27 Desember 2015

Berikan Pendapat Tanpa Marah

DALAM kitab Sarasamuscaya sloka 108 ada petuah yang menyangkut soal kepada siapa kita tidak boleh marah. Sloka itu berbunyi: Devatasu vicesena raajasu brahmanesu ca, atyaantavya bhavet krodha balavrddhaturesu ca. Terjemahan bebasnya adalah: Maka dari itu, hendaknya manusia benar-benar berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, misalnya, terhadap para dewata, terhadap para raja, terhadap para brahmana, terhadap anak-anak, terhadap orang yang lanjut usia.

Para dewata yang dimaksudkan adalah Ista Dewata sebagai sinar-sinar suci dari Tuhan Yang Maha Esa. Tentu tak ada seorang pun manusia normal yang berani memarahi para dewata, meski pun kemarahan itu dalam posisinya sebagai pemuja. Tak ada orang yang melakukan persembahyangan sambil memaki-maki.

Dewata yang dimaksudkan ini juga perwujudan Prema Swarupa dan Ananda Swarupa. Artinya dewata itu wujud kasih Tuhan yang selalu  melimpah untuk umat ciptaanNya. Kalau Tuhan dan para Istadewata didekati dengan marah, maka kasih yang melimpah dari dewata tidak akan bisa dicapai oleh para bhakta. Kasih dan kebahagiaan dari Tuhan  hanya  dapat dicapai dengan sraddha  dan bhakti yang berdasarkan ketulusan yadnya.

Raja dalam masa kini adalah pemimpin, dari yang tertinggi seperti presiden, para menteri, gubernur, bupati, camat dan seluruh jajarannya. Nah, kepada semua itu diharapkan seseorang tidak dirasuki rasa marah ketika dalam satu dialog bersama sang pemimpin, termasuk dalam menyampaikan aspirasi dan menyalurkan pendapat.

Raja atau pemimpin  punya kewajiban dalam mensejahtrakan rakyatnya. Raja berasal dari kata  Rajintah artinya orang yang telah terbukti membahagiakan masyarakat. Setidaknya punya komitmen di dalam hal itu dan karena itu seorang raja atau pemimpin dipilih oleh rakyatnya. Namun menjadi pemimpin urusannya tentu banyak, karena itu bisa saja terjadi tidak semua hal bisa dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Tidak bisa semua permintaan dan permohonan dari rakyatnya bisa dikerjakan oleh sang pemimpin. Pasti ada yang kedodoran. Dalam kaitan inilah rakyat sering marah manakala apa yang diharapkannya tidak kesampaian atau belum dikerjakan sama sekali oleh sang pemimpin. Kalau berpegangan kepada kitab Sarasamuscaya ini, kritik atau aspirasi kepada pemimpin janganlah disampaikan dengan marah. Apalagi sambil memaki sang pemimpin atau demo dengan merusak fasilitas publik. Sampaikan dengan sopan santun. Ingatkan sang pemimpin dengan cara yang baik dan bermartabat.

Marah kepada brahmana atau orang suci tentulah perbuatan yang sungguh tidak baik. Vibrasi yang ingin diperoleh dari pertemuan dengan orang suci tidak akan didapat jika nafsu marah masih ada pada umat. Seorang brahmana tidak apa-apa mendapat amarah dari umatnya, seorang brahmana tak akan membalas amarah yang menimpanya. Kesucian seorang brahmana tak akan luntur jika dicaci oleh umatnya. Sang pencacilah yang akan mendapat pahala dari perbuatannya yang tak bisa membendung nafsu buruk itu.

Fungsi seorang brahmana yang dalam hal ini adalah pandita (pendeta) di dalam kitab Sarasamuscaya disebut  Sang Patirthan, artinya seseorang yang mampu memancarkan dan memberikan vibasi kesucian kepada umatnya. Bagaimana mungkin vibrasi itu akan keluar jika sang pencari kesucian berlaku kasar dan berprilaku marah?

Memarahi anak-anak (dalam sloka di atas dari kata bala) harus juga dihindari meskipun itu dimaksudkan untuk memberi nasehat. Karena seorang anak tak memiliki kemampuan untuk mencerna dan menganalisa kata-kata nasehat dari orang tua dengan nada kemarahan. Bahkan bisa terjadi kata-kata marah yang keterlaluan akan menjadi hal negatif yang terus dipendam oleh sang anak sampai lama dalam perkembangan kehidupannya. Anak itu bisa bermasalah dalam pertumbuhannya di masa remaja dan ketika menjadi dewasa.

Apalagi memarahi orang tua yang sudah uzur atau vrddha (diadopsi menjadi wreda dalam bahasa Indonesia). Itu sudah harus ditinggalkan dan jangan sampai diucapkan. Selain energi orang lanjut usia itu sudah menurun, daya nalarnya pun lemah, menghormati orang tua adalah hal yang seharusnya dilakukan, betapa pun orang tua itu cerewet dan menjengkelkan.

Pitutur dalam kitab Sarasamuscaya ini harus dikumandangkan terus mengingat saat ini banyak orang gampang marah kepada pemimpinnya, kepada para pendeta, tak menghormati orang tua dan seterusnya. Sopan santun kita sudah luntur, presiden apalagi gubernur dicaci-maki, begini salah begitu salah. Padahal mereka sudah bekerja dengan benar, tapi tentu tak semua orang bisa puas. Bersabarlah.

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 26 Desember 2015))


Tidak ada komentar:

Posting Komentar