SETELAH membahas masalah pentingnya
menguatkan pikiran dalam kesempatan sebelumnya, kali ini kita bahas mengenai
pentingnya menjaga perkataan. Jika pikiran tak bisa dikendalikan, maka indriya tak
ubahnya seperti kuda liar yang bisa menjerumuskan seseorang. Begitu pula dengan
perkataan, kalau tak bisa dijaga maka akan membuat seseorang mudah
terombang-ambing.
Perkataan itu adalah alat komunikasi, alat untuk berhubungan antar sesama
manusia, alat untuk menyampaikan pikiran dan keinginan kepada orang lain.
Karena itu perkataan mempunyai kedudukan yang sangat penting dan utama dalam
kehidupan manusia. Perkataan bisa mendatangkan kebahagiaan dengan kata-kata
orang bisa menularkan kesejukan, bisa menghibur, dan kata-kata yang baik yang
disertai kebijakan bisa menggugah semangat hidup seseorang. Tetapi sebaliknya,
perkataan yang buruk bisa diibaratkan racun yang menghancurkan kehidupan
seseorang.
Kitab
suci Sarasamuscaya sloka 20, menyatakan: Ikang
ujar ahala tan pahi lawan hru, songkabnya saka tempuhan denya
juga alara, resep ri hati, tatan keneng pangan turu ring rahina wengi
ikang wwang denya, atangnyan tan inujaraken ika de sang dhira purusa, sang ahning maneb manahnira. Terjemahan bebasnya:
Perkataan
yang mengandung maksud jahat tiada bedanya dengan anak panah yang dilepaskan,
setiap orang
yang terkena sasaran
akan merasakan kesakitan. Perkataan itu meresap ke dalam hati, sehingga menyebabkan
orang tidak bisa makan dan tidur, siang malam orang itu akan terbebani. Oleh
sebab itu perkataan yang tidak baik hendaknya tidak diucapkan oleh orang
budiman, bijaksana dan oleh orang yang suci
atau sujana.
Kemudian kitab Sarasamuscaya
sloka 119
menyebutkan: Apan ikang ujar yan rahayu, rahayu ta kojaranya,
tan tunggal ikang sukha kapuhara denya, yadyapin rahayu
towi, yan tan rahayu kang kojaranya,
irikang majarakennya tuwi, ya
pwa mapuhara lara. Terjemahan bebasnya:
Perkataan
yang bermaksud baik dan diucapkan dengan cara yang baik pula, akan menimbulkan kebahagiaan dan ketentraman hati.
Walaupun perkataannya penuh dengan maksud-maksud baik, jika diucapkannya tidak
dengan cara yang baik, akan dapat menimbulkan sakit hati.
Sang mahapandita, sang maka bratang kasatyan, tan
pangumanũman,
tan pagawe pecunya, tan pangupat, nguniweh
tan mrsawada, yatna juga sira amiheri ujarnira, rumaksa halaning len. Orang yang arif bijaksana, orang yang berjanji atas dirinya berpegang
kepada kebenaran, tidak mencaci orang, tidak memfitnah, tidak mencela, lagi pula tidak berkata-kata dusta, melainkan
giat berusaha menahan ucapan-ucapannya,
dan memelihara agar orang lain jangan sampai terluka karenanya.
Begitu pentingnya
menjaga perkataan atau ucapan itu dalam
kehidupan kita.
Maka seharusnya kita juga mengendalikan perkataan sebagaimana halnya
mengendalikan pikiran kita. Setiap kata yang keluar seharusnya bisa menyejukkan dan berguna untuk
kehidupan kita
di dalam masyarakat. Semua perkataan yang
keluar harus kita pikirkan lebih dulu untung ruginya.
Sementara itu ada wejangan yang menarik dari kitab Wreaspati Tattwa yang menyebutkan: Nyang tan paprawrettyaning wak, pat kwehnya,
pratyekanya ujar ahala, ujar apregas ujar pisuna, ujar mitya, nahan tang pat
sinanggah hananing wak, tan ujarakena, tan angen-angen kojaranya. Artinya: Inilah kata-kata yang tidak patut
diucapkan, ada empat banyaknya, yaitu; jangan mengucapkan kata-kata yang jahat, jangan mengucapkan kata-kata
yang kasar, jangan mengucapkan kata-kata yang memfitnah, jangan mengucapkan
kata-kata bohong. Keempat perkataan ini hendaknya jangan diucapkan, bahkan walaupun masih dalam pikiran sekalipun hendaknya disingkirkan.
Banyak orang tidak sadar untuk menghamburkan kata-kata yang bisa
menjerumuskan dirinya sendiri. Apalagi di era kebebasan seperti sekarang ini,
perkataan yang belum ditimbang untung ruginya dengan bebas keluar dari mulut
seseorang. Di televisi kita sering melihat orang berdebat dengan memuntahkan
kata-kata keras yang seharusnya tidak layak untuk diucapkan di depan umum.
Dalam sidang-sidang terhormat seperti di gedung Dewan Perwakilan Rakyat juga
kerap ada kata-kata yang kasar yang ditujukan kepada orang lain yang tidak
sepaham. Seharusnya kalau pikiran sudah terkendali maka kata yang terucapkan
bisa lebih menyejukkan meskipun itu bernada kritikan kepada seseorang.
Perkataan harus dijaga dengan baik karena dari kata-kata itu kita bisa dinilai
oleh orang lain, apakah kita menjadi orang yang bijaksana atau sebaliknya.
(
Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 13 Februari 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar