SABTU yang lalu telah kita bahas di ruang ini bagaimana seorang pemimpin harus memberi teladan yang benar, sesuatu yang sulit dilakukan di era ini. Sekarang mari kita lanjutkan dengan mengupas bagaimana pemimpin itu harus berbuat untuk mengajak masyarakat melaksanakan kewajibannya dengan baik, tetapi tidak mengacaukan pikiran dan perbuatan masyarakat itu.
Sumber sastra dalam rujukan ini tetap berpegang
kepada Kitab Bhagawad Gita. Cobalah kita periksa Bhagawad Gita III.26. Bunyinya: na
buddhi-bhedam janayed, ajnanam karma-sanginan, josayet sarva-karmani, vidvan
yuktah samacaran. Terjemahan
bebasnya: Orang-orang bijaksana
(pemimpin) hendaknya tidak mengacaukan pemikiran orang-orang yang berada dalam
kebodohan yang sangat terikat pada pahala dari perbuatan yang dilakukannya.
Orang-orang bijaksana (pemimpin) hendaknya melaksanakan tugas kewajibannya
dengan baik dan mengajak mereka untuk melaksanakan tugas kewajiban itu.
Memang, sloka ini banyak penafsirannya. Ada yang
mengupasnya dari sisi spiritual atau menyangkut keyakinan yang harus dihormati.
Jika penafsiran dibawa ke sini maka pesan yang disampaikan adalah mari kita
menghormati apa pun keyakinan dan kepercayaan seseorang. Kita jangan sekali
meremehkan keyakinan orang itu. Tetapi kita wajib untuk membantunya jika
keyakinan itu untuk lebih mendekatkan diri dan mengenal Tuhan Yang Maha Esa.
Karena setiap simbol yang dipuja dalam keyakinan itu sebenarnya merupakan suatu
proses untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi karena diselimuti “kebodohan”
ada kemungkinan proses keyakinan itu dalam pengertian yang salah. Jadi tugas
orang-orang bijaksana untuk memperbaiki dan mengarahkan orang-orang yang masih
diselimuti “kebodohan” itu, tetapi tidak memaksa atau mentertawakan mereka.
Kata “kebodohan” ini mungkin juga tidak tepat karena
itu ada di dalam tanpa petik. Karena jika yang dimaksudkan nyata-nyata bodoh
tentu akan menjadi perdebatan, bodoh menurut siapa? Orang-orang bijak tak akan segampang itu
menuduh bodoh pada orang lain yang berbeda kepercayaan dan keyakinannya.
Jika sloka ini dikaitkan dengan masalah karma
(perbuatan), maka penafsiran sedikit beda. Misalnya, janganlah mengusik apa pun
yang dilakukan seseorang, termasuk mereka yang bekerja dengan masih terikat
kepada hasil. Biarlah kesadaran sejati yang mengubah persepsi mereka. Tugas
orang bijak adalah memberi teladankepada mereka, dengan demikian kesadaran
mereka akan tumbuh dengan sendirinya setelah melihat teladan itu.
Contoh keseharian bisa lebih menjelaskan sloka ini,
tentu dalam pengertiannya yang umum. Misalnya, seseorang menganggap bahwa judi
itu adalah tidak menyimpang dari ajaran agama karena judi sudah ada sejak zaman
purba. Misalnya disebutkan dalam ephos Mahabharata di mana kitab Bhagawad Gita
ada di dalamnya, judi sudah dilakukan oleh Pandawa dan Kurawa. Kenapa sekarang
tidak boleh dan disebut melanggar agama?
Nah, ini termasuk “kebodohan” dalam mengupas sebuah
kisah Mahabharata yang oleh umat Hindu tergolong kitab Ithiasa. “Kebodohan”
yang dimaksudkan adalah mereka tidak paham bahwa kitab Ithiasa itu berisi
sesuluh untuk umat manusia, bahwa tindakan yang salah akan berakibat buruk.
Pandawa berjudi, sudah tentu tindakan yang salah, apalagi sampai mempertaruhkan
istrinya, seorang wanita terhormat. Karena perbuatan salah itu dilakukan maka
hasilnya adalah keburukan, yakni Pandawa harus dihukum 12 tahun ke tengah
hutan. Nah orang-orang bijaksana akan menerangkan kisah ini dengan mengatakan:
wahai umat manusia, janganlah engkau berjudi karena berjudi melanggar agama dan
berakibat buruk.
Contoh lain misalnya orang-orang bijak atau pemimpin
akan memberikan imbauan kepada masyarakat agar sering-sering membaca kitab
suci, termasuk misalnya membaca Bhagawad Gita. Tujuannya tentu untuk meresapi
dan merenungkan apa yang tersirat di dalam wejangan antara Krishna dan Arjuna
itu. Kalau pesan itu sudah diresapi maka laksanakan sebisa-bisanya. Jadi tujuan
utama membaca kitab suci itu untuk mendapatkan anugrah Tuhan dan kita jadi hidup
damai. Akan salah besar kalau orang bijak atau pemimpin mengajak masyarakat
untuk membaca Bhagawad Gita dengan tujuan utama untuk menerima anugrah Muri, sementara
intisari ajarannya tidak diresapi.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 28 November 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar