Yad yad acharati sreshthas, tad-tad eve ‘taro janah, sa yat pramanam kurute, lokas tad anuvartate.
SLOKA ini diambil dari Bhagawad Gita Percakapan III.21.
Arti bebasnya: apa saja yang dilakukan oleh para pemimpin dan orang-orang
besar, orang lain atau masyarakat banyak akan mengikutinya. Teladan apa pun
yang diberikannya seluruh dunia akan menurutinya.
Orang-orang besar dan para pemimpin seperti
ditakdirkan punya kelebihan untuk mengayomi masyarakat, membawa masyarakat ke
dalam kehidupan yang sejahtra. Para pemimpin menjadi penerang untuk menunjukkan
jalan yang benar kepada masyarakat. Para pemimpin menjadi teladan bagi
masyarakat. Apa pun yang mereka kerjakan pastilah bermanfaat baik bagi
masyarakat.
Karena tugasnya seperti itu pemimpin sering
dijadikan simbol atau mendapat predikat sebagai “orang yang terhormat” atau
dengan panggilan “yang mulia”. Presiden adalah simbol kepala negara yang akan
membawa masyarakat ke arah sejahtra. Fotonya dipajang di kantor-kantor. Kalau
fotonya dibakar, orang akan membelanya, karena itu berarti membakar simbol
negara.
Anggota DPR sebagai wakil rakyat dapat panggilan “yang
terhormat”. Karena mereka dipilih oleh banyak rakyat, mereka bertugas menentukan
anggaran negara, mereka membuat hukum agar masyarakat menjadi tenang dan damai.
Bayangkan kalau negeri tanpa hukum tak ada pedoman untuk kehidupan bersama.
Anggota DPR itu adalah manusia sangat terhormat yang kemudian saling membahu
dengan presiden untuk membawa masyarakat menuju sejahtra.
Hakim di pengadilan negeri, pengadilan tinggi maupun
pengadilan kasasi mendapat panggilan “yang mulia”. Karena mereka menegakkan
hukum tanpa pilih kasih, memberi keadilan yang betul-betul seimbang dan
keputusannya atas nama Tuhan.
Jadi, para pemimpin itu sudah menjadi “manusia
simbol” yang akan memberikan pengayoman dan teladan di masyarakat. Mereka harus
menjaga dirinya, menegakkan arti simbol pada dirinya, kalau tetap ingin dihormati.
Nah, apa yang terjadi saat ini? Sudah jauh panggang
dari api, sudah mulai keteladan itu dirusak sehingga “manusia simbol” itu sudah
jatuh harga dirinya. Anggota DPR bicara sambil membentak, menuding-nuding
pimpinan rapat sambil menyeruduk ke depan, bahkan merobohkan meja saat sidang berlangsung.
Apakah itu masih layak dalam kedudukan yang terhormat?
Hakim ada yang menjual-belikan hukum, menerima suap,
apakah itu masih bisa disebut “yang mulia”? Mereka bukannya menegakkan
keadilan, tetapi memperdagangkan keadilan. Mahasiswa rusuh saat aksi demo,
bahkan terjadi tawuran antar mahasiswa. Mereka tidak memberikan teladan
sehingga anak-anak SD pun ikut tawuran. Dalam dua hari ini ada berita hangat
bagaimana polisi dan tentara saling melepaskan tembakan di Batam. Bentrok antar
petugas keamanan, bagaimana masyarakat bisa aman kalau contoh yang diberikannya
buruk begitu?
Para pemimpin dan orang-orang yang berpendidikan seharusnya
memberi teladan kepada masyarakat. Kalau kelakuan mereka yang brengsek itu
ditonton lewat televisi, yang memang suka dan menanti adegan buruk, bagaimana
kita mengharapkan masyarakat santun? Negeri ini rusak karena keteladanan yang
berbudaya luhur tidak dilakukan oleh petinggi negeri. Jangan-jangan petinggi
negeri ini banyak yang tak tahu bagaimana keluhuran sopan santun di masa lalu. Kitab
Bhagawad Gita sudah memberikan pesan sejak ribuan tahun lalu lewat sloka di
atas.
Keteladanan itu sangatlah penting. Karena
orang-orang yang pendidikannya kurang, atau usia masih anak-anak, sangat suka
meniru tingkah laku para pemimpin yang dilihatnya di televisi. Atau kenyataan
yang disaksikannya di dalam rumah tangga, bercermin kepada orang tuanya. Kalau
orang tuanya suka bertengkar dengan kata-kata kasar, maka anak-anak pun akan
menirunya. Begitu pula sebaliknya. Kalau seorang pemimpin atau pemuka
masyarakat atau kita yang dituakan berprilaku bijak, sopan santun dijaga,
rendah hati, hidup sederhana, tidak serakah, rajin bersembahyang, maka
masyarakat akan menghormatinya dan meniru teladan baik itu.
Mari kita camkan sloka Bhagawad Gita di atas,
berbuat baik dan memberi teladan untuk kehidupan dunia yang lebih baik lagi.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 21 November 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar