07 Februari 2015

Kebahagiaan yang Semu

PERNAHKAH Anda berbuat jahat? Atau hanya sekedar berpikir akan berbuat jahat? Jangan sampai. Ada orang yang mencari kesenangan bahkan mereka menyebut kebahagiaan dengan cara berbuat jahat. Misalnya menipu orang lain. Atau mencuri barang orang lain. Atau merampok dengan kekerasan. Atau cara-cara yang kelihatannya lebih sopan dengan menyelewengkan dana seperti korupsi . Bahwa hasil dari perbuatan jahat itu bisa menyenangkan, kalau tidak tertangkap, itu pasti buka kebahagiaan. Tak ada kebahagiaan yang diperoleh dengan cara-cara yang jahat.

Kitab Sarassamuscaya Sloka 5 menyebutkan: ihaiwa narakawya dhessikitsam na karoti yah, gatwa nurausadham sthanam sarujah kin karisyati. Arti bebasnya: Manusia jahat dianggap sebagai sampah sekaligus penyakit dunia. Sesungguhnya tidak ada kesenangan apapun dalam kejahatan itu. Si jahat selalu merasa kosong dalam setiap perbuatannya, kebahagiaan yang mereka peroleh adalah semu.
Kalau pun harta hasil kejahatan itu memang bisa diperoleh tanpa ada sanksi hukum, maka kebahagiaan yang diperoleh pun tergolong semu. Harta itu akan cepat habis dan tanpa bekas untuk kebaikan. Karena harta itu dicari bukan di jalan dharma, bukan dari jerih payah yang dilakukan dengan rasa syukur yang mendalam. Apalagi, diakui atau pun tidak, pasti ada bayang-bayang bahwa suatu saat harta yang diperoleh dengan kejahatan itu akan diketahui asal-usulnya oleh orang lain. Hukum karma akan berlaku, apakah itu cepat atau lambat, pasti akan datang. Dan pada saat hukum karma berjalan maka penyesalan yang amat luar biasa akan dialami.

Seseorang yang menekuni ajaran agama, seseorang yang sering membaca atau melantunkan tembang yang penuh dengan nasehat, belum tentu akan melaksanakan ajaran itu dalam praktek kehidupannya. Mereka bisa berbuat jahat dan kejahatan itu tentu disesuaikan dengan kondisinya. Kalau dia seorang pejabat, maka kejahatan yang dilakukannya adalah korupsi. Dan besar kecil korupsinya tergantung pula dari jabatan atau kekuasaan yang dia peroleh. Bisa puluhan juta sampai milyaran. Sepintas kelihatannya bahagia. Ke sana ke mari disanjung orang karena memang suka memberikan dana punia. Juga suka mengunjungi pura secara beramai-ramai, bahkan sering pula melakukan dharma wacana mengupas ajaran agama, seolah-olah semuanya itu sudah mereka laksanakan. Bahagia selintas, tetapi itu semua semu. Hanya mereka yang mengetahui bahwa itu kebahagiaan semu karena pasti akan dibayangi oleh perasaan bersalah karena harta yang mereka dapatkan berdasarkan kejahatan. Bukan harta yang disyukuri.

Kitab Sarassamuscaya memberikan pelajaran etika yang baik untuk keluar dari kebahagiaan semu itu. Pada sloka 11 disebutkan:  Lakukanlah pencarian kekayaan dan kesenangan hanya berlandaskan pada kebajikan atau kebenaran. Hendaknya janganlah melakukan segala macam kegiatan yang bertentangan dengan kebenaran. Manusia sering melalaikan hakekat kebajikan atau kebenaran sebab sulit untuk dilakukan, sedangkan melakukan kejahatan bisa sangat mudah. Tapi pastilah neraka pahalanya.

Neraka dan sorga jangan selalu diartikan ada pada saat kita telah meninggalkan dunia ini untuk kembali ke alam fana. Neraka bisa jadi ada di alam kehidupan ini. Sebutlah misal kejahatan korupsi itu, betapa pun pintarnya menyembunyikan bersama kolega, pasti suatu saat akan terbongkar. Nah, neraka itu bisa berupa rumah tahanan atau penjara. Lalu apa yang bisa dibanggakan lagi berada di dalam “neraka dunia”, semua kebaikan semu yang pernah dilakukan langsung hilang tak berbekas. Masyarakat sudah melupakan dharma wacana yang pernah dilakukan, bahkan cemohan akan diterima karena masyarakat baru percaya bahwa selama ini yang ada adalah kepura-puraan alias semu.
Sarassamuscaya jelas mengajarkan untuk mencari kekayaan dan kesenangan di jalan kebajikan atau kebenaran. Jalan yang direstui oleh dharma. Namun diakui jalan itu terkadang sulit. Justru bisa mengatasi kesulitan dan hambatan itu akan semakin melempangkan jalan menuju pencapaian: harta yang dipenuhi anugrah. Harta seperti inilah yang tak ada habis-habisnya karena kalau pun tak ada lagi namun ada bekasnya. Dan itu menjadi kenangan berharga. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 06-02-2015)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar