DALAM kitab Sarasamuscaya sloka 108 ada petuah yang menyangkut soal kepada
siapa kita tidak boleh marah. Sloka itu berbunyi: Devatasu vicesena raajasu brahmanesu ca, atyaantavya bhavet krodha
balavrddhaturesu ca. Terjemahan bebasnya adalah: Maka
dari itu, hendaknya manusia benar-benar berusaha dengan sekuat tenaganya untuk
menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, misalnya, terhadap para dewata, terhadap para raja, terhadap para brahmana,
terhadap anak-anak, terhadap orang yang lanjut usia.
Para dewata yang dimaksudkan adalah Ista Dewata sebagai sinar-sinar suci
dari Tuhan Yang Maha Esa. Tentu tak ada seorang pun manusia normal yang berani
memarahi para dewata, meski pun kemarahan itu dalam posisinya sebagai pemuja.
Tak ada orang yang melakukan persembahyangan sambil memaki-maki.
Dewata yang dimaksudkan ini juga perwujudan Prema Swarupa dan Ananda
Swarupa. Artinya dewata itu wujud kasih Tuhan yang selalu melimpah untuk umat ciptaanNya. Kalau Tuhan
dan para Istadewata didekati dengan marah, maka kasih yang melimpah dari dewata
tidak akan bisa dicapai oleh para bhakta. Kasih dan kebahagiaan dari Tuhan hanya
dapat dicapai dengan sraddha dan
bhakti yang berdasarkan ketulusan yadnya.
Raja dalam masa kini adalah pemimpin, dari yang tertinggi seperti presiden,
para menteri, gubernur, bupati, camat dan seluruh jajarannya. Nah, kepada semua
itu diharapkan seseorang tidak dirasuki rasa marah ketika dalam satu dialog bersama
sang pemimpin, termasuk dalam menyampaikan aspirasi dan menyalurkan pendapat.
Raja atau pemimpin punya kewajiban dalam
mensejahtrakan rakyatnya. Raja berasal dari kata Rajintah artinya orang yang telah terbukti
membahagiakan masyarakat. Setidaknya punya komitmen di dalam hal itu dan karena
itu seorang raja atau pemimpin dipilih oleh rakyatnya. Namun menjadi pemimpin
urusannya tentu banyak, karena itu bisa saja terjadi tidak semua hal bisa
dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Tidak bisa semua permintaan dan permohonan
dari rakyatnya bisa dikerjakan oleh sang pemimpin. Pasti ada yang kedodoran.
Dalam kaitan inilah rakyat sering marah manakala apa yang diharapkannya tidak
kesampaian atau belum dikerjakan sama sekali oleh sang pemimpin. Kalau
berpegangan kepada kitab Sarasamuscaya ini, kritik atau aspirasi kepada
pemimpin janganlah disampaikan dengan marah. Apalagi sambil memaki sang
pemimpin atau demo dengan merusak fasilitas publik. Sampaikan dengan sopan
santun. Ingatkan sang pemimpin dengan cara yang baik dan bermartabat.
Marah kepada brahmana atau orang suci tentulah perbuatan yang sungguh tidak
baik. Vibrasi yang ingin diperoleh dari pertemuan dengan orang suci tidak akan
didapat jika nafsu marah masih ada pada umat. Seorang brahmana tidak apa-apa
mendapat amarah dari umatnya, seorang brahmana tak akan membalas amarah yang
menimpanya. Kesucian seorang brahmana tak akan luntur jika dicaci oleh umatnya.
Sang pencacilah yang akan mendapat pahala dari perbuatannya yang tak bisa
membendung nafsu buruk itu.
Fungsi seorang brahmana yang dalam hal ini adalah pandita (pendeta) di
dalam kitab Sarasamuscaya disebut Sang
Patirthan, artinya seseorang yang mampu memancarkan dan memberikan vibasi
kesucian kepada umatnya. Bagaimana mungkin vibrasi itu akan keluar jika sang
pencari kesucian berlaku kasar dan berprilaku marah?
Memarahi anak-anak (dalam sloka di atas dari kata bala) harus juga dihindari meskipun itu dimaksudkan untuk memberi
nasehat. Karena seorang anak tak memiliki kemampuan untuk mencerna dan
menganalisa kata-kata nasehat dari orang tua dengan nada kemarahan. Bahkan bisa
terjadi kata-kata marah yang keterlaluan akan menjadi hal negatif yang terus
dipendam oleh sang anak sampai lama dalam perkembangan kehidupannya. Anak itu
bisa bermasalah dalam pertumbuhannya di masa remaja dan ketika menjadi dewasa.
Apalagi memarahi orang tua yang sudah uzur atau vrddha (diadopsi menjadi wreda dalam bahasa Indonesia). Itu sudah
harus ditinggalkan dan jangan sampai diucapkan. Selain energi orang lanjut usia
itu sudah menurun, daya nalarnya pun lemah, menghormati orang tua adalah hal
yang seharusnya dilakukan, betapa pun orang tua itu cerewet dan menjengkelkan.
Pitutur dalam kitab Sarasamuscaya ini harus dikumandangkan terus mengingat
saat ini banyak orang gampang marah kepada pemimpinnya, kepada para pendeta,
tak menghormati orang tua dan seterusnya. Sopan santun kita sudah luntur,
presiden apalagi gubernur dicaci-maki, begini salah begitu salah. Padahal
mereka sudah bekerja dengan benar, tapi tentu tak semua orang bisa puas.
Bersabarlah.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 26 Desember 2015))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar