30 November 2014

Jangan Kacaukan Pikiran Mereka


SABTU yang lalu telah kita bahas di ruang ini bagaimana seorang pemimpin harus memberi teladan yang benar, sesuatu yang sulit dilakukan di era ini. Sekarang mari kita lanjutkan dengan mengupas bagaimana pemimpin itu harus berbuat untuk mengajak masyarakat melaksanakan kewajibannya dengan baik, tetapi tidak mengacaukan pikiran dan perbuatan masyarakat itu.

Sumber sastra dalam rujukan ini tetap berpegang kepada Kitab Bhagawad Gita. Cobalah kita periksa  Bhagawad Gita III.26.  Bunyinya: na buddhi-bhedam janayed, ajnanam karma-sanginan, josayet sarva-karmani, vidvan yuktah samacaran.  Terjemahan bebasnya:  Orang-orang bijaksana (pemimpin) hendaknya tidak mengacaukan pemikiran orang-orang yang berada dalam kebodohan yang sangat terikat pada pahala dari perbuatan yang dilakukannya. Orang-orang bijaksana (pemimpin) hendaknya melaksanakan tugas kewajibannya dengan baik dan mengajak mereka untuk melaksanakan tugas kewajiban itu.

Memang, sloka ini banyak penafsirannya. Ada yang mengupasnya dari sisi spiritual atau menyangkut keyakinan yang harus dihormati. Jika penafsiran dibawa ke sini maka pesan yang disampaikan adalah mari kita menghormati apa pun keyakinan dan kepercayaan seseorang. Kita jangan sekali meremehkan keyakinan orang itu. Tetapi kita wajib untuk membantunya jika keyakinan itu untuk lebih mendekatkan diri dan mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Karena setiap simbol yang dipuja dalam keyakinan itu sebenarnya merupakan suatu proses untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi karena diselimuti “kebodohan” ada kemungkinan proses keyakinan itu dalam pengertian yang salah. Jadi tugas orang-orang bijaksana untuk memperbaiki dan mengarahkan orang-orang yang masih diselimuti “kebodohan” itu, tetapi tidak memaksa atau mentertawakan mereka.

Kata “kebodohan” ini mungkin juga tidak tepat karena itu ada di dalam tanpa petik. Karena jika yang dimaksudkan nyata-nyata bodoh tentu akan menjadi perdebatan, bodoh menurut  siapa? Orang-orang bijak tak akan segampang itu menuduh bodoh pada orang lain yang berbeda kepercayaan dan keyakinannya.
Jika sloka ini dikaitkan dengan masalah karma (perbuatan), maka penafsiran sedikit beda. Misalnya, janganlah mengusik apa pun yang dilakukan seseorang, termasuk mereka yang bekerja dengan masih terikat kepada hasil. Biarlah kesadaran sejati yang mengubah persepsi mereka. Tugas orang bijak adalah memberi teladankepada mereka, dengan demikian kesadaran mereka akan tumbuh dengan sendirinya setelah melihat teladan itu.

Contoh keseharian bisa lebih menjelaskan sloka ini, tentu dalam pengertiannya yang umum. Misalnya, seseorang menganggap bahwa judi itu adalah tidak menyimpang dari ajaran agama karena judi sudah ada sejak zaman purba. Misalnya disebutkan dalam ephos Mahabharata di mana kitab Bhagawad Gita ada di dalamnya, judi sudah dilakukan oleh Pandawa dan Kurawa. Kenapa sekarang tidak boleh dan disebut melanggar agama?

Nah, ini termasuk “kebodohan” dalam mengupas sebuah kisah Mahabharata yang oleh umat Hindu tergolong kitab Ithiasa. “Kebodohan” yang dimaksudkan adalah mereka tidak paham bahwa kitab Ithiasa itu berisi sesuluh untuk umat manusia, bahwa tindakan yang salah akan berakibat buruk. Pandawa berjudi, sudah tentu tindakan yang salah, apalagi sampai mempertaruhkan istrinya, seorang wanita terhormat. Karena perbuatan salah itu dilakukan maka hasilnya adalah keburukan, yakni Pandawa harus dihukum 12 tahun ke tengah hutan. Nah orang-orang bijaksana akan menerangkan kisah ini dengan mengatakan: wahai umat manusia, janganlah engkau berjudi karena berjudi melanggar agama dan berakibat buruk.

Contoh lain misalnya orang-orang bijak atau pemimpin akan memberikan imbauan kepada masyarakat agar sering-sering membaca kitab suci, termasuk misalnya membaca Bhagawad Gita. Tujuannya tentu untuk meresapi dan merenungkan apa yang tersirat di dalam wejangan antara Krishna dan Arjuna itu. Kalau pesan itu sudah diresapi maka laksanakan sebisa-bisanya. Jadi tujuan utama membaca kitab suci itu untuk mendapatkan anugrah Tuhan dan kita jadi hidup damai. Akan salah besar kalau orang bijak atau pemimpin mengajak masyarakat untuk membaca Bhagawad Gita dengan tujuan utama untuk menerima anugrah Muri, sementara intisari ajarannya tidak diresapi. 
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 28 November 2014)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar