MEDITASI sudah tidak asing lagi di kalangan umat Hindu. Bahkan di agama apapun meditasi itu ada dengan berbagai teknik dan juga berbagai nama. Sumber-sumber meditasi ada di berbagai kitab. Di kitab Bhagawad Gita ada terkumpul sejumlah sloka tentang meditasi melalui percakapan ke enam Sri Krishna kepada Arjuna. Di kitab-kitab purana pun ada. Bahkan Rsi Patanjali dalam uraiannya tentang Astangga Yoga menempatkan meditasi dalam suatu bahasan (tangga) khusus dari delapan bahasan itu.
Teknik meditasi pun sudah begitu beragam. Masing-masing
keluar dengan nama kelompok atau nama aliran yang disesuaikan dengan tekniknya.
Ada Meditasi Cahaya, Meditasi Angka, Meditasi Usada dan banyak lagi. Ada yang
mengharuskan untuk duduk bersila, ada yang boleh duduk di kursi, ada yang
terlentang tidur, ada yang membebaskan sikap duduk yang penting santai
(rileks). Begitu pula alat konsentrasi, ada yang memakai cahaya misalnya
menyalakan lilin atau dupa, ada yang cuma membayangkan angka, ada yang menatap
gambar atau patung (pratima) dan sejenisnya.
Nah, bagaimana menurut kitab Bhagawad Gita? Karena
kitab ini disebut sebagai Pancamo Weda (Weda yang ke lima) maka ada yang
bersikukuh inilah sumber meditasi yang pokok. Terlepas dari keyakinan apakah
itu sumber yang pokok atau bukan, mari kita lihat bagaimana meditasi menurut
kitab itu.
Pada BG VI.11 ada sloka yang berbunyi: sucau dese pratisthapya, sthiram asanam
atmanah, naty ucchitam nati nicam, cailajina kusottaram. Terjemahan
bebasnya: Pilihlah tempat yang bersih dan suci lalu bentangkanlah asana yang terbuat dari rumput suci kusa
dan kulit menjangan di atas tanah, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.
Tempat suci dan bersih dalam sloka ini awalnya banyak
diartikan sebagai alam. Dengan demikian maka di pinggir sungai, di gunung, di
dekat danau bahkan di dalam goa, adalah tempat yang baik. Di masa lalu inilah
tempat yang dianggap suci. Dalam peradaban selanjutnya maka taman yang asri dan
lingkungan tempat suci pura menjadi pilihan yang lain. Di era moderen maka
“alam” itu dipindahkan atau dibuatkan duplikatnya di rumah-rumah keluarga maka
dikenal misalnya kamar suci yang khusus
untuk meditasi. Persyaratan penting adalah tempat itu aman, baik dari gangguan
binatang berbisa atau dari bahaya lain seperti longsor, kejatuhan ranting pohon
dan sebagainya.
Harus ada alas untuk duduk (asana) dan itu sebaiknya dari kusa sejenis rumput yang di Bali
mirip seperti alang-alang. Letak kusa paling bawah dan di atasnya ada kulit
menjangan. Di atas itu baru kain. Atau kusa dan kulit menjangan ini dibungkus
oleh kain seutuhnya. Dalam BG tidak disebutkan bagaimana cara mendapatkan kulit
menjangan itu, namun dalam kitab lain dan juga setelah berbagai ajaran
dipadukan ada semacam kesimpulan bahwa kulit menjangan itu didapat dari cara
yang bukan membunuh menjangan itu. Jadi, dicari kulit menjangan yang
binatangnya mati secara alami. Dalam praktek hal ini menjadi sulit ditemukan.
Tentu saja tempat duduk dari kusa dan kulit
menjangan itu bukan suatu keharusan. Keutamaan dalam ajaran Hindu bukan berarti
keharusan, karena ada tingkat-tingkat seperti utamaning utama, utamaning madya dan utamaning kanista. Dalam hal ini sekedar alas yang cukup tebal bisa
dijadikan dasar untuk duduk bermeditasi. Sekarang ini kebanyakan dipakai matras
dari busa atau dari kapuk seperti bahan kasur tempat tidur.
Lalu apa yang dilakukan setelah mempersiapkan tempat
duduk? Pada sloka BG VI.12 disebutkan: “Di situlah duduk secara tegak di
tempatnya, mengarahkan pikiran pada suatu titik dan mengekang pikiran dan
indriya. Lakukan yoga demi kesucian dan pembersihan jiwa.”
Mengarahkan pikiran pada suatu titik ini bisa
dilalui dengan proses konsentrasi dan di situlah diperlukan alat untuk
konsentrasi. Jika di dalam kamar suci alat konsentrasi itu bisa gambar, bisa
patung atau pratima, bisa nyala lilin atau dupa. Bisa juga cahaya lain. Di kalangan
pengikut Meditasi Angka alat konsentrasi itu berupa angka yang sudah dipilih
dan “disucikan” oleh sang guru. Tetapi semua ini adalah alat kalau seseorang
sudah terlatih “mengarahkan pikiran pada suatu titik” tak membutuhkan alat
untuk konsentrasi.
Pada kesempatan lain akan dilanjutkan dengan sikap
dan apa yang perlu “dibangkitkan” dalam meditasi menurut Bhagawad Gita.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 6 September 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar