01 Februari 2015

Tiga Cara Pelajari Kebenaran


Tat viddhi pranipatena, pariprasnena sevaya, upadekshyanti te jnanam, jnaninas tattvadarsinah.
SLOKA di atas diambil dari Bhagawad Gita Percakapan IV Sloka 34. Almarhum Nyoman S. Pendit memberi arti: “belajarlah dengan sujud disiplin, dengan bertanya dan bekerja berbakti, guru budiman yang melihat kebenaran, akan mengajarkan padamu ilmu budi pekerti.”

Sekarang banyak sekali ada kitab Bhagawad Gita dengan arti dan penafsiran yang bervariasi. Sudah lebih dari 20 buku Bhagawad Gita berbahasa indonesia dan tak semua ditulis oleh orang-orang Hindu. Kita bisa membandingkan dulu sebelum membeli. Dan saran saya belilah atau pelajarilah Bhagawad Gita yang paling mudah untuk kita pahami. Karena semakin buku itu baru, semakin bervariasi penafsirannya.

Almarhum Prof. Ida Bagus Mantra yang seangkatan dengan almarhum Nyoman S. Pendit memberi arti sloka di atas dengan bahasa yang agak mudah dipahami. Yakni: “Carilah ilmu kebijaksanaan dengan kerendahan hati melalui penyerahan diri pada Tuhan dengan bertanya-tanya kepada orang yang bijaksana dan melalui pelayanan.”

Ilmu kebijaksanaan itu adalah Jnanam, Tuhan yang dimaksudkan dalam sloka ini adalah Viddhi, dan pelayanan itu adalah sevaya (sevanam). Lalu apa yang mau diterangkan oleh sloka ini? Ada tiga cara belajar untuk mencapai kebenaran abadi yang tak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Ketiganya itu adalah pranipatena, pariprasnena, dan sevaya.

Pranipatena adalah sikap hormat, sujud dan disiplin kepada guru yang memberikan pendidikan. Jika dikaitkan dengan Viddhi Pranipatena adalah menimba ilmu dengan kerendahan hati melalui penyerahan diri dengan bhakti kepada Tuhan. Penyerahan diri itu tidaklah berarti diam menyerah dengan pasrah tak berbuat apa-apa. Tetapi bisa dilakukan dengan bekerja di jalan kebenaran atau di jalan dharma. Ilmu pengetahuan yang dicari dengan kesucian dan kerendahan hati, apalagi ditambah dengan penyerahan diri pada Tuhan, akan membuat kita semakin bijak. Dalam tradisi Hindu sebelum seseorang mempelajari pengetahuan kepada guru, apakah itu guru di di sekolah atau aguron-guron ke Guru Nabe, dilakukan upacara penyucian diri dengan cara mewinten, tergantung tingkatan pada perguruan itu. Misalnya pewintenan bunga, pewintenan saraswati, sampai yang tertinggi pewintenan diksa.

Pariprasnena adalah tingkat lanjut dari Pranipatena. Di sini kita harus banyak bertanya, mencari, dan merenungkan arti ilmu pengetahuan yang telah diberikan. Bertanya kepada guru yang sudah upadeksyanti, beliau yang sudah patut memberikan pendidikan atau yang ilmunya sudah diakui mumpuni. Terus mencari perbandingan dengan selalu memperkuat apa yang sudah diperoleh. Semuanya kemudian direnungkan, ilmu mana yang harus diterapkan dalam situasi tertentu dan yang mana tidak cocok dengan zamannya. Perenungan ini dimaksudkan agar ilmu itu diolah untuk kebaikan dan kebenaran semata-mata.

Yang ketiga adalah sevaya. Berbhakti dan melayani dengan tulus ikhlas, baik kepada guru yang telah secara langsung memberikan pendidikan, maupun kepada guru alam semesta termasuk masyarakat luas. Melayani masyarakat  juga termasuk menimba ilmu karena tak jarang dari interaksi itu akan ditemui berbagai hal yang bisa dijadikan pelajaran. Orang sering berkata, pengalaman adalah guru yang terbaik, tentu termasuk pengalaman dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Ketiga cara beguru untuk mempelajari kebenaran (dharma) ini sudah diajarkan dalam wejangan Bhagawad Gita yang agung itu. Oleh para leluhur kita di masa lalu dilahirkan istilah yang lebih sederhana agar memudahkan pemahaman umat pada zamannya. Maka dikenal istilah Tri Guru, Guru Swadhaya yaitu berguru kepada Tuhan sebagai Guru Sejati, Guru Pengajian yaitu berguru kepada guru di sekolah atau aguron-guron ke Nabe, dan Guru Wisesa yaitu berguru ke masyarakat. Belakangan semakin disempurnakan lagi menjadi Catur Guru dengan tambahan Guru Rupaka yaitu berguru ke orang tua. Kedua orang tua, ibu dan bapak, adalah guru yang tak pernah disadari keberadaannya karena berbaur dengan tugas rutin keseharian yaitu membesarkan anak.

Proses berguru atau proses melakukan pendidikan sebenarnya sudah sangat bagus di dalam ajaran Hindu. Tinggal kita kembangkan sesuai dengan kondisi zaman. 
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 30 Januari 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar