Catur
widha bhajante mam, janah sukritino ‘rjuna, arto jijnasur artharthi, jnanis ca
bharatasabha
SLOKA di atas diambil dari Bhagawad Gita percakapan
VII sloka 16. Terjemahannya, dikutip dari Bhagawad Gita oleh Gede Pudja: “Ada empat macam orang yang baik hati memuja
kepada-Ku, wahai Arjuna. Yaitu, mereka yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang
mengejar harta dan yang berbudi.”
Sloka ini cocok dibahas dalam situasi saat ini.
Memuja Aku, dalam hal ini adalah Tuhan Yang Maha Esa, memang perbuatan yang
baik. Sebaik-baiknya orang tak ada yang lebih baik dari pada ingat selalu
memuja Hyang Widhi. Tetapi bagaimana orang yang sedang memuja Tuhan itu, apa
yang ingin diraihnya, pamerih apa yang ingin diperolehnya, akan membedakan
kualitas dari pemujaan itu sendiri. Catur
Widha Bhajante atau empat macam (jenis) para bhakta dalam memuja Tuhan
mempunyai karakter masing-masing dan menunjukkan pula status kerohanian bhakta
itu.
Yang pertama arto
(artah), yaitu para bhakta memuja Tuhan karena lagi dalam kesusahan dan
menderita. Apakah mereka lagi sakit, sehabis kecelakaan, setelah kecurian dan
seterusnya. Kalau sudah dalam posisi begini, Tuhan memang jadi terasa dekat. Mereka
melakukan pemujaan dengan permintaan supaya semua penderitaan itu dihilangkan.
Pamerihnya memang tinggi dan Tuhan pun selalu diagungkan sebagai pemberi
anugrah. Tetapi kalau sudah sembuh, dalam keadaan sehat, uang berlimpah dan
bisa bersenang-senang, Tuhan pun dilupakan. Jangankan melakukan persembahyangan
ke pura, melantunkan Puja Trisandhya di rumah saja sudah malas.
Yang kedua artharthi,
menyembah Tuhan dengan mengharapkan keuntungan materi dan memuja kekayaan.
Mereka melakukan berbagai pemujaan dengan maksud supaya mendapat keuntungan
yang berlimpah. Bagi para pedagang, semua Pura Melanting dikunjungi, tak cukup
Pura Melanting di pasar tempat berjualan saja, tetapi di berbagai tempat yang
jauh. Tujuannya bersembahyang tak cuma memohon keselamatan, padahal itulah yang
mesti diutamakan. Tetapi langsung kepada tujuan bagaimana agar usahanya sukses
dan dapat untung sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa berdagang harus paham
teori ekonomi dan taktik dalam menjalankan bisnis. Yang diingatnya hanyalah
“minta keuntungan” dari berbagai pura.
Yang ketiga jijnasur,
mereka yang memuja Tuhan dengan mengharapkan kepandaian dan kedudukan di
masyarakat. Banyak sekali pemimpin dan calon-calon pemimpin pada tahap seperti
ini. Lihat saja sekarang menjelang Pilkada, para calon bupati dan calon wakil
bupati hampir setiap hari kerjanya mengunjungi pura untuk bersembahyang.
Tujuannya untuk “mohon restu” agar terpilih dan mendapatkan kedudukan itu.
Setelah terpilih menjadi bupati, sudah lupa lagi bersembahyang, bahkan
perilakunya bisa menyimpang dari hal-hal yang berbau pemujaan pada Tuhan.
Semasa kampanye sibuk menyumbang pembangunan pura, setelah terpilih malah ikut
merusak hal-hal yang sakral seperti merobohkan patung pemujaan masyarakat
diganti dengan patung yang nonsakral. Begitu pula orang-orang memuja Tuhan agar
bisa lulus ujian, cepat meraih gelar sarjana, padahal tak ada keseriusan untuk
belajar.
Yang keempat jnani,
inilah pemujaan kepada Tuhan yang paling tinggi, paling mulia. Mereka memuja
Tuhan semata-mata memuja saja, tanpa permintaan apa-apa. Mereka tak terikat
lagi kepada masalah duniawi, mereka telah mampu melepaskan keinginan dan nafsu
duniawi. Kalau mereka lagi sakit, bukanlah memohon agar segera disembuhkan,
tetapi menyerahkan keputusannya kepada Tuhan, apa pun yang terbaik akan
diterimanya. Kalau sakit itu adalah jalan untuk menghadap Tuhan (artinya
meninggal dunia) itu harus diterima dengan lapang karena begitulah siklus yang
dialami manusia: lahir, hidup dan mati. Masyarakat Hindu di Bali menyebutnya suka duka lara pati. Ada saatnya diberi
kesenangan, ada saatnya diberi kesedihan, ada saatnya menderita sakit dan
akhirnya tak terelakkan untuk mati.
Tuhan harus dipuja dalam berbagai kesempatan dan
dalam berbagai situasi. Tak bisa dilupakan pada saat kita diberi kenikmatan,
justru pada saat kenikmatan itu ada kita memuja Beliau dengan niat bersyukur.
Hanya orang yang selalu bersyukur dengan apa yang diterimanya menemukan
kebahagiaan lahir dan bathin. Mari kita memuja Tuhan tanpa mengemis, tetapi
pujalah Tuhan dengan rasa syukur dan tulus ikhlas lalu menerima apa pun yang
diberkahinya. Intinya berserah pada Tuhan Yang Maha Esa
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 7 Agustus 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar