23 November 2014

Berilah Teladan yang Baik


Yad yad acharati sreshthas, tad-tad eve ‘taro janah, sa yat pramanam kurute, lokas tad anuvartate.
SLOKA ini diambil dari Bhagawad Gita Percakapan III.21. Arti bebasnya: apa saja yang dilakukan oleh para pemimpin dan orang-orang besar, orang lain atau masyarakat banyak akan mengikutinya. Teladan apa pun yang diberikannya seluruh dunia akan menurutinya.

 Orang-orang besar dan para pemimpin seperti ditakdirkan punya kelebihan untuk mengayomi masyarakat, membawa masyarakat ke dalam kehidupan yang sejahtra. Para pemimpin menjadi penerang untuk menunjukkan jalan yang benar kepada masyarakat. Para pemimpin menjadi teladan bagi masyarakat. Apa pun yang mereka kerjakan pastilah bermanfaat baik bagi masyarakat. 

Karena tugasnya seperti itu pemimpin sering dijadikan simbol atau mendapat predikat sebagai “orang yang terhormat” atau dengan panggilan “yang mulia”. Presiden adalah simbol kepala negara yang akan membawa masyarakat ke arah sejahtra. Fotonya dipajang di kantor-kantor. Kalau fotonya dibakar, orang akan membelanya, karena itu berarti membakar simbol negara. 

Anggota DPR sebagai wakil rakyat dapat panggilan “yang terhormat”. Karena mereka dipilih oleh banyak rakyat, mereka bertugas menentukan anggaran negara, mereka membuat hukum agar masyarakat menjadi tenang dan damai. Bayangkan kalau negeri tanpa hukum tak ada pedoman untuk kehidupan bersama. Anggota DPR itu adalah manusia sangat terhormat yang kemudian saling membahu dengan presiden untuk membawa masyarakat menuju sejahtra.

Hakim di pengadilan negeri, pengadilan tinggi maupun pengadilan kasasi mendapat panggilan “yang mulia”. Karena mereka menegakkan hukum tanpa pilih kasih, memberi keadilan yang betul-betul seimbang dan keputusannya atas nama Tuhan.

Jadi, para pemimpin itu sudah menjadi “manusia simbol” yang akan memberikan pengayoman dan teladan di masyarakat. Mereka harus menjaga dirinya, menegakkan arti simbol pada dirinya, kalau tetap ingin dihormati.

Nah, apa yang terjadi saat ini? Sudah jauh panggang dari api, sudah mulai keteladan itu dirusak sehingga “manusia simbol” itu sudah jatuh harga dirinya. Anggota DPR bicara sambil membentak, menuding-nuding pimpinan rapat sambil menyeruduk ke depan, bahkan merobohkan meja saat sidang berlangsung. Apakah itu masih layak dalam kedudukan yang terhormat?

Hakim ada yang menjual-belikan hukum, menerima suap, apakah itu masih bisa disebut “yang mulia”? Mereka bukannya menegakkan keadilan, tetapi memperdagangkan keadilan. Mahasiswa rusuh saat aksi demo, bahkan terjadi tawuran antar mahasiswa. Mereka tidak memberikan teladan sehingga anak-anak SD pun ikut tawuran. Dalam dua hari ini ada berita hangat bagaimana polisi dan tentara saling melepaskan tembakan di Batam. Bentrok antar petugas keamanan, bagaimana masyarakat bisa aman kalau contoh yang diberikannya buruk begitu?

Para pemimpin dan orang-orang yang berpendidikan seharusnya memberi teladan kepada masyarakat. Kalau kelakuan mereka yang brengsek itu ditonton lewat televisi, yang memang suka dan menanti adegan buruk, bagaimana kita mengharapkan masyarakat santun? Negeri ini rusak karena keteladanan yang berbudaya luhur tidak dilakukan oleh petinggi negeri. Jangan-jangan petinggi negeri ini banyak yang tak tahu bagaimana keluhuran sopan santun di masa lalu. Kitab Bhagawad Gita sudah memberikan pesan sejak ribuan tahun lalu lewat sloka di atas.

Keteladanan itu sangatlah penting. Karena orang-orang yang pendidikannya kurang, atau usia masih anak-anak, sangat suka meniru tingkah laku para pemimpin yang dilihatnya di televisi. Atau kenyataan yang disaksikannya di dalam rumah tangga, bercermin kepada orang tuanya. Kalau orang tuanya suka bertengkar dengan kata-kata kasar, maka anak-anak pun akan menirunya. Begitu pula sebaliknya. Kalau seorang pemimpin atau pemuka masyarakat atau kita yang dituakan berprilaku bijak, sopan santun dijaga, rendah hati, hidup sederhana, tidak serakah, rajin bersembahyang, maka masyarakat akan menghormatinya dan meniru teladan baik itu.

Mari kita camkan sloka Bhagawad Gita di atas, berbuat baik dan memberi teladan untuk kehidupan dunia yang lebih baik lagi. 
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 21 November 2014)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar