PERNAHKAH Anda berbuat jahat? Atau hanya sekedar
berpikir akan berbuat jahat? Jangan sampai. Ada orang yang mencari kesenangan
bahkan mereka menyebut kebahagiaan dengan cara berbuat jahat. Misalnya menipu
orang lain. Atau mencuri barang orang lain. Atau merampok dengan kekerasan.
Atau cara-cara yang kelihatannya lebih sopan dengan menyelewengkan dana seperti
korupsi . Bahwa hasil dari perbuatan jahat itu bisa menyenangkan, kalau tidak
tertangkap, itu pasti buka kebahagiaan. Tak ada kebahagiaan yang diperoleh
dengan cara-cara yang jahat.
Kitab Sarassamuscaya Sloka 5 menyebutkan: ihaiwa narakawya dhessikitsam na karoti yah,
gatwa nurausadham sthanam sarujah kin karisyati. Arti bebasnya: Manusia
jahat dianggap sebagai sampah sekaligus penyakit dunia. Sesungguhnya tidak ada
kesenangan apapun dalam kejahatan itu. Si jahat selalu merasa kosong dalam
setiap perbuatannya, kebahagiaan yang mereka peroleh adalah semu.
Kalau pun harta hasil kejahatan itu memang bisa
diperoleh tanpa ada sanksi hukum, maka kebahagiaan yang diperoleh pun tergolong
semu. Harta itu akan cepat habis dan tanpa bekas untuk kebaikan. Karena harta
itu dicari bukan di jalan dharma, bukan dari jerih payah yang dilakukan dengan
rasa syukur yang mendalam. Apalagi, diakui atau pun tidak, pasti ada
bayang-bayang bahwa suatu saat harta yang diperoleh dengan kejahatan itu akan
diketahui asal-usulnya oleh orang lain. Hukum karma akan berlaku, apakah itu
cepat atau lambat, pasti akan datang. Dan pada saat hukum karma berjalan maka
penyesalan yang amat luar biasa akan dialami.
Seseorang yang menekuni ajaran agama, seseorang yang
sering membaca atau melantunkan tembang yang penuh dengan nasehat, belum tentu
akan melaksanakan ajaran itu dalam praktek kehidupannya. Mereka bisa berbuat
jahat dan kejahatan itu tentu disesuaikan dengan kondisinya. Kalau dia seorang
pejabat, maka kejahatan yang dilakukannya adalah korupsi. Dan besar kecil
korupsinya tergantung pula dari jabatan atau kekuasaan yang dia peroleh. Bisa
puluhan juta sampai milyaran. Sepintas kelihatannya bahagia. Ke sana ke mari
disanjung orang karena memang suka memberikan dana punia. Juga suka mengunjungi
pura secara beramai-ramai, bahkan sering pula melakukan dharma wacana mengupas
ajaran agama, seolah-olah semuanya itu sudah mereka laksanakan. Bahagia
selintas, tetapi itu semua semu. Hanya mereka yang mengetahui bahwa itu
kebahagiaan semu karena pasti akan dibayangi oleh perasaan bersalah karena
harta yang mereka dapatkan berdasarkan kejahatan. Bukan harta yang disyukuri.
Kitab Sarassamuscaya memberikan pelajaran etika yang
baik untuk keluar dari kebahagiaan semu itu. Pada sloka 11 disebutkan: Lakukanlah pencarian kekayaan dan kesenangan
hanya berlandaskan pada kebajikan atau kebenaran. Hendaknya janganlah melakukan
segala macam kegiatan yang bertentangan dengan kebenaran. Manusia sering
melalaikan hakekat kebajikan atau kebenaran sebab sulit untuk dilakukan,
sedangkan melakukan kejahatan bisa sangat mudah. Tapi pastilah neraka pahalanya.
Neraka dan sorga jangan selalu diartikan ada pada
saat kita telah meninggalkan dunia ini untuk kembali ke alam fana. Neraka bisa
jadi ada di alam kehidupan ini. Sebutlah misal kejahatan korupsi itu, betapa
pun pintarnya menyembunyikan bersama kolega, pasti suatu saat akan terbongkar.
Nah, neraka itu bisa berupa rumah tahanan atau penjara. Lalu apa yang bisa
dibanggakan lagi berada di dalam “neraka dunia”, semua kebaikan semu yang
pernah dilakukan langsung hilang tak berbekas. Masyarakat sudah melupakan
dharma wacana yang pernah dilakukan, bahkan cemohan akan diterima karena
masyarakat baru percaya bahwa selama ini yang ada adalah kepura-puraan alias
semu.
Sarassamuscaya jelas mengajarkan untuk mencari
kekayaan dan kesenangan di jalan kebajikan atau kebenaran. Jalan yang direstui
oleh dharma. Namun diakui jalan itu terkadang sulit. Justru bisa mengatasi
kesulitan dan hambatan itu akan semakin melempangkan jalan menuju pencapaian: harta
yang dipenuhi anugrah. Harta seperti inilah yang tak ada habis-habisnya karena
kalau pun tak ada lagi namun ada bekasnya. Dan itu menjadi kenangan berharga.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 06-02-2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar