20 Februari 2016

Prasadam yang Terbuang

HARI Raya Kuningan sekarang ini boleh dikatakan sebagai penutup umat Hindu menghaturkan sesajen dalam rangkaian Hari Raya Galungan. Lalu cobalah perhatikan, apakah semua prasadam (di Bali disebut lungsuran atau surudan) habis dimakan oleh keluarga? Jangan-jangan banyak yang menumpuk, jajannya sudah kusam, buahnya mulai membusuk. Banyak yang tak bisa lagi dimakan
dan akhirnya terbuang. Atau dijadikan makanan babi, jika masih ada keluarga itu memelihara babi.
Hal ini bisa terjadi karena sejak Sugihan (lima hari sebelum Galungan) sudah menghaturkan sesajen. Kegiatan itu hampir tak terputus sampai Kuningan sekarang ini. Bayangkan betapa banyak prasadam dari sesajen itu. Padahal dalam kitab suci Hindu, prasadam adalah makanan yang sattwik, makanan utama, karena telah dipersembahan kepada Tuhan atau pun kepada para leluhur yang biasa disebut Ida Benthara atau Dewata Dewati.

Dalam kitab Bhagawad Gita IV-31 disebutkan: Yajna sistamrta bhujo – yanti brahma sanatanam – nayam loko sty ayajnasya – kuto nyah kuru-sattama. Artinya: Mereka yang memakan sisa makanan suci dari suatu persembahan (atau pengorbanan) akan mencapai Brahman Yang Abadi (Tuhan). Dunia ini bukan untuk orang yang tak mau mempersembahkan suatu pengorbanan (yadnya), apa lagi dunia yang lainnya, oh Arjuna.

Kurusattama adalah nama lain dari Arjuna. Di sini Krishna sebagai perwujudan Tuhan Yang Esa memberikan pesan bagaimana kita mencapai Brahman atau Tuhan. Salah satunya adalah melakukan persembahan atau pengorbanan berupa makanan, dan setelah persembahan itu dihaturkan, harus dimakan. Tuhan, yang tak berwujud tentulah  tak akan “memakan” persembahan itu, dan jika pun di sini ada istilah “sisa makanan” maka itu tak lain artinya “makanan yang sudah diberkahi”.
Masalahnya adalah begitu banyak sisa persembahan itu. Berpuluh-puluh pisang, tape, kaliadrem, kerupuk, satuh dan entah apa lagi yang merupakan jajan khas tatkala merayakan Galungan sampai Kuningan, tak habis dimakan keluarga. Mau diberikan tetangga problemanya sama juga, tetangga juga banyak menyisakan prasadam. Dulu ketika ekonomi belum sebaik sekarang, leluhur kita memang punya tradisi yang disebut ngejot. Jika satu keluarga punya hajatan maka prasadam dari sesajen itu dibagi-bagikan kepada tetangga. Sekarang pada saat ekonomi maju dan semua keluarga mampu menyelenggarakan yadnya yang sama besarnya, ke mana lagi ngejot? Maka prasadam pun menumpuk.

Dalam situasi seperti ini muncullah pertanyaan di masyarakat, apakah boleh sesajen itu disederhanakan? Tentu saja boleh dan memang ada yang bisa disederhanakan. Leluhur kita sudah mengajarkan di masa lalu pada saat Bali dalamm keadaan “gerit” – belum semakmur sekarang ini. Sesajen atau banten yang merupakan ayaban atau disebut juga soodan bisa dihemat penempatan jajan dan buah-buahan. Kalau memang banyak membuat (ada satu keluarga sampai membuat 100 paket atau lebih), sebutir pisang sudah cukup untuk satu paket. Bahkan kalau niat awal sudah tak akan diambil prasadamnya, seiris pisang pun boleh. Begitu pula sesajian yang berupa nasi dan telurnya.
Tetua kita mewariskan kebiasaan, kalau memang mau irit setiap soodan tak harus berisi sebutir telur. Bisa separoh telur yang disebut asibak. Atau malah dipotong jadi empat disebut asebit. Meski pun secara sastra prasadam itu sebaiknya dinikmati sebagai hasil persembahan, ada kalanya orang tua berpikir sebaliknya. Tak usahlah diambil atau di-lungsur supaya lebih lama sesajen itu berada di tempat-tempat suci. Atau juga dengan pertimbangan bahwa unsur-unsur sesajen itu sudah berdebu.
Namun ada hal yang tidak bisa disederhanakan jika itu menyangkut simbol. Telur untuk daksina, misalnya, tak bisa dibelah karena bulatnya telur itu yang dijadikan simbol. Bukan telur sebagai persembahan yang berdiri sendiri. Jadi intinya adalah sesajen yang berupa ayaban bisa saja disederhanakan namun sesajen yang merupakan lambang atau simbol tidak bisa diperkecil.


Persoalan sesungguhnya tak cuma di sana. Ada pergeseran prilaku saat ini di mana sesajen yang kita persembahkan bukan semata-mata dengan tujuan untuk dinikmati prasadamnya. Lihat fenomena sekarang ini. Umat jauh-jauh datang ke pura membawa sesajen lengkap dengan buah-buahan, jajan, dan ketupat kelan (isinya enam buah) plus ayam panggang. Selesai menghaturkan sesajen itu di pura bukannya dinikmati langsung prasadamnya, tetapi makan-makan di warung Jawa, memesan sate kambing. Prasadam pun mubazir, padahal sastra Hindu menyebutkan, nikmati prasadam itu sebaga makanan utama. Bukannya prasadam dicampakkan dan kita makan enak di warung.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 20 Februari 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar