MASALAH kemiskinan kembali menjadi bahan
perbincangan. Ada orang miskin yang perlu diberi bantuan “bedah rumah”, ada
orang miskin yang penglihatannya terganggu akibat katarak sehingga perlu ada
operasi katarak, ada orang miskin yang lumpuh sehingga perlu dibantu kursi
roda. Banyak lagi contoh orang-orang miskin yang perlu ditolong.
Tapi bagaimana menolong mereka agar tidak salah
sasaran? Yang menerima bantuan itu harus benar-benar orang yang tidak mampu,
jangan salah sasaran. Kitab Sarasamuscaya Sloka 271 menyebutkan: tinggalaken ikang artha, daana kena ri
sang Patra. Patra ngaran sang yogia wehana daana. Artinya: sisihkanlah uang
itu untuk didana-puniakan pada Sang Patra. Yang dimaksudkan Sang Patra adalah orang-orang
yang sepatutnya dibantu dan orang yang tepat untuk dibantu.
Di zaman Kali (Kali Yuga) memberikan dana punia
adalah yadnya yang lebih utama dari yadnya lainnya. Ini yang kurang dipahami
oleh umat sehingga banyak sekali ritual yang biayanya besar tetapi tidak
dibarengi dengan dana punia. Sebaliknya ada pula orang yang berdana punia namun
dengan harapan mendapatkan pujian, mengharapkan kepopuleran, bahkan kadang
dengan muka cemberut seolah-olah pemberian itu sangat terpaksa.
Adakah syarat-syarat bagaimana sebaiknya
memberikan dana punia? Kitab Sarasamuscaya sloka 223 memberi petunjuk. Bunyinya,
dikutip dari bahasa Jawa Kuno (Kawi) sebagai berikut: Lawan waneh, wulat amanis, manah aleba abeting, wuwus enak, segeh
swagata, yatika gaweyakena, duluran ikang daana, yathayukti.
Artinya: Memberi dana punia hendaknya dengan
pandangan yang manis, hati yang lapang, ikhlas tidak mengharapkan balasan
apa-apa dan gembira, kata-kata yang menyenangkan hati, tegur sapa yang ramah
tamah, itulah yang hendaknya menyertai dana punia.
Wulat
amanis artinya raut wajah yang
manis. Wajah manis ini mencerminkan sikap batin kita yang lapang tanpa beban.
Rasa tulus ikhlas memancar dari raut wajah yang berseri sehingga dana punia
yang disampaikan didorong oleh kesadaran yadnya bukan karena hal-hal lain
seperti ingin populer karena diliput oleh televisi, misalnya.
Manah
aleba abeting artinya memberikan
dana punia tanpa ada harapan akan mendapatkan balasan, sehingga niat ini
benar-benar untuk membuka hati yang lapang. Dana punia dengan mengharapkan
pamerih akan mengurangi arti dana punia itu.
Wuwus
enak artinya dana punia itu harus
disampaikan dengan kata–kata yang menyenangkan hati semua orang yang
mendengarkan. Tak ada maksud untuk melecehkan orang lain, apalagi melecehkan si
penerima bantuan. Gunakan kata-kata yang enak di dengar keluar dari lubuk hati
yang bersih.
Segeh swagata artinya mari bertegur sapa yang ramah kepada umat
yang akan diberikan dana punia. Jangan meremehkan mereka seolah-olah mereka
menjadi lebih rendah dari kita yang memberikan dana punia. Jadikan harta yang
dipuniakan ini sebagai harta yang memang sudah selayaknya dibagikan kepada kaum
tak berada. Jangan sekali-kali menjadikan penerima dana punia seolah statusnya
lebih rendah sebagai manusia yang sama-sama ciptaan Tuhan. Justru lewat bantuan
ini diharapkan mereka yang menerima dana punia itu bisa meningkatkan srada
bhaktinya kepada Hyang Widhi. Apalagi di dalam sloka 177 Sarasamuscara ada
disebutkan --kunang doning dhanan
hinanaken, bhuktin daanakena. Artinya: harta diadakan untuk dinikmati dan didana
puniakan. Berarti memberikan dana punia adalah kewajiban menjalankan ajaran
agama, lebih-lebih di zaman Kali.
Kalau begitu halnya, memberi dana punia adalah
kewajiban beragama, sesungguhnya adanya orang miskin atau orang yang kurang
mampu memberi kesempatan kepada orang yang mampu untuk melaksanakan ajaran
agamanya dengan benar. Jadi siapakah yang seharusnya lebih berterima-kasih
dalam hal ini? Pemberi dana punialah yang harus lebih dulu berterimakasih
karena punianya ada yang menerima. Tanpa ada yang menerima maka harta itu akan
menjadi sia-sia karena tak bisa dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Pahala
akan diterima lebih besar bagi pemberi dana punia, tentu dalam hal ini adalah
pahala yang berhubungan dengan rohani.
Parisada sudah membuat bhisama soal dana punia dan
telah pula membentuk lembaga yang diberi nama Lembaga Artha. Sayang sekali
respon umat kepada Lembaga Artha masih minim, sementara bantuan untuk kaum miskin
yang kini ditampung di Panti Aasuhan dan Rumah Wreda juga tak begitu
menggembirakan. Padahal memberi dana punia adalah yadnya yang utama. Mari
salurkan dana punia mumpung kita masih mampu.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda16 Januari 2016 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar