DIAKUI atau tidak, banyak orang takut akan datangnya
kematian. Lalu banyak orang yang bersedih karena kematian keluarga atau kenalan dekatnya. Yang takut menghadapi kematian karena merasa begitu banyak persoalan yang harus dia selesaikan jika belum mati.
Sebaliknya yang ditinggal mati merasa kehilangan orang yang selama ini sangat
dekat dan tentu semuanya hanya tinggal kenangan. Kenyataan yang sangat
menyedihkan.
Di zaman Kali Yuga ini, menurut kitab Manawa Dharmasastra, kenyataan
seperti itulah yang dijumpai, orang-orang yang bersedih dan mungkin pula
menangis jika ada keluarganya yang meninggal dunia. Semuanya karena adanya
keterikatan dalam kehidupan ini, padahal kita tahu bahwa hidup di dunia ini tak
abadi. Semua mengalami ketidak-abadian.
Apakah salah jika kita bersedih karena kehilangan? Kitab
Bhagavadgita II.14 menyatakan “Setiap hubungan kita dengan berbagai obyek
(duniawi), menimbulkan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan. Semua ini
datang dan pergi, dan tidak abadi. Hadapilah semua ini sebagai sesuatu fakta”.
Atman sendiri sebenarnya tidak terpengaruh oleh semua obyek
duniawi ini, yang terpengaruh dan merasakannya adalah raga yang ditumpangi Atman. Raga inilah
yang merasakan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan. Semua ini harus
kita maklumi dan kita jalani sebagai sesuatu yang datang dan pergi. Kita harus
bersikap tidak terikat kepada semua ilusi ini tetapi juga tidak menutup mata,
bahkan harus kita hadapi dan rasakan semua itu sebagai dedikasi kita kepadaNya.
Badan kita ini sebenarnya hanyalah sebuah alat yang dipakai sebagai sarana
untuk mencari kebahagiaan yang sejati itu. Jika sudah waktunya untuk mengganti
badan yang sudah usang, maka akan diganti dengan yang baru, sama seperti orang
yang memakai baju baru mengganti baju lamanya yang sudah usang dan kotor dengan
baju yang lebih bersih dan wangi.
Dalam kitab Sarasamuscaya juga dijelaskan
tentang hakikat badan kasar atau stula sarira ini. “Tidak ada yang
namanya pertemuan langgeng. Suatu saat bertemu, suatu saat tidak bertemu.
Betapa tidak langgengnya itu. Pertemuan Anda dengan badan wadag anda inipun
tidak langgeng pada hakikatnya. Tak usah pula menyebutkan yang lain-lainnya
sebagai contoh, sedangkan dengan tangan, kaki dan anggota badan kita sendiri
pun pada akhirnya akan berpisah pula.”
Maka tidak sepatutnya kita bersedih, karena kematian hanyalah sebuah siklus kehidupan yang wajib dilewati
oleh setip manusia. Yang paling penting, bagaimana cara kita sebagai manusia
agar tidak lagi memakai baju baru berulang-ulang. Namun cukup dengan badan yang
halus itu, kita bisa mencapai yang namanya ketenangan abadi menyatu dengan Tuhan atau istilah yang
populer saat ini Amor
Ring Acintya.
Bagaimana melepaskan kesedihan dan keterikatan itu?
Kitab Sarasamuscaya ada menyebutkan, semua kesedihan karena lekatnya
keterikatan itu tidak usah dijadikan pikiran. Semakin itu dijadikan pikiran
maka kesedihan tak akan pernah hilang. Kita tidak boleh terlalu larut dalam
kesedihan, karena semua itu hanya akan menimbulkan penderitaan. Dalam Bhagavadgita
II.11 disebutkan, “Dikau bersedih hati untuk mereka yang seharusnya tidak perlu dikau
risaukan, tetapi dikau bertutur seakan dikau amat bijaksana. Seseorang yang
bijaksana tak pernah bersedih baik untuk yang hidup maupun untuk yang telah
tiada.”
Wejangan Sri Kresna ini intinya adalah kesedihan itu
berdasarkan kebodohan, karena hidup dan mati adalah permainan Hyang Maha Kuasa,
padahal Atman kita tak akan pernah mati. Seseorang yang bijaksana akan terus
berjalan dalam hidup ini dengan penuh dedikasi akan tugas-tugasnyanya tanpa peduli
akan ilusi yang beraneka-ragam bentuknya yang selalu mencoba mencengkeram kita
dengan berbagai cara yang baik maupun yang buruk, baik dengan jalan kekerasan
maupun kasih-sayang. Di dunia ini tidak ada jalan mundur, yang ada
hanyalah berjalan terus, apakah kita mau
atau tidak.
Pada Bhagavatgita sloka II.15 dijelaskan: “Seseorang yang
tenang dalam kesenangan dan penderitaan --tidak terusik oleh kedua-duanya -- ia
hidup dalam suatu kehidupan yang tak pernah mati, hidup kekal abadi.” Jadi
intinya adalah selama manusia masih
bernafas di dunia ini, maka kematian itu akan selalu membututinya. Karena
kematian merupakan salah satu hukum yang tidak bisa dihindari, apa lagi untuk
dibeli, maka keterikatan itu harusnya dikurangi.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 2 April 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar