14 Februari 2016

Pentingnya Menjaga Perkataan

SETELAH membahas masalah pentingnya menguatkan pikiran dalam kesempatan sebelumnya, kali ini kita bahas mengenai pentingnya menjaga perkataan. Jika pikiran tak bisa dikendalikan, maka indriya tak ubahnya seperti kuda liar yang bisa menjerumuskan seseorang. Begitu pula dengan perkataan, kalau tak bisa dijaga maka akan membuat seseorang mudah terombang-ambing.

Perkataan itu adalah alat komunikasi, alat untuk berhubungan antar sesama manusia, alat untuk menyampaikan pikiran dan keinginan kepada orang lain. Karena itu perkataan mempunyai kedudukan yang sangat penting dan utama dalam kehidupan manusia. Perkataan bisa mendatangkan kebahagiaan dengan kata-kata orang bisa menularkan kesejukan, bisa menghibur, dan kata-kata yang baik yang disertai kebijakan bisa menggugah semangat hidup seseorang. Tetapi sebaliknya, perkataan yang buruk bisa diibaratkan racun yang menghancurkan kehidupan seseorang.

Kitab suci Sarasamuscaya sloka 20, menyatakan: Ikang ujar ahala tan pahi lawan hru, songkabnya saka tempuhan  denya  juga  alara,  resep ri hati,  tatan keneng pangan turu ring rahina wengi ikang wwang denya, atangnyan tan inujaraken ika de sang dhira purusa, sang ahning maneb manahnira. Terjemahan bebasnya: Perkataan yang mengandung maksud jahat tiada bedanya dengan anak panah yang dilepaskan, setiap orang yang terkena sasaran akan merasakan kesakitan. Perkataan itu meresap ke dalam hati, sehingga menyebabkan orang tidak bisa makan dan tidur, siang malam orang itu akan terbebani. Oleh sebab itu perkataan yang tidak baik hendaknya tidak diucapkan oleh orang budiman, bijaksana dan oleh orang yang suci  atau sujana.

Kemudian kitab Sarasamuscaya sloka 119 menyebutkan: Apan ikang ujar yan rahayu, rahayu ta kojaranya, tan   tunggal  ikang sukha kapuhara denya,  yadyapin  rahayu towi,  yan tan rahayu kang kojaranya, irikang majarakennya tuwi, ya pwa  mapuhara lara. Terjemahan bebasnya: Perkataan yang bermaksud baik dan diucapkan dengan cara yang baik pula, akan menimbulkan kebahagiaan dan ketentraman hati. Walaupun perkataannya penuh dengan maksud-maksud baik, jika diucapkannya tidak dengan cara yang baik, akan dapat menimbulkan sakit hati.

Sang mahapandita, sang maka bratang kasatyan, tan pangumanũman,
tan pagawe pecunya, tan pangupat, nguniweh tan mrsawada, yatna juga sira amiheri ujarnira, rumaksa halaning len. Orang yang arif bijaksana, orang yang berjanji atas dirinya berpegang kepada kebenaran, tidak mencaci orang, tidak memfitnah, tidak mencela, lagi pula tidak berkata-kata dusta, melainkan giat berusaha menahan ucapan-ucapannya, dan memelihara agar orang lain jangan sampai terluka karenanya.

Begitu pentingnya menjaga perkataan atau ucapan itu dalam kehidupan kita. Maka seharusnya kita juga mengendalikan perkataan sebagaimana halnya mengendalikan pikiran kita. Setiap kata yang keluar seharusnya bisa menyejukkan dan berguna untuk kehidupan kita di dalam masyarakat. Semua perkataan yang keluar harus kita pikirkan lebih dulu untung ruginya.

Sementara itu ada wejangan yang menarik dari kitab Wreaspati Tattwa yang menyebutkan: Nyang tan paprawrettyaning wak, pat kwehnya, pratyekanya ujar ahala, ujar apregas ujar pisuna, ujar mitya, nahan tang pat sinanggah hananing wak, tan ujarakena, tan angen-angen kojaranya. Artinya: Inilah kata-kata yang tidak patut diucapkan, ada empat banyaknya, yaitu; jangan mengucapkan kata-kata yang jahat, jangan mengucapkan kata-kata yang kasar, jangan mengucapkan kata-kata yang memfitnah, jangan mengucapkan kata-kata bohong. Keempat perkataan ini hendaknya jangan diucapkan, bahkan walaupun masih dalam pikiran sekalipun hendaknya disingkirkan.


Banyak orang tidak sadar untuk menghamburkan kata-kata yang bisa menjerumuskan dirinya sendiri. Apalagi di era kebebasan seperti sekarang ini, perkataan yang belum ditimbang untung ruginya dengan bebas keluar dari mulut seseorang. Di televisi kita sering melihat orang berdebat dengan memuntahkan kata-kata keras yang seharusnya tidak layak untuk diucapkan di depan umum. Dalam sidang-sidang terhormat seperti di gedung Dewan Perwakilan Rakyat juga kerap ada kata-kata yang kasar yang ditujukan kepada orang lain yang tidak sepaham. Seharusnya kalau pikiran sudah terkendali maka kata yang terucapkan bisa lebih menyejukkan meskipun itu bernada kritikan kepada seseorang. Perkataan harus dijaga dengan baik karena dari kata-kata itu kita bisa dinilai oleh orang lain, apakah kita menjadi orang yang bijaksana atau sebaliknya.

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 13 Februari 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar