkan berbagai tindakan atau kegiatan spiritual seperti meditasi, ada yang melakukan persembahan dengan prananyama (pengendalian nafas), ada yang mengendalikan cara makan, misalnya, melakukan upawasa (puasa) atau makan dengan berpantang daging (vegetarian), dan banyak cara lainnya lagi.

Semua persembahan itu kalau dilaksanakan secara tulus akan mengantar seseorang ke arah jalan yang benar, dan semua pengorbanan ini akan diterima oleh Yang Maha Kuasa. Persembahan dan pengorbanan itu hanya jalan dan jalan mana pun yang ditempuh oleh umat manusia maka akan sampai kepadaNya.

Tetapi
persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan (jnana-yoga) dianggap sebagai pengorbanan yang suci untuk Yang Maha Esa, dan pengorbanan ini nilainya lebih tinggi dibandingkan dengan pengorbanan bentuk lainnya. Tentu asal tidak menganggap remeh bentuk-bentuk pengorbanan yang lainnya itu.

Pada dasarnya ilmu pengetahuan itulah yang lebih penting, lebih mulia, lebih baik yang harus dikuasai oleh setiap orang untuk meningkatkan mutu kehidupannya di dunia ini. Tanpa ilmu pengetahuan maka orang seperti berada di dalam kegelapan.

Hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung sekarang ini umat Hindu memuliakan ilmu pengetahuan lewat ritual yang secara umum disebut Hari Saraswati. Dewi Saraswati sebagai “sakti” Dewa Brahma dilambangkan sebagai pembawa turun ilmu pengetahuan. Dewa Brahma adalah Sang Pencipta, maka dunia ini setelah diciptakan yang pertama-tama dilakukan adalah menebarkan ilmu pengetahuan. Bagaimana orang bisa bekerja kalau tidak punya ilmu, tidak punya ketrampilan, tidak punya ide dan kreatifitas sedikit pun.

Yang dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan itu bukanlah ilmu yang tinggi saja, yang harus dipelajari lewat sekolah dan perguruan. Tetapi juga ilmu-ilmu yang bertebaran di masyarakat dan alam sekitar. Kita bisa menimba ilmu kepada alam, kepada air yang mengalir di sungai, kepada pohon-pohon di hutan. Kalau sungai dipenuhi sampah maka air tersumbat dan menyebar ke tempat lain, jadilah banjir. Kalau pohon ditebangi tak ada akar yang menahan tanah di tebing, maka jadilah longsor. Belajarlah pada alam karena ilmu pengetahuan ada di sebarang tempat.

Maka Hari Raya Saraswati seharusnya tidak kita rayakan di sekolah-sekolah saja, tidak cuma dirayakan oleh murid dan guru, tetapi seluruh umat manusia haruslah merayakannya. Ini wujud persembahan kita untuk memuliakan ilmu pengetahuan itu, lewat perayaan Saraswati kita melaksanakan ajaran suci yang sudah dituliskan dalam kitab Bhagawad Gita. 
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 25 Juni 2016)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar