HARI Raya
Kuningan sekarang ini boleh dikatakan sebagai penutup umat Hindu menghaturkan
sesajen dalam rangkaian Hari Raya Galungan. Lalu cobalah perhatikan, apakah
semua prasadam (di Bali disebut lungsuran atau surudan) habis dimakan oleh
keluarga? Jangan-jangan banyak yang menumpuk, jajannya sudah kusam, buahnya
mulai membusuk. Banyak yang tak bisa lagi dimakan
dan akhirnya terbuang. Atau
dijadikan makanan babi, jika masih ada keluarga itu memelihara babi.
Hal ini bisa
terjadi karena sejak Sugihan (lima hari sebelum Galungan) sudah menghaturkan
sesajen. Kegiatan itu hampir tak terputus sampai Kuningan sekarang ini.
Bayangkan betapa banyak prasadam dari sesajen itu. Padahal dalam kitab suci
Hindu, prasadam adalah makanan yang sattwik, makanan utama, karena telah
dipersembahan kepada Tuhan atau pun kepada para leluhur yang biasa disebut Ida
Benthara atau Dewata Dewati.
Dalam kitab
Bhagawad Gita IV-31 disebutkan: Yajna sistamrta bhujo – yanti brahma
sanatanam – nayam loko sty ayajnasya – kuto nyah kuru-sattama. Artinya: Mereka
yang memakan sisa makanan suci dari suatu persembahan (atau pengorbanan) akan
mencapai Brahman Yang Abadi (Tuhan). Dunia ini bukan untuk orang yang tak mau
mempersembahkan suatu pengorbanan (yadnya), apa lagi dunia yang lainnya, oh
Arjuna.
Kurusattama adalah nama lain dari Arjuna. Di sini Krishna sebagai perwujudan
Tuhan Yang Esa memberikan pesan bagaimana kita mencapai Brahman atau Tuhan.
Salah satunya adalah melakukan persembahan atau pengorbanan berupa makanan, dan
setelah persembahan itu dihaturkan, harus dimakan. Tuhan, yang tak berwujud
tentulah tak akan “memakan” persembahan itu, dan jika pun di sini ada
istilah “sisa makanan” maka itu tak lain artinya “makanan yang sudah
diberkahi”.
Masalahnya adalah begitu banyak sisa persembahan itu. Berpuluh-puluh pisang,
tape, kaliadrem, kerupuk, satuh dan entah apa lagi yang merupakan jajan khas tatkala
merayakan Galungan sampai Kuningan, tak habis dimakan keluarga. Mau diberikan
tetangga problemanya sama juga, tetangga juga banyak menyisakan prasadam. Dulu
ketika ekonomi belum sebaik sekarang, leluhur kita memang punya tradisi yang
disebut ngejot. Jika satu keluarga
punya hajatan maka prasadam dari sesajen itu dibagi-bagikan kepada tetangga.
Sekarang pada saat ekonomi maju dan semua keluarga mampu menyelenggarakan
yadnya yang sama besarnya, ke mana lagi ngejot?
Maka prasadam pun menumpuk.
Dalam situasi seperti ini muncullah pertanyaan di masyarakat, apakah boleh
sesajen itu disederhanakan? Tentu saja boleh dan memang ada yang bisa
disederhanakan. Leluhur kita sudah mengajarkan di masa lalu pada saat Bali
dalamm keadaan “gerit” – belum semakmur sekarang ini. Sesajen atau banten yang
merupakan ayaban atau disebut juga soodan bisa dihemat penempatan jajan dan
buah-buahan. Kalau memang banyak membuat (ada satu keluarga sampai membuat 100
paket atau lebih), sebutir pisang sudah cukup untuk satu paket. Bahkan kalau
niat awal sudah tak akan diambil prasadamnya, seiris pisang pun boleh. Begitu
pula sesajian yang berupa nasi dan telurnya.
Tetua kita mewariskan kebiasaan,
kalau memang mau irit setiap soodan tak harus berisi sebutir telur. Bisa
separoh telur yang disebut asibak.
Atau malah dipotong jadi empat disebut asebit.
Meski pun secara sastra prasadam itu sebaiknya dinikmati sebagai hasil
persembahan, ada kalanya orang tua berpikir sebaliknya. Tak usahlah diambil
atau di-lungsur supaya lebih lama
sesajen itu berada di tempat-tempat suci. Atau juga dengan pertimbangan bahwa
unsur-unsur sesajen itu sudah berdebu.
Namun ada hal yang tidak bisa disederhanakan jika itu menyangkut simbol.
Telur untuk daksina, misalnya, tak bisa dibelah karena bulatnya telur itu yang
dijadikan simbol. Bukan telur sebagai persembahan yang berdiri sendiri. Jadi intinya
adalah sesajen yang berupa ayaban
bisa saja disederhanakan namun sesajen yang merupakan lambang atau simbol tidak
bisa diperkecil.
Persoalan sesungguhnya tak cuma di sana. Ada pergeseran prilaku saat ini di
mana sesajen yang kita persembahkan bukan semata-mata dengan tujuan untuk
dinikmati prasadamnya. Lihat fenomena sekarang ini. Umat jauh-jauh datang ke
pura membawa sesajen lengkap dengan buah-buahan, jajan, dan ketupat kelan (isinya enam buah) plus
ayam panggang. Selesai menghaturkan sesajen itu di pura bukannya dinikmati
langsung prasadamnya, tetapi makan-makan di warung Jawa, memesan sate kambing.
Prasadam pun mubazir, padahal sastra Hindu menyebutkan, nikmati prasadam itu
sebaga makanan utama. Bukannya prasadam dicampakkan dan kita makan enak di
warung.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 20 Februari 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar