SETIAP orang
yang berbhakti kepadaTuhan
pada hakekatnya
ingin memperoleh kasih dan
karuniaNya. Tetapi
bagaimana cara atau sikap kita agar bisa meraih kasih dan karunia itu? Apa yang
dilakukan agar sinar suci Tuhan bisa kita rasakan?
Bhagawad Gita VII.1 menyebutkan: mayya
asakta manah partha, yogam yunjanan
madavasraya, asamsayam samagram mam, yatha jnyanasyasi tacchrina. Arti bebasnya: dengarkanlah oh
Arjuna, pusatkan pikiran padaKu, lakukan yoga dengan sungguh-sungguh, berlindunglah hanya kepadaKu, jangan ada keraguan, lakukan
itu sepenuhnya, maka engkau mencapai kesadaran Tuhan.
Ada lima hal yang harus dilakukan untuk meraih sinar suci Tuhan agar memperoleh karunia. Lima hal itu
harus dilakukan secara terpadu sesuai
dengan posisi kita masing-masing dalam hidup ini. Lima hal tersebut seperti yang disebutkan
dalam Bhagawad Gita adalah
Asakta Manah, Yoga Yunjana, Madawasraya, Asamsaya, Samagram.
Asakta Manah yaitu
pemusatan pikiran dalam melakukan pekerjaan. Tanpa pikiran yang terpusat maka apa pun yang dikerjakan
tidak akan menemukan hasil yang baik. Intinya di sini adalah konsentrasi tanpa
membatasi kreatifitas yang muncul. Selalu berusaha fokus disertai dengan doa yang tak pernah
terlewatkan akan membuat langkah kita menjadi jelas dalam kehidupan ini.
Yoga Yunjana, yaitu melaksanakan ajaran yoga dengan baik. Yoga bermanfaat untuk mengendalikan gejolak pikiran yang bisa ke mana-mana. Jika kita mengikuti yoga yang diajarkan Rsi Patanjali ada delapan tahapan yang disebut Astangga
Yoga, yaitu Yama, Niyama, Asana, Pranayama,
Prathyahara, Dharana, Dhyana dan puncaknya Samadi. Intinya, agar manusia
sehat jiwa dan raganya untuk mendukung swadharmanya di masyarakat. Fokuskan pikiran membangun jiwa
dan raga untuk melangkah dalam kehidupan ini.
Madawasraya, yaitu
selalu berlindung pada Tuhan. Kita harus yakin bahwa hanya Tuhan sang pencipta yang menjadi sutradara agung dalam kehidupan
di dunia ini. Berlindung dan berserah dirilah kepada Tuhan. Berserah diri bukan berarti tidak bekerja
keras, justru kerja itu dijadikan sebagai yadnya dan bhakti kita kepada Tuhan.
Asamsaya, yaitu
jangan ragu-ragu melakukan dharma, membela kebenaran. Jika kita sudah percaya penuh kepada Tuhan dan bhakti dengan bekerja sebagai yadnya, maka kita telah
melakukan jalan yang benar berdasarkan dharma.
Samagram, yaitu
lakukan semuanya dengan sepenuh hati. Kalau kita sudah dapat
menghilangkan keragu-raguan maka sudah pasti perjalanan hidup selanjutnya adalah melakukan pekerjaan dengan
sepenuh hati. Janganlah kita melakukan pekerjaan yang masih disertai dengan keragu-raguan,
apalagi disertai dengan sikap yang setengah-setengah. Kita akan sulit
mendapatkan sinar kasih Tuhan berupa anugerah dan karunia kalau kita menjadi
orang yang peragu dan tak sepenuh hati melakukan pekerjaan itu.
Ke lima cara untuk meraih sinar suci Tuhan itu saling bersinggungan.
Dalam epos Mahabharata ada contoh yang bisa dijadikan rujukan. Saat itu Indra
Prastha diserang wabah penyakit. Dewi Kunti melakukan persembahyangan ke
hadapan Dewi Durga memohon petunjuk, apa yang mesti dilakukan. Dewi Durga
menyebutkan Dewi Kunti harus mengorbankan Sahadewa, putra tirinya untuk
dijadikan santapan. Dewi Kunti ragu-ragu, tetapi ia menyanggupi permintaannya
itu. Karena tahu Dewi Kunti ragu-ragu maka ia kemasukan Dewa Kala, menjadi
ganas dan langsung menyeret Sahadewa dijadikan santapan Dewi Durga.
Adapun Sahadewa begitu ihklas dijadikan korban
persembahan untuk menyelamatkan kerajaan yang kena musibah. Karena keikhlasan
dan tanpa keraguan itu, Dewa Siwa masuk ke dalam diri Sahadewa. Dia pun selamat
karena mendapat perlindungan Dewa Siwa sementara pengorbanannya dianggap sudah
dilakukan. Wabah pun hilang dan kerajaan kembali menjadi tentram. Wabah ini
berasal dari dua bhuta kala, Kalantaka dan Kalanjaya, yang asal-usulnya adalah
dewa yang mendapat kutukan di sorga.
Dalam mitos pengorbanan suci untuk memerangi segala
kejahatan, musibah, mara bahaya, termasuk juga pembersihan (pengelukatan) tokoh wayang Sahadewa
selalu dijadikan simbol untuk melawan. Karena Sahadewa selalu memusatkan
pikirannya pada Dewa Siwa (Tuhan), tak pernah ragu, menyerahkan diri sepenuhnya
untuk dharma. Maka berlakukan seperti Sahadewa untuk meraih sinar suci Tuhan.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 16 April 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar