21 Juni 2016

Pemimpin Harus Bicara Sopan

BALI sedang mencari pemimpin. Bupati di beberapa kabupaten akan segera dipilih ulang secara serentak, mungkin tahun ini. Kader-kader partai sudah banyak yang berancang-ancang, baik deklarasi secara terbuka maupun masih malu-malu. Spanduk dan baliho dari beberapa kader partai sudah bertebaran di jalan, meski pun semuanya dibalut dengan tema-tema lain, misalnya, hanya sekedar mengucapkan selamat hari raya Nyepi.

Tulisan ini tidak berbicara soal syarat-syarat seorang pemimpin menurut ajaran Hindu seperti Asta Bhrata maupun ajaran Sad Warnaning Rajaniti yang bersumber Ithiasa dan Purana. Yang dibicarakan adalah hal-hal yang umum, yang nampak kesehariannya. Lebih banyak menyangkut masalah etika, karena di sinilah pemimpin itu akan diuji apakah dia memimpin dengan baik atau tidak. Seorang pemimpin tak cukup hanya jujur tetapi suka berbicara kasar, itu akan merendahkan dirinya sebagai pemimpin. Seorang pemimpin tak cukup menyatakan dirinya anti korupsi tetapi suka menuduh orang lain menyelewengkan  dana padahal itu belum ada bukti. Seorang pemimpin harus bisa mengendalikan diri antara apa yang dipikirkannya, apa yang diperbuatnya, dan apa yang dikatakannya. Ajaran Hindu mengenal Tri Kaya Parisudha dan ketiga hal ini (pikiran, perbuatan dan perkataan) harus sinkron dan semuanya baik.

Etika ini tentu saja terkait dengan bagaimana pemimpin itu bergaul dalam kesehariannya. Kalau mereka terbiasa bergaul dengan para penjudi, maka betapa pun tinggi ilmunya dan berderet gelar akademisnya, langkah kebijakannya akan selalu menguntungkan para penjudi. Kalau pemimpin itu bergaul di kalangan orang-orang yang mengabaikan kesantunan, maka langkahnya dan juga gaya bicaranya akan tidak santun. Kita harus cermati latar belakang calon pemimpin itu, jangan terpukau pada spanduk dan baliho yang bisa mengelabui kita.

Menyangkut masalah etika dan pergaulan, mau tak mau kita membuka-buka Kitab Sarasamuscaya yang banyak memberikan sesuluh untuk hal ini. Lihat saja Sloka 300 sampai 304 Kitab Sarasamuscaya. Di situ ditegaskan pergaulan akan mempengaruhi langkah-langkah seseorang. Orang yang berilmu tinggi jika bergaul dengan orang-orang dari lingkungan yang jahat maka lambat laun ilmu yang tinggi itu tak ada gunanya. Orang itu akan ikut jahat. Sebaliknya, jika orang yang kurang ilmunya tetapi bergaul dengan orang-orang baik apalagi yang berilmu, maka orang itu akan ketularan ilmu yang baik. Tentu akan jadi lebih bagus kalau orang yang berilmu itu bergaul di kalangan orang-orang baik yang juga berilmu. Jadi faktor lingkungan sangat menentukan lahirnya seorang pemimpin.
Namun, seseorang yang punya ilmu tinggi juga tak bisa diandalkan dalam memimpin masyarakat jika mereka tak punya wawasan dan selalu ragu mengambil keputusan. Sudah banyak contoh bagaimana keputusan yang tidak segera diambil karena ragu-ragu dan banyak pertimbangan, akhirnya membuat celaka masyarakat. Orang dibiarkan menunggu karena para pemimpin terlalu banyak berdiskusi dan pada saat penantian itu berbagai keresahan bisa terjadi. Keputusan yang cepat dan tentu saja juga cermat, harus bisa diambil seorang pemimpin. Bahwa masih ada lobangnya di sana sini padahal kecermatan itu sudah dilakukan, itu sebuah resiko.

Dalam kaitan ajaran Tri Kaya Parisudha ini, hal penting yang diperhatikan pemimpin adalah berbuat dan berbicara yang baik. Soal berpikir yang baik itu tak terlihat oleh orang lain. Nah, berbuat baik itu bisa dilakukan dengan tindakan tegas, cepat dan cermat seperti yang disebutkan tadi. Tentu semuanya dalam koridor perbuatan yang bermanfaat bagi rakyat. Soal berbicara hal ini jauh lebih penting karena itu yang pertama-tama diterima oleh masyarakat. Pemimpin sekelas bupati apalagi gubernur, tak etis ngomong kasar, misalnya, menyebut taik, bajingan, penyamun dan sebagainya di depan umum. Carilah kata-kata yang lebih sopan dan juga cara bicara yang santun pula. Jangan terkesan selalu marah.

Coba perhatikan orang-orang yang mau mencalonkan diri sebagai bupati di Bali, apakah mereka itu sudah berpijak pada ajaran Tri Kaya Parisudha dan mempunyai ilmu serta bergaul dengan orang-orang baik? Jangan sampai salah pilih nantinya.

 ( Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 20 Juni 2015))



Tidak ada komentar:

Posting Komentar