17 Januari 2016

Berikan Dana Punia dengan Wajah Manis

MASALAH kemiskinan kembali menjadi bahan perbincangan. Ada orang miskin yang perlu diberi bantuan “bedah rumah”, ada orang miskin yang penglihatannya terganggu akibat katarak sehingga perlu ada operasi katarak, ada orang miskin yang lumpuh sehingga perlu dibantu kursi roda. Banyak lagi contoh orang-orang miskin yang perlu ditolong.

Tapi bagaimana menolong mereka agar tidak salah sasaran? Yang menerima bantuan itu harus benar-benar orang yang tidak mampu, jangan salah sasaran. Kitab Sarasamuscaya Sloka 271 menyebutkan: tinggalaken ikang artha, daana kena ri sang Patra. Patra ngaran sang yogia wehana daana. Artinya: sisihkanlah uang itu untuk didana-puniakan pada Sang Patra. Yang dimaksudkan Sang Patra adalah orang-orang yang sepatutnya dibantu dan orang yang tepat untuk dibantu.

Di zaman Kali (Kali Yuga) memberikan dana punia adalah yadnya yang lebih utama dari yadnya lainnya. Ini yang kurang dipahami oleh umat sehingga banyak sekali ritual yang biayanya besar tetapi tidak dibarengi dengan dana punia. Sebaliknya ada pula orang yang berdana punia namun dengan harapan mendapatkan pujian, mengharapkan kepopuleran, bahkan kadang dengan muka cemberut seolah-olah pemberian itu sangat terpaksa.

Adakah syarat-syarat bagaimana sebaiknya memberikan dana punia? Kitab Sarasamuscaya sloka 223 memberi petunjuk. Bunyinya, dikutip dari bahasa Jawa Kuno (Kawi) sebagai berikut: Lawan waneh, wulat amanis, manah aleba abeting, wuwus enak, segeh swagata, yatika gaweyakena, duluran ikang daana, yathayukti.

Artinya: Memberi dana punia hendaknya dengan pandangan yang manis, hati yang lapang, ikhlas tidak mengharapkan balasan apa-apa dan gembira, kata-kata yang menyenangkan hati, tegur sapa yang ramah tamah, itulah yang hendaknya menyertai dana punia.

Wulat amanis artinya raut wajah yang manis. Wajah manis ini mencerminkan sikap batin kita yang lapang tanpa beban. Rasa tulus ikhlas memancar dari raut wajah yang berseri sehingga dana punia yang disampaikan didorong oleh kesadaran yadnya bukan karena hal-hal lain seperti ingin populer karena diliput oleh televisi, misalnya.

Manah aleba abeting artinya memberikan dana punia tanpa ada harapan akan mendapatkan balasan, sehingga niat ini benar-benar untuk membuka hati yang lapang. Dana punia dengan mengharapkan pamerih akan mengurangi arti dana punia itu.

Wuwus enak artinya dana punia itu harus disampaikan dengan kata–kata yang menyenangkan hati semua orang yang mendengarkan. Tak ada maksud untuk melecehkan orang lain, apalagi melecehkan si penerima bantuan. Gunakan kata-kata yang enak di dengar keluar dari lubuk hati yang bersih.

Segeh swagata artinya mari bertegur sapa yang ramah kepada umat yang akan diberikan dana punia. Jangan meremehkan mereka seolah-olah mereka menjadi lebih rendah dari kita yang memberikan dana punia. Jadikan harta yang dipuniakan ini sebagai harta yang memang sudah selayaknya dibagikan kepada kaum tak berada. Jangan sekali-kali menjadikan penerima dana punia seolah statusnya lebih rendah sebagai manusia yang sama-sama ciptaan Tuhan. Justru lewat bantuan ini diharapkan mereka yang menerima dana punia itu bisa meningkatkan srada bhaktinya kepada Hyang Widhi. Apalagi di dalam sloka 177 Sarasamuscara ada disebutkan --kunang doning dhanan hinanaken, bhuktin daanakena. Artinya: harta diadakan untuk dinikmati dan didana puniakan. Berarti memberikan dana punia adalah kewajiban menjalankan ajaran agama, lebih-lebih di zaman Kali.

Kalau begitu halnya, memberi dana punia adalah kewajiban beragama, sesungguhnya adanya orang miskin atau orang yang kurang mampu memberi kesempatan kepada orang yang mampu untuk melaksanakan ajaran agamanya dengan benar. Jadi siapakah yang seharusnya lebih berterima-kasih dalam hal ini? Pemberi dana punialah yang harus lebih dulu berterimakasih karena punianya ada yang menerima. Tanpa ada yang menerima maka harta itu akan menjadi sia-sia karena tak bisa dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Pahala akan diterima lebih besar bagi pemberi dana punia, tentu dalam hal ini adalah pahala yang berhubungan dengan rohani.


Parisada sudah membuat bhisama soal dana punia dan telah pula membentuk lembaga yang diberi nama Lembaga Artha. Sayang sekali respon umat kepada Lembaga Artha masih minim, sementara bantuan untuk kaum miskin yang kini ditampung di Panti Aasuhan dan Rumah Wreda juga tak begitu menggembirakan. Padahal memberi dana punia adalah yadnya yang utama. Mari salurkan dana punia mumpung kita masih mampu. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda16 Januari 2016 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar