BALI sedang mencari pemimpin. Bupati di beberapa
kabupaten akan segera dipilih ulang secara serentak, mungkin tahun ini.
Kader-kader partai sudah banyak yang berancang-ancang, baik deklarasi secara
terbuka maupun masih malu-malu. Spanduk dan baliho dari beberapa kader partai
sudah bertebaran di jalan, meski pun semuanya dibalut dengan tema-tema lain,
misalnya, hanya sekedar mengucapkan selamat hari raya Nyepi.
Tulisan ini tidak berbicara soal syarat-syarat
seorang pemimpin menurut ajaran Hindu seperti Asta Bhrata maupun ajaran Sad
Warnaning Rajaniti yang bersumber Ithiasa dan Purana. Yang dibicarakan adalah
hal-hal yang umum, yang nampak kesehariannya. Lebih banyak menyangkut masalah
etika, karena di sinilah pemimpin itu akan diuji apakah dia memimpin dengan
baik atau tidak. Seorang pemimpin tak cukup hanya jujur tetapi suka berbicara
kasar, itu akan merendahkan dirinya sebagai pemimpin. Seorang pemimpin tak
cukup menyatakan dirinya anti korupsi tetapi suka menuduh orang lain
menyelewengkan dana padahal itu belum
ada bukti. Seorang pemimpin harus bisa mengendalikan diri antara apa yang
dipikirkannya, apa yang diperbuatnya, dan apa yang dikatakannya. Ajaran Hindu
mengenal Tri Kaya Parisudha dan ketiga hal ini (pikiran, perbuatan dan
perkataan) harus sinkron dan semuanya baik.
Etika ini tentu saja terkait dengan bagaimana
pemimpin itu bergaul dalam kesehariannya. Kalau mereka terbiasa bergaul dengan
para penjudi, maka betapa pun tinggi ilmunya dan berderet gelar akademisnya,
langkah kebijakannya akan selalu menguntungkan para penjudi. Kalau pemimpin itu
bergaul di kalangan orang-orang yang mengabaikan kesantunan, maka langkahnya
dan juga gaya bicaranya akan tidak santun. Kita harus cermati latar belakang
calon pemimpin itu, jangan terpukau pada spanduk dan baliho yang bisa
mengelabui kita.
Menyangkut masalah etika dan pergaulan, mau tak mau
kita membuka-buka Kitab Sarasamuscaya yang banyak memberikan sesuluh untuk hal
ini. Lihat saja Sloka 300 sampai 304 Kitab Sarasamuscaya. Di situ ditegaskan
pergaulan akan mempengaruhi langkah-langkah seseorang. Orang yang berilmu
tinggi jika bergaul dengan orang-orang dari lingkungan yang jahat maka lambat
laun ilmu yang tinggi itu tak ada gunanya. Orang itu akan ikut jahat.
Sebaliknya, jika orang yang kurang ilmunya tetapi bergaul dengan orang-orang
baik apalagi yang berilmu, maka orang itu akan ketularan ilmu yang baik. Tentu
akan jadi lebih bagus kalau orang yang berilmu itu bergaul di kalangan orang-orang
baik yang juga berilmu. Jadi faktor lingkungan sangat menentukan lahirnya
seorang pemimpin.
Namun, seseorang yang punya ilmu tinggi juga tak
bisa diandalkan dalam memimpin masyarakat jika mereka tak punya wawasan dan
selalu ragu mengambil keputusan. Sudah banyak contoh bagaimana keputusan yang
tidak segera diambil karena ragu-ragu dan banyak pertimbangan, akhirnya membuat
celaka masyarakat. Orang dibiarkan menunggu karena para pemimpin terlalu banyak
berdiskusi dan pada saat penantian itu berbagai keresahan bisa terjadi.
Keputusan yang cepat dan tentu saja juga cermat, harus bisa diambil seorang
pemimpin. Bahwa masih ada lobangnya di sana sini padahal kecermatan itu sudah dilakukan,
itu sebuah resiko.
Dalam kaitan ajaran Tri Kaya Parisudha ini, hal penting
yang diperhatikan pemimpin adalah berbuat dan berbicara yang baik. Soal
berpikir yang baik itu tak terlihat oleh orang lain. Nah, berbuat baik itu bisa
dilakukan dengan tindakan tegas, cepat dan cermat seperti yang disebutkan tadi.
Tentu semuanya dalam koridor perbuatan yang bermanfaat bagi rakyat. Soal
berbicara hal ini jauh lebih penting karena itu yang pertama-tama diterima oleh
masyarakat. Pemimpin sekelas bupati apalagi gubernur, tak etis ngomong kasar,
misalnya, menyebut taik, bajingan, penyamun dan sebagainya di depan umum.
Carilah kata-kata yang lebih sopan dan juga cara bicara yang santun pula.
Jangan terkesan selalu marah.
Coba perhatikan orang-orang yang mau mencalonkan
diri sebagai bupati di Bali, apakah mereka itu sudah berpijak pada ajaran Tri
Kaya Parisudha dan mempunyai ilmu serta bergaul dengan orang-orang baik? Jangan
sampai salah pilih nantinya.
( Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 20 Juni 2015))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar