16 April 2016

Cara Meraih Sinar Suci Tuhan

SETIAP orang yang berbhakti kepadaTuhan pada hakekatnya ingin memperoleh kasih dan karuniaNya. Tetapi bagaimana cara atau sikap kita agar bisa meraih kasih dan karunia itu? Apa yang dilakukan agar sinar suci Tuhan bisa kita rasakan?

 Bhagawad Gita VII.1 menyebutkan: mayya asakta manah partha, yogam yunjanan madavasraya, asamsayam samagram mam, yatha jnyanasyasi tacchrina. Arti bebasnya: dengarkanlah oh  Arjuna, pusatkan pikiran padaKu, lakukan yoga dengan sungguh-sungguh, berlindunglah hanya kepadaKu, jangan ada keraguan, lakukan itu sepenuhnya, maka engkau mencapai kesadaran Tuhan.

Ada lima hal yang harus dilakukan untuk meraih sinar suci Tuhan agar memperoleh karunia. Lima hal itu harus  dilakukan secara terpadu sesuai dengan posisi kita masing-masing dalam hidup ini. Lima hal tersebut seperti yang disebutkan dalam Bhagawad Gita adalah Asakta Manah, Yoga Yunjana, Madawasraya, Asamsaya, Samagram.

Asakta Manah yaitu  pemusatan pikiran dalam melakukan pekerjaan. Tanpa pikiran yang terpusat maka apa pun yang dikerjakan tidak akan menemukan hasil yang baik. Intinya di sini adalah konsentrasi tanpa membatasi kreatifitas yang muncul.  Selalu berusaha fokus disertai dengan doa yang tak pernah terlewatkan akan membuat langkah kita menjadi jelas dalam kehidupan ini.
  

Yoga Yunjana, yaitu melaksanakan ajaran yoga dengan  baik. Yoga bermanfaat untuk mengendalikan gejolak pikiran yang bisa ke mana-mana. Jika kita mengikuti yoga yang diajarkan Rsi Patanjali ada delapan tahapan yang disebut Astangga Yoga, yaitu Yama, Niyama, Asana, Pranayama,  Prathyahara, Dharana, Dhyana dan puncaknya Samadi. Intinya, agar manusia sehat jiwa dan raganya untuk mendukung swadharmanya di masyarakat. Fokuskan pikiran membangun jiwa dan  raga untuk  melangkah dalam kehidupan ini.
 
Madawasraya, yaitu selalu berlindung pada Tuhan. Kita harus yakin bahwa hanya Tuhan sang pencipta yang menjadi sutradara agung dalam kehidupan di  dunia ini. Berlindung  dan berserah dirilah kepada Tuhan. Berserah diri bukan berarti tidak bekerja keras, justru kerja itu dijadikan sebagai yadnya dan bhakti kita kepada Tuhan.

Asamsaya, yaitu jangan ragu-ragu melakukan dharma, membela kebenaran. Jika kita sudah percaya penuh kepada Tuhan dan bhakti dengan bekerja sebagai yadnya, maka kita telah melakukan jalan yang benar berdasarkan dharma.

Samagram, yaitu lakukan semuanya dengan sepenuh hati. Kalau kita sudah dapat menghilangkan keragu-raguan maka sudah pasti perjalanan hidup selanjutnya adalah melakukan pekerjaan dengan  sepenuh hati. Janganlah kita melakukan pekerjaan yang masih disertai dengan keragu-raguan, apalagi disertai dengan sikap yang setengah-setengah. Kita akan sulit mendapatkan sinar kasih Tuhan berupa anugerah dan karunia kalau kita menjadi orang yang peragu dan tak sepenuh hati melakukan pekerjaan itu.

Ke lima cara untuk meraih sinar suci Tuhan itu saling bersinggungan. Dalam epos Mahabharata ada contoh yang bisa dijadikan rujukan. Saat itu Indra Prastha diserang wabah penyakit. Dewi Kunti melakukan persembahyangan ke hadapan Dewi Durga memohon petunjuk, apa yang mesti dilakukan. Dewi Durga menyebutkan Dewi Kunti harus mengorbankan Sahadewa, putra tirinya untuk dijadikan santapan. Dewi Kunti ragu-ragu, tetapi ia menyanggupi permintaannya itu. Karena tahu Dewi Kunti ragu-ragu maka ia kemasukan Dewa Kala, menjadi ganas dan langsung menyeret Sahadewa dijadikan santapan Dewi Durga.

Adapun Sahadewa begitu ihklas dijadikan korban persembahan untuk menyelamatkan kerajaan yang kena musibah. Karena keikhlasan dan tanpa keraguan itu, Dewa Siwa masuk ke dalam diri Sahadewa. Dia pun selamat karena mendapat perlindungan Dewa Siwa sementara pengorbanannya dianggap sudah dilakukan. Wabah pun hilang dan kerajaan kembali menjadi tentram. Wabah ini berasal dari dua bhuta kala, Kalantaka dan Kalanjaya, yang asal-usulnya adalah dewa yang mendapat kutukan di sorga.

Dalam mitos pengorbanan suci untuk memerangi segala kejahatan, musibah, mara bahaya, termasuk juga pembersihan (pengelukatan) tokoh wayang Sahadewa selalu dijadikan simbol untuk melawan. Karena Sahadewa selalu memusatkan pikirannya pada Dewa Siwa (Tuhan), tak pernah ragu, menyerahkan diri sepenuhnya untuk dharma. Maka berlakukan seperti Sahadewa untuk meraih sinar suci Tuhan. 
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 16 April 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar